Kekayaan Alam, Pemerintah

Kandidat Doktor Ungkap Kemiskinan Parah di Raja Ampat in Papua Barat 24 Oktober 2016 0

FB_IMG_1477966372080.jpg
Gambar generasi penerus raja 4/papua dalam kemiskinan(Foto:jubi)

JAYAPURA,LimbarUPm.com— Asmiati Malik, seorang kandidat doktor dari Birmigham University mengungkapkan adanya kemiskinan yang sangat memprihatinkan dibalik masyurnya Raja Ampat, lokasi diving paling terkenal di dunia.
Selama Asmiyati melakukan riset doktoralnya di Raja Ampat, ia tinggal di Kepulauan Mainyafun, berjarak 4 jam menggunakan kapal motor dari pulau Waisai. Mainyafun dihuni oleh 55 keluarga. Masing-masing keluarga memiliki 9-12 anggota keluarga.
Asmiyati, mengatakan risetnya mengkonfirmasi 20 persen dari 45.000 jiwa penduduk Raja Ampat hidup di bawah garis kemiskinan.
“Mereka ini tidak punya akses ke pendidikan, layanan kesehatan dan pasar,” kata Asmiyati mengenai kesimpulan risetnya, seperti ddikutip LBR, Minggu (23/10).
Selain itu, lanjutnya, data 2015 menunjukkan rata-rata sebuah keluarga dengan empat hingga lima anggota keluarga menghabiskan lebih dari 800 ribu rupiah untuk makanan dan kebutuhan lainnya. Angka ini lebih tinggi 10 persen dari rata-rata nasional yang disebabkan oleh tingginya biaya hidup di kepulauan ini.

Mainyafun, seperti beberapa tempat lainnya di Raja Ampat tidak punya sumber pengolahan air bersih. Air bersih didatangkan dari Waisai, pulau dimana banyak elit lokal dan pemilik cottage tinggal.
“Kadang-kadang air didatangkan dua kali dalam sebulan, bahkan bisa sekali dalam dua bulang,” kata Asmiyati.
Masyarakat setempat kadang mengkonsumsi air hujan. Walaupun ada air yang dialirkan dari gunung ke pusat kampung namun air itu mengandung mineral yang sangat tinggi.
“Tak ada listrik dan sinyal telepon. Sebagian besar penduduk di Kepulauan Mainyafun mengatakan pendidikan adalah hal yang sangat mewah. Mereka hanya sanggup sekolah hingga tamat Sekolah Dasar yang secara kebetulan menjadi satu-satunya level sekolah yang tersedia,” lanjut Asmiyati.
Jika mereka ingin melanjutkan sekolah, mereka harus pergi ke Waisai. Perjalanan ke Waisai membutuhkan biaya lebih dari satu juta rupiah sekali jalan.
“Empat jam naik perahu fiber dari Mainyafun. Kadang tidak ada peralatan keselamatan,” ujar Asmiyati.
Sementara itu masyarakat adat Raja Ampat mendesak pemerintah setempat menelurkan aturan daerah yang memberikan tempat bagi masyarakat adat untuk mendapatkan manfaat ekonomi yang berarti, dari penetapan daerah tersebut sebagai lokasi destinasi wisata.
Berkaca pada Pulau Dewata Bali, masyarakat adat Raja Ampat menegaskan sudah saatnya pemerintah menempatkan mereka secara layak dalam rantai destinasi wisata, sama seperti yang diterapkan pemerintah Bali.
Sekretaris Dewan Adat Matanagi Waigeo Raja Ampat Simson Sanoy mengatakan, di Bali lembaga adat masyarakat sangat dihargai. Pemerintah Bali menurutnya memberikan kesempatan kepada masyarakat adat untuk ikut mengelola potensi wisata secara bersama-sama.
“Di Bali masyarakat adat dan pemerintah sama-sama mengelola (destinasi wisata). Hubungan masyarakat adat yang baik dengan pemerintah membuat pengunjung merasa aman dan nyaman selama berkunjung,” kata Simson Minggu (23/10).
Rasa aman dan nyaman yang dimaksud Simson di Raja Ampat adalah pengunjung tidak merasa takut akan ancaman pemalangan pada lokasi atau kawasan tertentu.
Simson mencontohkan kasus pemalangan Pulau Wayag yang terjadi pada tahun 2015. Saat itu pemilik ulayat dinilai tidak mendapatkan hasil dari kunjungan wisata ke Pulau Wayag padahal masyarakat adat adalah pemilik pulau tersebut.
“Kita lihat Pulau Wayag, orang-orang datang untuk berkunjung, tapi feenya (keuntungan ekonomi) masuk ke siapa? Trus yang jadi korban itu pemilik ulayat, ini yang menjadi persoalan,” tegas Simson.
Simson berharap Pemerintah Kabupaten Raja Ampat bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Raja Ampat dapat membuat Perda tentang lembaga adat di Raja Ampat.
“Pemerintah harus membuka diri dan membuat Perda tentang masyarakat adat, supaya kami masyarakat adat merasa diperdulikan dalam berbagai hal, baik itu pembangunan maupun pengambilan kebijakan,” ujar Simson. (JUBI/NSR)

Sumber:Tabloidjubi.com

Destinasi Wisata, Kekayaan Alam, Pemerintah

Kemenpar Promosikan MICE di Las Vegas

Seorang wisatawan tengah menikmati keindahan kehidupan bawah laut. Indonesia memang dikenal memiliki potensi wisata bahari yang tinggi (ilustrasi)
Seorang wisatawan tengah menikmati keindahan kehidupan bawah laut (Ilustrasi)

LBRm, JAKARTA — Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus melakoni strategi mendatangkan wisatawan Untuk lebih memperkenalkan destinasi wisata industri meetings, incentives, conferences, exhibitions (MICE) di Indonesia. Kini giliran Amerika Serikat yang akan disambangi Kementerian di bawah komando Arief Yahya itu. Kemenpar mengundang 9 pelaku industri pariwisata yang aktif di MICE itu untuk mengikuti kegiatan IMEX 2016 yang merupakan event pameran MICE business to business terbesar di benua Amerika yang dilaksanakan pada 18 hingga 20 Oktober 2016 di Las Vegas, Amerika serikat.

”Ini kami lakukan lagi karena pentingnya Industri MICE terhadap perekonomian suatu negara membuat setiap negara berlomba-lomba  mendatangkan wisatawan bisnis (Business Traveler) untuk mengadakan meeting, pameran maupun perjalanan insentif di negara tersebut, demikian halnya Indonesia. Kita harus lakukan ini untuk Pariwisata Indonesia,” ujar Nia Niscaya, Asisten Deputi Pengembangan pasar Eropa, Timur Tengah, Amerika dan Afrika Kemenpar.

Nia mengatakan, wisatawan yang datang untuk tujuan MICE memiliki kelebihan dibanding wisatawan biasa, yaitu mereka umumnya adalah opinion leader yang berasal dari kalangan pengusaha, profesional maupun pemerintah yang melakukan kegiatan pada saat low-season.

“Data dari International Congress and Convention Association (ICCA,Red) menunjukkan bahwa mereka datang dalam jumlah besar, dengan tingkat pengeluaran selama berada di destinasi tuan rumah kegiatan MICE Adalah 7 kali lipat dari wisatawan biasa  atau yang biasa dipanggil Leisure Traveler dan wisatawan MICE juga berpotensi untuk berkonversi menjadi wisatawan Leisure,” ujar dia.

Pada perhelatan tersebut,  Kemenpar menarik para pengunjung pameran di Paviliun Indonesia dengan  snack, kopi khas Indonesia dan dapat berfoto dengan branding Wonderful Indonesia serta kostum karnaval. “Tentu saja kita mengedepankan 10 destinasi prioritas yang telah dicanangkan pemerintah yakni Bali-Bali baru,” ujar wanita kelahiran Bandung itu.

Nia menilai MICE juga sangat berdampak positif bagi unsur lain. Diantaranya adalah naiknya citra destinasi karena wisatawan MICE pada umumnya adalah CEO perusahaan, maka kekuatan word-of-mouth dari mereka tentang destinasi akan memberi dampak yang lebih kuat dalam promosi. ”Hal tersebut telah disadari oleh banyak negara menyebabkan persaingan antar destinasi dalam mendatangakan even MICE international menjadi sangat tinggi,” ujar dia.

Nia menambahkan, Kemenpar  manargetkan pertumbuhan industri MICE sepuluh persen pada tahun 2019. Upaya tersebut sudah harus dimulai dari sekarang hingga tahun pencapaian. Kemenpar berharap dengan mengikuti pameran tersebut, membuat target Indonesia sebagai destinasi MICE terwujud.

Sekadar informasi, data ICCA 2014 menempatkan Indonesia di ranking ke-42 dunia dengan 76 meetings. Singapore di peringkat 29 dengan 142 meetings, Malaysia papan 30 dengan 133 meetings, dan Thailand no 33 dengan 118 meetings. ”Maka dari itu kita harus terus genjot salah satunya dengan mengikuti even IMEX di Las Vegas,” katanya.

Destinasi Wisata, Kekayaan Alam, Masyarakat

10 Keunikan yang Hanya Ada di Tanah Papua Dan Membuatmu Rindu Untuk Kembali ke Sana

Tanah Papua, wilayah di ufuk timur yang sering disebut Mutiara Hitam ini memang selalu ada di dalam hatimu. Sejauh apa pun kamu pergi, jika ingat pasti ada hasrat ingin kembali. Papua juga menyimpan segudang keunikan yang hanya bisa kamu temui di sana.

Pantas saja kalau meskipun kamu sudah pergi jauh hatimu masih tertambat di kenangan indah akan Papua. Apalagi kalau 10 hal ini yang hinggap dalam memorimu.

1. Kamu bakal kangen logat istimewa khas Indonesia Timur yang selalu membuat orang kagum mendengarnya.

Orang:Bah,mau cari alamat saja susah sampe…Di sorong,tinggal bilang nama biasanya su dapat..Kamu:Sobat,ko dari papua juga kah?mau pigi  cari alamat ke mana,sa bantu..

Hal pertama yang kamu sadari berbeda ketika meninggalkan suatu daerah adalah logat bahasanya. Seperti kita ketahui Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari ribuan suku dan bangsa, jadi wajar kalau setiap daerah–termasuk Papua–juga punya sisi khas tersendiri dari segi bahasa.

Kalau sebelumnya kamu terbiasa mendengar dialog-dialog dengan logat timur kental mungkin sekarang setelah tak lagi tinggal di Papua, keadaanya sudah berbeda. Kamu mungkn lebih banyak mendengar bahasa Indonesia biasa tanpa logat, seperti orang-orang di ibukota.

Sekalinya kamu bertemu orang yang masih memiliki logat Papua di lingkunganmu yang baru, atau di televisi–seperti yang sering dipakai parastand up comedian asal Indonesia Timur–kamu jadi merasakan nostalgia dan kembali bicara dengan dialek khas Papua itu.

2. Makanan khas Papua memang super unik baik dari segi tampilan maupun rasa!

Kulinernya yang khas juga bikin kamu kangen berkunjung kembali ke Papua. Meskipun memang bisa dibuat replikanya di mana saja, namun tetap saja ada sedikit cita rasa yang berbeda dengan kalau makan yang asli Papua.

Misalnya sagu yang dipakai buat memasak papeda, kalau di luar Papua rata-rata sudah diproses menjadi tepung sagu. Sementara di Papua masih dalam bentuk sagu basah segar yang diambil dari pohon, sehingga rasanya sedikit berbeda. Begitu pula dengan hasil laut yang rasanya manis, segar dan besar-besar. Wajar kalau banyak restoran seafood mahal di ibukota yang bela-belain ‘impor’ seafood dari laut timur, karena rasanya memang beda. Teknik memasak yang unik juga susah ditirukan, seperti barapen yang dimasak dengan batu alam yang membara.

Ada juga yang memang rada sulit didapatkan di tempat lain, seperti misalnya ulat sagu. Mungkin ada, tapi nggak dianggap sebagai makanan di daerah lain, sehingga sulit bagimu untuk menemukannya hehehe.

3. Di Papua, semua orang bisa naik “TAXI” lho! Jang ko salah!

Teman: Nanti kamu sampai Bandara Frans Kaisiepo ke rumah kerabatmu naik apa? Katamu masih jauh jaraknya?

Kamu: Ah, kacupling! Naik taksi aja.

Teman: Hah?! Gak mahal tuh nanti?

Kamu: Sa dari kecil su naik taksi ke mana-mana, ke sekolah juga naik taksi. Ko tenang saja!

Teman-teman kamu mungkin heran mendengar ceritamu yang enteng banget bilang taksi ada di mana-mana dan bisa kamu naiki dengan mudah meskipun kamu masih anak sekolahan. Karena di tempat lain seperti ibukota, taksi idientik dengan angkutan umum mahal yang tarif argonya selangit. Kalau di Papua sih, angkot itulah yang kamu sebut taksi. Keren juga ya kedengarannya.

4. Alam yang luar biasa asri dan membuatmu betah bermain-main di udara terbuka memang belum ada tandingannya.

Kurangnya lahan yang enak buat bermain bisa jadi juga merupakan alah satu kendala anak jaman sekarang malas bermain di luar. Akhirnya mereka memilih kerajingan game atau televisi di dalam rumah.

Sementara itu di Papua, masih banyak hamparan alam yang bersih dan asri. Laut yang indah, gunung dan lembah yang permai. Pantas jika anak-anak tidak enggan bermain di alam bebas. Seingat saya, meskipun dulu punya televisi dan banyak mainan, saya tetap sangat suka bermain di udara terbuka. Begitu pun dengan teman-teman saya. Karena nggak rugi bermain di alam yang asri dan indah. Badan juga lebih sehat rasanya. Apakah kamu juga merasakan hal yang sama?

5. Flora dan fauna istimewa yang hanya bisa ditemukan di Papua juga bikin rindu!

Setiap wilayah geografis ternyata punya hewan dan tanaman khasnya masing-masing. Begitu pula Papua yang masuk wilayah “New Guinea” dalam penyebaran hewan dan tanamannya. Sehingga flora dan fauna yang khas di sana serupa dengan yang ada di Papua New Guinea dan Australia.

Burung-burung eksotis dengan bulu indah seperti Cenderawasih atau Nuri, hewan-hewan mamalia dengan kantung seperti kangguru atau kuskus, tanaman-tanaman langka seperti paku dan anggrek macan adalah kekayaan alam khas Papua yang nggak mudah kamu temukan di daerah-daerah lain. Oh jangan lupa soa-soa-nya!

6. Masih ingat nggak waktu zaman sekolah kamu belajar Tari Yospan yang eksotis sebagai muatan lokal?

Yospan adalah kepanjangan dari Yosim Pancar. Tarian ini merupakan salah satu tarian khas Papua yang menggambarkan persahabatan dan kerap dilakukan oleh para muda-mudi di sana. Kalau kamu sempat bersekolah di sana, kamu pasti tahu deh dengan tarian eksotis ini.

Kostum yang dipakai saat menari yospan juga istimewa, menambah keindahan gerakan-gerakannya yang penuh semangat. Tarian yospan sering dipakai untuk menyambut tamu, event-event khusus atau sekadar untuk acara pershabatan. Gerakannya menyehatkan seperti olahraga… pantas waktu jaman sekolah dulu kita disuruh menari yospan terus e!

7. Hanya di Papua kamu terbiasa mencairkan suasana dengan saling bertukar cerita MOP.

“Be, kam dengar. Sa pu cerita mop ini… Suatu ari to, Markus pi ke sekolah…”

Setelah pergi dari Papua, kamu baru sadar kalau kebiasaan menceritakan lelucon atau anekdot lucu seperti ini hanya pernah kamu temui waktu di Papua saja. Cerita mop adalah salah satu hal yang kamu tunggu-tunggu ketika berkumpul dengan teman-temanmu dulu. Ada masanya kalian berkumpul hanya untuk saling bertukar cerita jenaka yang sudah dikemas sedemikian rupa teknikstory telling-nya sehingga terdengar lebih mengundang tawa lagi. Mirip-mirip dengan stand up comedy.

Kalau kamu perhatikan, orang-orang di negara-negara barat seperti Amerika juga punya kebiasaan yang serupa. Mereka mengumpulkan cerita lucu atau joke untuk diceritakan kepada teman-temannya guna mencairkan suasana. Mungkin kamu bisa mengobati rindumu akan cerita mop dengan nonton video Epen Cupen di youtube.

8. Mungkin kamu juga masih ingat dengan kisah cinta pertamamu yang tertinggal di sana?

Papua juga bisa menjadi tempat pertama kamu jatuh cinta. Kepada siapa? Mungkin kamu sudah lupa parasnya. Mungkin tidak ingat namanya. Tapi rasanya pasti kamu ingat selamanya kan? Sehingga kembali ke sana pasti akan memberikan sejuta nostalgia di dalam dadamu.

Atau mungkin ‘dia’ masih ada di sana? Menunggumu untuk kembali ke tanah Papua?

9. Perjalanan jauh dan sulit untuk mencapai tempat yang indah pantas dihubungkan dengan perjalananmu menuju Pulau Cendrawasih ini.

“Kalian nggak pernah kan ngerasain naik pesawat barengan sama tumpukan beras atau mobil? Duduk di atas koper sendiri. Atau tidur di koridor kapal berhari-hari hahaha”

 

Dari pulau Jawa (saja), kamu butuh 7 hari 7 malam untuk sampai di Papua dengan Kapal PELNI. Ada pun tempat-tempat yang tak terjangkau transportasi laut, harus ditempuh dengan perjalanan udara yang membutuhkan beberapa kali transit. Tapi justru di situ seninya. Perjuanganmu di perjalanan menuju Pulau Cendrawasih menambah daftar pengalaman seru yang bisa kamu ceritakan dengan teman-temanmu yang lain.

10. Keramahtamahan para penduduk dan kedamaian yang tercipta saat hidup berdampingan meskipun berbeda SARA menjadi kenangan yang begitu indah.

Di Papua lah kamu merasakan bukti nyata dari semboyan Bhineka Tunggal Ika. Memang tidak bisa dipungkiri, beberapa kali pasti ada saja isu politik dan SARA yang mencuat ke permukaan. Namun sebenarnya warga Papua penuh toleransi dan mampu hidup berdampingan dengan damai. Teman-temanmu berasal dari berbagai suku dan agama. Kamu tidak lagi berpikir eksklusif tentang golonganmu lagi. Semua berbaur dan mencoba saling mengerti, itu yang selalu kamu ingat tentang Papua.

Banyak pujian dan kekaguman
Budaya dan alammu
Kamu dan aku sama-sama cinta
Cinta padamu Papuaku

Dengan segudang keunikannya ini, pantas Papua selalu ada di hati meskipun kamu sudah pergi jauh sekali. Semoga kamu masih diberi kesempatan untuk kembali dan menikmati kecantikan bumi Papua lagi.

Destinasi Wisata, Kekayaan Alam, Umum

Kemiskinan Parah di Balik Dahsyatnya Promosi Raja Ampat

Sebuah rumah penduduk di Raja Ampat.(Foto: Adam Howarth/Flickr,CC BY-NC-ND
JAKARTA,LBRm.– Di balik promosi dahsyat tujuan wisata Raja Ampat di Papua, terdapat kemiskinan parah dan rakyat yang merasa ditinggalkan. Ini dikatakan oleh Asmiati Malik, kandidat doktor di University of Birmingham, Inggris, berdasarkan kunjungan untuk penelitiannya ke Raja Ampat belum lama ini.

Menulis di The Conversation, sebuah media online yang mengkombinasikan laporan akademis dengan gaya jurnalistik, Asmiati membandingkan demikian gegap gempitanya promosi pariwisata tentang Raja Ampat secara global dengan tak banyaknya yang mengetahui bahwa rakyat di sana hidup dalam tingkat kemiskinan yang parah, terasing dan merasa ditinggalkan.

Dahsyatnya pariwisata Raja Ampat dapat terlihat  sampai ke Time Square di New York. Sepanjang Oktober, sebuah billboard besar dengan gambar pemandangan di Raja Ampat digelar, dengan tagline, “escape to a magical place.” Daya tarik gambar itu, menurut Asmiati, menyembunyikan kemiskinan masyarakat yang tinggal di pulau-pulau di Raja Ampat.

Billboard besar si Time Square yang menggambarkan keindahan Raja Ampat,akan ditampilkan sepanjang bulan oktober Foto:Kompas

Bagi yang belum akrab dengan destinasi wisata ini, Raja Ampat adalah sebuah gugusan pulau-pulau di  semenanjung Kepala Burung Papua Barat. Ia merupakan salah satu tempat menyelam terbaik di dunia. Ikan tropis warna-warni dapat terlihat dengan mata telanjang di lingkungan lautnya yang masih murni dengan keanekaragaman hayati yang masih alami.

Namun, bila bagi para wisatawan ia merupakan surga dunia,  bagi 20 persen dari 45.000 penduduknya, kemiskinan dan ketertinggalan adalah kehidupan sehari-hari. Menurut Asmiati, akses mereka sangat terbatas terhadap kesehatan, pendidikan, dan pasar.

Asmiati mengutip data tahun 2015, yang mengatakan empat dari tiap lima rumah tangga di Raja Ampat menghabiskan rata-rata US $ 65 per bulan hanya untuk makanan dan barang konsumsi lainnya. Itu 10 persen lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Penyebabnya, biaya hidup di pulau-pulau itu  begitu tinggi.

Jauh Dari Mana-mana

Dibutuhkan sekitar delapan jam untuk mencapai Raja Ampat dari Jakarta. Dari Sorong, sebuah perjalanan dengan feri diperlukan untuk sampai ke pulau Waigeo, salah satu dari empat pulau utama dari 1.800 pulau di Raja Ampat.

Waisai, ibukota Raja Ampat, terletak di Waigeo, pulau terbesar dalam gugusan pulau-pulau itu Di sana ada beberapa  cottage, sebagian besar dimiliki oleh elit lokal. Sebagian besar kegiatan pemerintahan dan administrasi Raja Ampat juga berpusat di Waisai. Namun populasinya tersebar di banyak pulau-pulau.

Seorang pekerja kesehatan berusaha untuk mendapatkan sinyal bagi ponselnya (Foto:Asmiati Malik)

Pada bulan April 2016, Asmiati tinggal  di pulau Mainyafun, empat jam dengan perahu dari Waisai untuk penelitian doktoralnya. Mainyafun dihuni 55 rumah tangga, dengan masing-masing keluarga memiliki antara sembilan dan 12 anggota keluarga.

Asmiati menulis, bahwa seperti di banyak kota di Raja Ampat, Mainyafun tidak memiliki fasilitas pengolahan air. Air bersih untuk minum diangkut dari Waisai, dua kali sebulan atau dua bulan sekali tergantung pada musim. Penduduk desa juga mengumpulkan air hujan untuk minum. Air dari gunung disalurkan ke pusat desa, tetapi memiliki kandungan mineral yang sangat tinggi.

Lebih jauh, menurut laporan Asmiati, tidak ada listrik dan tidak ada sinyal telepon. Kebanyakan orang menyebut pendidikan sebagai “barang bergengsi”, dan hanya belajar untuk sampai tamat sekolah dasar. Itu lah sekolah tertinggi yang tersedia di desa itu.

Untuk melanjutkan sekolah di luar tingkat SD, siswa di Manyaifun harus pergi ke Waisai. Perjalanan memakan biaya US $ 100 atau Rp 130 ribu dengan perahu   fiberglass yang sering tanpa peralatan keselamatan.

Hidup Tekor

Berada di daerah yang melimpah dengan ikan, kebanyakan penduduk di pulau ini mencari nafkah sebagai nelayan. Tapi banyak dari mereka masih hidup dalam kemiskinan ekstrem. Sebagian besar keluarga memiliki utang kepada pemilik toko kecil penjual barang kebutuhan pokok di sana.

Harga  ikan yang mereka jual sangat rendah sehingga bahkan jika mereka menangkap sepuluh kilogram setiap hari, mereka masih kehilangan uang. Nelayan membutuhkan lima liter bahan bakar per hari untuk mengoperasikan perahu kecil mereka. Tapi bahan bakar langka dan sangat mahal, dan lima liter biaya Rp 162 ribu.

Nelayan menjual ke pengepul di Mainyafun yang memprosesnya menjadi ikan asin. Harga jual maksimal di Mainyafun adalah US Rp 2.600 per kg, jadi sepuluh kg ikan mendapat sekitar Rp 26 ribu. Setelah biaya bahan bakar, mereka akan merugi Rp 136 ribu

Harga ikan di Waisai sepuluh kali lebih tinggi, dan 20 kali lebih tinggi di Sorong. Tapi nelayan di Mainyafun harus menjual ikan mereka langsung karena tidak ada listrik untuk cold storage.

Orang perlu kapal yang lebih besar, bahan bakar yang lebih murah dan akses ke pasar Waisai atau Sorong untuk mendapatkan harga yang lebih baik bagi ikan mereka. Tapi perahu yang layak dengan mesin yang dapat membawa volume yang lebih besar  ikan perlu biaya Rp 130 juta yang tidak mungkin bagi mereka untuk membelinya.

Tak Ada Pemerintah

Ada sebuah puskesmas kecil di Manyaifun. Satu dokter dan empat perawat yang bekerja di sana melayani tujuh kecamatan yang tersebar di pulau-pulau tetangga.

Banyak pasien mereka adalah nelayan yang meninggalkan rumah mereka pukul lima pagi dan kembali pada pukul lima sore. Petugas kesehatan harus siaga sepanjang waktu.

Masalah yang paling umum adalah malaria, infeksi kulit dan penyakit pernapasan. Kematian saat melahirkan adalah umum bagi wanita. Hanya obat-obatan dasar dan generik yang tersedia di klinik, dan kadang-kadang persediaan langka.

Hidup di sebuah pulau terpencil tanpa sinyal telepon membahayakan baik petugas kesehatan dan orang-orang yang mereka layani. Pasien yang memerlukan perawatan darurat, seperti malaria kronis, sering akhirnya meninggal. Satu-satunya rumah sakit dengan peralatan yang layak berada di daratan Kota Sorong, 135 kilometer jauhnya.

Para pekerja kesehatan kadang-kadang harus pergi ke pulau-pulau untuk keadaan darurat kesehatan dengan memakai kapal kecil tetangga. Mereka harus mengabaikan fakta bahwa kadang-kadang ombak mencapai hingga tiga meter. Ini lebih buruk jika mereka harus pergi di malam hari karena tidak ada alat navigasi modern atau informasi tentang cuaca yang dapat diharapkan.

Petugas kesehatan hanya mampu menemui keluarga mereka sekali atau dua kali setahun. Sebagian besar mereka berasal dari Sorong dan Sulawesi Selatan, yang 1.532 kilometer jauhnya. Menurut Asmiati, gaji pokok pekerja kesehatan atau pegawai kontrak  di sana lebih kurang Rp 2 juta sebulan, gaji yang hampir sama di seluruh Indonesia. Namun, jumlah itu sangat kecil bila dibandingkan dengan tuntutan tugas pekerja kesehatan di Manyaifun, yang acap kali pula terlambat dibayar.

Sementara itu, Indonesia mempromosikan Raja Ampat ke dunia dengan dahsyatnya. Pada saat yang sama masyarakat setempat dan petugas kesehatan merasa ditinggalkan. Mereka jarang melihat para pejabat pemerintah di daerah mereka. Menurut wawancara Asmiati dengan dokter setempat dan perawat, birokrat di Waisai, terutama dari badan kesehatan, tidak peduli tentang kehidupan, keselamatan atau kebutuhan emosional mereka.

Para pejabat pemerintah daerah, menurut Asmiati dalam wawancara, mengatakan bahwa mereka mencoba untuk meningkatkan kesejahteraan dengan mengajar orang bagaimana membangun homestay bagi wisatawan dan bagaimana untuk mempromosikan secara online. Tapi penduduk setempat dan petugas kesehatan mengatakan mereka belum pernah bertemu pejabat yang telah mengunjungi daerah mereka.

Menurut Asmiati, kemiskinan di Raja Ampat adalah refleksi dari peran penting  negara dalam proses pembangunan. Hanya melalui perhatian yang layak dari elit di Raja Ampat, dan pengawasan dari pemerintah pusat, perubahan dapat tiba kepada orang-orang miskin di daerah. Sebelum itu terjadi, Indonesia mungkin perlu berpikir dua kali tentang iklan Raja Ampat sebagai surga di Bumi.

Editor :Melqy s w

Sumber:Satu harapan.com

Destinasi Wisata, Kekayaan Alam

10 Tempat Wisata di Nusa Tenggara Timur

10 Tempat wisata di Nusa Tenggara Timur yang baiknya kamu kunjungi minimal seumur hidup sekali. Original Post by kitamuda

pulau-padar-1-768x402

Beragam lokasi eksotis dapat ditemukan saat kamu berkunjung ke Provinsi Nusa Tenggara Timur, walau memang sejumlah tempat belum mendapat pengelolaan yang baik dan belum begitu banyak terjamah, tempat ini sangat layak kamu kunjungi sebelum kamu usia mu semakin senja.

Daerah Timur Indonesia memang sedang ramai-ramainya dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara karena pesona alamnya yang sangat indah. Diantaranya adalah Kepulauan Komodo yang termasuk dalam New Seven Wonder World, ada juga Pulau Alor yang sangat mempesona dan tak ketinggalan ada Danau Kelimutu yang mistis namun eksotis.

#1 Pulau Komodo

pulau-komodo

Pulau ini merupakan habitat asli binatang komodo, sejenis kadal raksasa pemakan daging. Di Pulau Komodo terdapat lebih dari 2.000 ekor komodo yang hidup di alam bebas. Anda bisa melihat komodo yang sedang mengincar mangsanya di banyak lokasi di tempat ini. Sangat penting untuk berkeliling bersama pemandu untuk alasan keselamatan selama berada di sini. Pulau Komodo di tetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 1986.

#2 Pulau Kanawa

pulau-kanawa

Sebelum masuk ke kawasan ini, kamu mesti bisa bedain dulu antara Kenawa dan Kanawa ya, karena Kenawa terletak di Lombok. Terletak 15 kilometer dari Labuan Bajo dan memiliki luas sekitar 32 hektar. Pulau Kanawa memiliki pasir putih dengan perpaduan airnya sangat jernih sehingga kamu dapat melihat keindahan karang bawah lautnya. Selain itu jika kamu ingin menyelam, akan menemukan beberapa hewan laut yang menakjubkan seperti manta, hiu, paus dan hewan menakjubkan lainnya.

#3 Pulau Padar

pulau-padar-1-768x402

Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo, setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Di sekitar pulau ini terdapat pula tiga atau empat pulau kecil. Pulau ini memiliki pesona yang sangat eksotis. Di sini banyak orang biasa melakukan foto slfie atau bisa juga hanya sekedar menikmati pemandangan alamnya yang sangat menkjubkan. Pokoknya kalau ke Flores, kamu harus banget ke tempat ini!

#4 Gili Laba

gili-laba

Tidak jauh dari Pulau Padar, kamu bisa berkunjung ke Gili Laba yang menjadi salah satu pulau di gugusan kepulauan di Komodo, Nusa Tenggara Timur.  Untuk menuju Gili Laba kamu dapat menyewa kapal dari Labuan Bajo, Flores, NTT atau menikmati sailing dari Lombok menuju Komodo dengan rute yang melewati Gili Laba. Disini kamu akan disuguhkan dengan pemandangan alamnya yang sangat eksotis, Hamparan padang savana nan luas dihiasi dengan birunya laut yang mempesona, akan membuat siapa saja yang berkunjung kemari pastinya akan betah. Pulau ini di bagi menjadi dua, yaitu Gili Laba dalam dan Gili Laba luar. Di pisahkan oleh selat kecil yang menghubungkan keduanya, seringkali biasa disebut dengan pintu surga, karena pemandangan disini memang sangat indah.

#5 Labuan Bajo

labuan-bajo

Labuan Bajo merupakan kota nelayan yang terletak di ujung barat Flores di wilayah Nusa Tenggara. Selain sebagai kota nelayan kecil, Labuan Bajo saat ini juga telah menjadi salah satu pusat pariwisata teramai di Flores. Kota ini adalah titik singgah bagi kamu yang ingin melakukan perjalanan ke Pulau Komodo. Yang sangat menarik dari Labuan Bajo adalah saat sunset mulai mengubah warna langit menjadi jingga. Pokoknya, sunset dari sini terbilang keren untuk kamu nikmati.

#6 Goa Batu Cermin

goa-batu-cermin

Selain komodo dan pantai pink-nya yang indah, sebenarnya Labuan Bajo juga memiliki obyek wisata yang juga tak kalah menarik untuk kamu datangi. Namanya Goa Batu Cermin. Bukan berarti didalam Goa ada cerminnya lho ya. Berjarak sekitar 4 kilometer dari Labuan Bajo, kamu akan sampai di obyek wisata yang akhir-akhir ini diramaikan para traveler.

Penemu goa ini adalah Theodore Verhoven, seorang pastor Belanda yang juga seorang arkeolog, pada 1951. Obyek wisata seluas 19 hektar dengan tinggi goa sekitar 75 meter ini dipastikan ramai di siang hari. Verhoven menyimpulkan goa ini dulunya berada di bawah laut berdasarkan temuan koral dan fosil satwa laut yang menempel di dinding goa.

#7 Desa Wae Rebo

desa-wae-rebo

Ingin berkunjung ke Desa diatas awan? Berkunjunglah ke Desa Wae rebo, sebuah kampung tradisional yang letaknya di kecamatan Satarmese Barat Kabupaten Manggarai. kampung ini sangat terpencil dan berada di puncak gunung. Dengan rumah berbentuk kerucut yang merupakan rumah asli orang manggarai yang masih ada sampai sekarang. Kampung wae rebo juga merupakan kampung bersejarah di manggarai itu terbukti dari adanya mitos yang dipercaya oleh masyarakat setempat dan wae rebo juga merupakan situs warisan budaya dunia yg di tetapkan UNESCO. Pemandangan alam berupa gunung-gunung berpadu dengan rumah adat berbentuk kerucut akan memberi kesan tersendiri bagi setiap pengunjung yang pernah datang ke Desa Wae Rebo.

#8 Danau Kelimutu

pulau-alor

Layaknya pelangi, namun berbeda warna. Danau Kelimutu menjadi salah satu keajaiban alam yang memiliki tiga warna berbeda, danau-danau unik ini merupakan bagian dari Gunung Kelimutu yang berketinggian sekitar 1.639 meter dari permukaan laut. Terletak di kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, danau unik ini dapat berubah warna dengan sendirinya tanpa dapat diprediksi, adapun beberapa warna yang pernah muncul dari ketiga danau warna warni tersebut antara lain ialah warna putih, merah, biru, hijau, coklat tua dan beberapa wana lainnya. Danau Kelimutu masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Kelimutu. Menurut legenda danau kelimutu ini merupakan simbol tempat berkumpulnya jiwa jiwa orang yang sudah meninggal. Untuk mencapai Danau ini, kamu harus mendaki 2600 anak tangga.

#9 Pulau Alor

Menjelajah Pulau Alor di NTT membuat ketagihan. Sajian pesona alam yang indah dan keramahan warga lokalnya membuat siapapun yang berkunjung ingin terus kembali kesini. Alor merupakan sebuah pulau yang terletak di ujung timur Nusa Tenggara. Pulau yang dibatasi dengan laut Flores dan laut Banda di sebelah utara. Pulau Alor juga dikenal sebagai salah satu pulau dari 92 pulau terluar di Indonesia, hal ini dikarenakan Pulau Alor berbatasan langsung dengan Timor Leste yang ada di sebelah selatan.

#10 Air Terjun Tujuh Tingkat Oehala

air-terjun-tujuh-tingkat-oehala

Air Terjun Oehala di SoE memberikan kesejukan diantara gersangnya daerah Nusa Tenggara Timur. Di pulau yang sebagian besar daerahnya ini berupa tanah dan karang ternyata banyak mengalir sumber mata air alam. Air terjun ini memiliki 4 tingkat yang harus dilalui oleh air sebelum bisa mencapai dasar air terjun. Karena ada beberapa tingkat air terjun, maka kamu bisa naik ke atas tingkat air terjun tersebut. Untuk menaikinya, kamu perlu berhati-hati dalam memanjat ya! Karena permukaan batuan yang menjadi lantai pada setiap tingkat air terjun Oehala bisa menjadi snagat licin untuk dipijak.

Nah, Itulah informasi mengenai tempat-tempat wisata di Nusa Tenggara Timur yang wajib kamu kunjungi, sebetulnya masih ada banyak lagi lho surga-surga terpendam di Timur Indonesia. Bila kamu punya pengalaman ke Nusa Tenggara Timur, jangan lupa untuk ceritakan pengalamanmu pada kolom komentar di bawah ya!

Destinasi Wisata, Kekayaan Alam, Pemerintah

5 Pantai terindah di Indonesia

raja4

Indonesia adalah negara kepulauan dengan beragam pantai yang indah. Selain Bali, sebenarnya Indonesia masih memiliki pantai-pantai lain di beragam daerah di Indonesia. Jika kita menggeser destinasi lebih ke arah timur Indonesia, atau ke lintang khatulistiwa, banyak surga tersembunyi yang menyimpan pesonanya.

Bagi pecinta udara yang hangat saat berjemur di pasir putih yang cantik, menikmati keindahan pemukaan laut saat snorkeling, atau menyelam ke laut dalam menyusuri coral dan bermain dengan paus, tentunya pantai merupakan tempat yang tidak bosan-bosannya dikunjungi disetiap daerah. Berikut 5 Pantai terindah di Indonesia yang bisa jadi destinasi wisata dalam rencana liburanmu berikutnya.

Wakatobi

Griya Wisata Wakatobi

Pada sepanjang tahun 2016 ini, Wakatobi mulai disebut-sebut sebagai destinasi yang diincar oleh banyak pecinta snorkeling dan diving karena keragaman biota bawah laut, koral-koral yang cantik dan air laut yang jernih. Selain itu, Bukit Tomia yang terdapat di Wakatobi bisa menjadi tempat untuk memanjakan mata karena menyajikan pemandangan yang luar biasa indahnya. Untuk dua kegiatan snorkeling dan mendaki bukit saat di Wakatobi, kalian memerlukan alas kaki yang nyaman untuk kedua kegiatan ini.

Pantai Pink, Pulau Komodo

pandu travel pantai pink

Hamparan pasir putih dengan warna laut jernih kebiruan, namun lihatlah, air yang seharusnya bening yang berada dekat pantai, justru memancarkan warna semburat pink yang lembut. Warna tersebut berasal dari pasir yang bercampur dengan serpihan karang dan biota lainnya yang terbawa ombak hingga ke pinggir pantai. Selain snorkeling dan diving, di Pulau ini Anda juga dapat melihat langsung reptil endemik, Komodo, yang hanya ada di Pulau ini. Ingin mengunjungi Pantai Pink dan berpetualang melihat Komodo? Pastikan kamu memakai outfit yang nyaman yang membebaskan kamu untuk bergerak dan tentunya terbuat dari bahan katun yang cocok untuk digunakan pada cuaca panas, seperti kaos, mini dress, celana pendek.

Tomini Bay, Sulawesi

tomini bay - pegi-pegi

Pantai ini terletak di Sulawesi Utara. Belum banyak turis lokal maupun mancanegara yang datang ke tempat ini. Selain dari keanekaragaman biota laut yang bisa ditemui saat diving, penduduk lokal siap sedia untuk melayani kebutuhan Anda akan santap seafood segar yang biasanya dapat dengan mudah ditemui pada rumah makan dipinggir pantai. Saat menelusuri pantai di sore hari, Anda bisa mengenakan slit tank top dress dengan celana pendek, atasan kaos katun, dan celana pendek.

Pantai Nihiwatu, Sumba

Nihiwatu - Ourel

Sempat mendapatkan gelar Pantai Terbaik di Dunia versi CNN World, Pantai Nihiwatu menduduki peringkat ke 17 dari 100 pantai lainnya. Nihiwatu dapat dicapai dengan berkendara selama 90 menit dari Bali atau 1 jam dengan menggunakan pesawat terbang. Dengan hamparan pasir putih dan biru laut jernih, Anda akan mendapatkan pengalaman untuk menikmati pemandangan matahari terbenam yang cantik. Saat menikmati hangatnya matahari, persiapkan beberapa perlindungan bagi kulit agar tetap terlindung dari efek buruk UVA dan UVB, berikut adalah beauty care yang harus Anda persiapkan:

Pastikan telah menggunakan pelembap sebelum mengaplikasikan sunblock, pilih pelembap dengan formula extra moist seperti SK II dan LISCIARE berikut:

Pantai Derawan, Kalimantan Timur

derawan info

Karena lokasinya yang cukup sulit dijangkau, Derawan jarang menjadi objek wisata para pelancong yang memiliki waktu libur sedikit. Namun jika memang Anda adalah pecinta laut, maka jalan menuju Derawan bukan hambatan karena ketika sampai, Anda akan disuguhi sebuah pengalaman dan pemandangan yang tak ternilai harganya. Derawan juga memiliki sebuah danau yang penuh berisi ubur-ubur, jangan khawatir, ubur-ubur ini telah beradaptasi sehingga mereka dapat hidup di air tawar dan tidak menyengat. Jangan lupa kenakan outfit liburan danswimwear terbaik Anda.

 

Jadi, mana destinasi pantai paling Indah di Indonesia yang menjadi favorit kalian?

Kekayaan Alam, Umum

Distrik Ilwayab, ‘Surga’ Nelayan yang Mati Perlahan

wp-1475726794627.jpg
Situasi area pelabuhan dan lalu lalang nelayan foto/Geogle

Merailuke.LimbarUPm.com Lambertus Mahose asyik menghitung uang penjualan ikannya pada suatu siang September lalu. Ada lima lembar uang sepuluh ribuan. Hasil jual ikan hari itu, mungkin tak cukup banyak dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.


“Pendapatan kami memang menurun sejak setahun terakhir,” ucapnya saat ditemui di Desa Bibikem. 

Lambertus adalah nelayan Desa Bibikem, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua. Kulitnya gelap dengan urat tangan yang menonjol. Usianya 47 tahun. Lebih dari sepuluh tahun sudah warga asli suku Asmat ini menggantungkan nasibnya menjadi nelayan di Desa Bibikem. 

Menuju Desa Bibikem, diperlukan waktu sekitar 45 menit dari Bandara Mopah, Kabupaten Merauke, dengan pesawat perintis Susi Air. Tak ada akses jalan darat menuju desa itu.

Pesawat akan mendarat di bandara Desa Wanam. Tak sampai 10 menit, perjalanan dari Desa Wanam menuju Desa Bibikem dengan sepeda motor. 

Dengan tergesa, Lambertus mengeluarkan bangku panjang dari dalam rumah petaknya. Rumah kayu berukuran 4×5 meter yang menjadi hunian bagi istri dan empat anaknya. Tanpa sekat dan bentuk atap yang tak rapat. 

Hanya ada alas tidur sekadarnya. Ini pun berbaur dengan ayam dan anjing yang sesekali menumpang tidur di dalamnya. 

Lambertus memindahkan bangku itu di kebun depan rumah agar kami lebih leluasa bicara. Dia mulai menceritakan turunnya pendapatan yang diperoleh sejak setahun terakhir.

Pendapatan nelayan di Distrik Ilwayab terus menurun dalam setahun terakhir. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Ini bermula ketika Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencabut Surat Izin Usaha Perikanan (SIUP) PT Dwikarya Reksa Abadi, pertengahan tahun lalu. 

Perusahaan itu diduga melanggar Peraturan Menteri KKP Nomor 56 Tahun 2014 soal Penghentian Sementara Kapal Eks Asing yang dikeluarkan Susi Pudjiastuti. 

Akibatnya, perusahaan pengolah ikan itu terpaksa tutup dan tak lagi beroperasi. Imbasnya pun dirasakan nelayan Desa Bibikem, macam Lambertus. 

Tak hanya itu, beberapa fasilitas umum hingga kesehatan yang disumbang perusahaan juga turut tak beroperasi. 

  • PT Dwikarya adalah perusahaan yang terkena dampak penghentian sementara perizinan usaha perikanan tangkap oleh KKP. Letak kantornya di Desa Wogekel, Distrik Ilwayab, kawasan yang ada di antara Desa Bibikem dengan Desa Wanam.


Perusahaan yang mulai beroperasi sejak 2006 itu ketahuan menggunakan kapal eks asing sekaligus dugaan praktik pencurian ikan.

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) mencatat sedikitnya ada empat grup besar perusahaan yang diduga melakukan praktik pencurian ikan. Mereka adalah PT Maritim Timur Jaya; PT Dwikarya Reksa Abadi; PT Pusaka Benjina Resources; dan PT Mabiru Industry. 

Pada Juni 2015, 15 perusahaan yang dicabut izinnya oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu, dinilai berafiliasi dengan empat grup bisnis itu.

Lambertus menuturkan sebelum perusahaan tutup, dia bisa memperoleh hasil tangkapan hingga 50 kilogram per hari. Hasil tangkapan itu kemudian dijual dengan harga Rp11.500 per kilogram pada PT Dwikarya. 

Dalam sehari dia mampu meraup keuntungan hingga Rp500.000. Bahkan jika hasil tangkapan sedang ramai, dia mampu membawa pulang uang hingga Rp700.000. 

“Setelah perusahaan tutup, tidak per kilogram lagi kami jual. Tapi per ekor dalam sehari,” katanya. “Paling sepuluh ekor kami dapat, lima ekor saja yang laku.”

Tiap satu ekor ikan, dia jual dengan harga Rp10.000. Lambertus mesti cepat-cepat menjual ikan tersebut agar tak cepat busuk. Berbeda saat perusahaan masih beroperasi. Dia mampu menjaring ikan dalam jumlah yang relatif besar karena bisa menyimpan sisanya di ruang pendingin milik perusahaan. 

“Kami cari ikan bisa langsung setor, timbang, dapat uang, bisa simpan di tempat pendingin. Tapi sekarang setelah tutup, setengah mati kami cari uang,” tuturnya. 

Lambertus pun terus memutar otak. Ini karena keempat anaknya yang masih sekolah masih butuh biaya. Sementara uang yang dia hasilkan, hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari. 

Beruntung ada tambahan penghasilan dari istrinya yang bertani. Hasil tani berupa sawi, tomat, dan kacang panjang dijual ke pasar. Lambertus juga menyewakan beberapa jaringnya ke nelayan lain. 

Bantuan dari pemerintah setempat tak dapat diharapkan banyak. Sebulan sebelum bertemu CNNIndonesia.com, Lambertus menerima peti penyimpan ikan dan kapal tanpa mesin dari pemerintah Kabupaten Merauke. Sebelumnya, dia juga menerima bantuan berupa jaring penangkap ikan. 

Namun, jaring itu beberapa kali koyak tersangkut taring buaya. Dia mesti menjahitnya karena tak mungkin membeli jaring baru. Harga jaring baru yang mencapai Rp1 juta, dirasa cukup berat bagi Lambertus. 

Dia berharap perusahaan yang selama ini menjadi penopang ekonomi keluarganya bisa beroperasi kembali. 

“Kami minta tolong supaya bisa makan, perusahaan ini harus lancar kembali.”

Distrik Ilwayab memiliki sekitar 2.963 nelayan, salah satu jumlah terbesar dari 20 distrik di Merauke. Kabupaten itu sendiri memiliki produksi ikan mencapai sedikitnya 7,2 juta kilogram.

Lambertus Mahose berpikir keras untuk menghidupi keluarganya setelah perusahaan pengolahan ikan ditutup. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Operasi Perusahaan

CNNIndonesia.com pun berkesempatan melihat ruang pendingin milik PT Dwikarya. Sesampainya di sana, hawa dingin menyeruak. Ada tumpukan ratusan ton karung ikan setinggi hampir tiga meter. Bau khas ikan segar pun tercium. 

Ada enam ruang pendingin tempat menyimpan ikan. Sebagian di antaranya menyimpan ratusan ton ikan tengiri, kakak, kuro, layur, bawal, dan berbagai jenis ikan yang disimpan dalam karung. Totalnya mencapai 6.000 ton ikan. 

Hampir dua tahun terakhir ikan-ikan hasil tangkapan itu tersimpan dalam ruang pendingin milik PT Dwikarya. Sejak ketahuan melakukan praktik penangkapan ikan ilegal, perusahaan tak boleh lagi mengeluarkan hasil tangkapannya. Alhasil, berkarung-karung ikan hasil tangkapan 2013—2014 itu tertahan di dalam.

Salah satu karyawan PT Dwikarya, Kharol E Teurupun mengatakan ruang pendingin terpaksa tetap dinyalakan untuk menjaga kesegaran ikan. “Sayang ikannya. Kalau dimatikan pendinginnya, ikan jadi busuk,” kata Kharol. 

Berdasarkan keterangan KKP, PT Dwikarya tercatat memiliki tujuh kapal penangkapan ikan eks China yang masing-masing bernama Dwikarya 38, Dwikarya 39, Dwikarya 50, Dwikarya 59, Dwikarya 60, Dwikarya 61, dan Dwikarya 62.


Pelabuhan pangkalan kapal Dwikarya 38, 39, dan 50 berada di Pelabuhan Wanam. Sementara untuk Dwikarya 59, 60, 61, dan 62 di Pelabuhan Avona, Papua. Dari ratusan kapal milik PT Dwikarya, hanya sekitar 61 kapal yang berizin resmi. 

Perusahaan itu juga diduga melakukan pemalsuan dokumen atas 72 kapal lainnya. 

Selain itu, PT Dwikarya dituding kerap melakukan tindakan jual beli ikan di tengah laut atau transshipment di luar wilayah operasi tangkapnya. Sejumlah ketentuan dalam bidang administrasi seperti Laporan Kegiatan Usaha (LKU) dan kewajiban dalam perpajakan juga dilanggar. 

SIUP pun dicabut pada Juni 2015. Sekitar 470 karyawan PT Dwikarya dirumahkan. Termasuk Anak Buah Kapal (ABK) asing yang kini telah dipulangkan ke negara asal. 

Kharol merupakan salah satu dari 30 karyawan yang tersisa. Dia juga menjabat sebagai kepala cabang PT Antarticha Segara Lines, perusahaan agen kapal yang bekerja sama dengan PT Dwikarya. Badannya tegap dengan nada bicara tegas. 

“Karyawan yang tersisa kerjanya mengurus perawatan kapal, menjaga solar, termasuk cold storage. Paling itu saja,” katanya.

Kharol mengakui, dalam mengoperasikan kapal penangkap ikan, perusahaannya menggunakan sekitar 600 warga asing dengan menggunakan izin Kemudahan Khusus Keimigrasian. 

Izin ini dikeluarkan pihak imigrasi berdasarkan permintaan sponsor yang akan memperkerjakan orang asing sebagai nakhoda maupun awak kapal yang beroperasi di wilayah perairan Indonesia. Mereka dibebaskan dari kewajiban memiliki visa. 

Kharol beralasan para tenaga asing itu dibutuhkan karena sebagian kapal baru milik perusahaan didatangkan dari China. Kapal itu menggunakan teknologi baru yang hanya bisa dioperasikan oleh awak kapal yang menguasainya. 

Ini terutama untuk bagian nakhoda, ahli tangkap ikan, bagian pendingin, maupun bagian elektronik. 

“Kami sudah latih ABK lokal, tapi rata-rata hanya bisa bertahan satu sampai dua trippenangkapan,” ucapnya. 

Perusahaan, kata dia, juga terganjal dengan Peraturan Menteri KKP Nomor 2 Tahun 2015 yang melarang penggunaan trawl atau pukat harimau yang digunakan untuk menangkap ikan. Pukat itu dianggap alat tangkap yang tak ramah lingkungan karena merusak habitat laut.

Kharol menuturkan sulit bagi perusahaan untuk mengubah alat tangkap dengan 61 kapal yang saat ini masih tersisa. Sebab, butuh biaya cukup mahal dan waktu yang sangat lama untuk mengurus perubahan alat tangkap. 

“Perusahaan juga harus mengubah izin dalam SIUP kalau ingin mengubah alat tangkap,” kata dia. 

Dengan perubahan alat tangkap ini, para awak kapal butuh waktu lagi untuk mempelajari teknik dan cara menggunakan jaring model baru.

Ikan beku yang disimpan di ruang pendingin milik perusahaan di Desa Wogekel, Merauke. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Dia lantas mengajak CNNIndonesia.com berkeliling ke area perusahaan. Luasnya yang mencapai 500.000 meter persegi tak mampu dicapai hanya dengan berjalan kaki. 

Kharol menunjukkan freezer atau tempat pembekuan ikan sambil mengendarai sepeda motor. Terdapat empat unit tempat pembekuan dengan kapasitas masing-masing 24 ton. 

Ada pula ruang genset sebanyak tujuh unit dengan kapasitas terpasang masing-masing 250 kilovolt ampere (kVa). Selain untuk mengaktifkan tempat pembekuan ikan dan ruangan pendingin, genset juga digunakan untuk mengalirkan listrik ke permukiman warga. 

Namun sejak perusahaan tak lagi beroperasi, warga terpaksa patungan membeli genset baru. 

Tak jauh dari ruang genset, terdapat pula ruang pembuatan balok es.

Ruang ini terhubung dengan rel dari kayu yang menyerupai jalur permainan roller coaster. Tingginya sekitar dua meter dengan panjang kurang lebih 100 meter. Rel itu digunakan untuk mengirim balok es menuju kapal yang ada di dermaga kayu milik PT Dwikarya. 

Saat masih beroperasi, perusahaan bisa memproduksi hingga 180 ton es per hari. Namun kini rel kayu itu kering, tak ada balok es yang diantar ke kapal. 

Kharol memarkirkan sepeda motor. Kami berjalan kaki menuju dermaga milik perusahaan. Potongan kayu besar yang menjadi penopang jalan menuju dermaga menimbulkan bunyi cukup keras saat diinjak. Sesekali kami harus berhati-hati karena ada lubang cukup besar di bawahnya.

Begitu tiba di ujung dermaga, terlihat puluhan kapal dengan ukuran 200 hingga 300 gross ton (GT) bersandar. Kapal-kapal dari China itu berjajar rapi. Kerangkanya mulai berkarat karena hampir dua tahun tak digunakan. Sejumlah kapal yang berukuran lebih kecil bahkan hampir separuh badannya tenggelam.

Kharol menuturkan PT Dwikarya memiliki 76 armada kapal yang terdiri dari 74 kapal penangkap dan dua kapal penampung. Kemudian untuk jenis kapal kayu terdapat 67 armada kapal yang terdiri dari 53 kapal tangkap dan 14 kapal penampung. 

“Sementara yang kerja sama dengan kami ada 87 kapal penangkap,” jelas Kharol.

Selain menjadi tempat sandaran kapal, ada pemandangan menarik dari salah satu sudut dermaga. Sebuah cranesepanjang kurang lebih lima meter diikatkan dengan katrol. Besinya mulai berkarat. 

Meski demikian, warna biru pada cranemasih terlihat bagus walau mengelupas di beberapa bagian. Sebelum perusahaan tutup, crane itu digunakan pula untuk mengangkut ikan. Kapasitasnya mencapai 30 ton per hari.

“Sekarang ya didiamkan begitu saja. Tidak bisa digunakan,” tutur Kharol.

Saat perusahaan masih beroperasi, Kharol mengaku bisa meraup keuntungan hingga miliaran rupiah per tahun. Namun dia tak berani menaksir berapa angka keuntungannya. 

Menurut Kharol, biaya operasi satu kapal saja mencapai Rp400 juta hingga Rp500 juta per bulan. Jumlah itu tertutup dengan keuntungan yang diperoleh dari kapal-kapal milik PT Dwikarya. Belum lagi keuntungan dari jumlah ekspor hasil produksi yang dikirimkan ke China.

Gudang ruang pendingin ikan milik PT Dwikarya Reksa Abadi. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Pada 2013, hasil ekspor yang dikirimkan PT Dwikarya ke negara tirai bambu tersebut mencapai 36,1 juta kilogram ikan. Jumlah ini hampir seluruhnya diambil dari total produksi yang dihasilkan perusahaan pada tahun yang sama yakni 36,3 juta kilogram ikan.

Pada 2014, hasil ekspor yang dikirimkan turun sebesar 35,8 juta kilogram ikan. Sementara total tangkapannya sebesar 38,8 juta kilogram. Namun setelah SIUP dicabut, semua produksi dan kegiatan ekspor pun terhenti. Perusahaan hanya memiliki stok akhir sebanyak 3,07 juta kilogram ikan di penghujung 2014.

Kharol mengklaim perusahaannya selama ini telah menaati sejumlah aturan. 

Ini macam membayar Pungutan Hasil Perikanan (PHP) hingga membayar retribusi daerah maupun Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Jumlah PHP yang mesti dibayarkan tiap tahun untuk semua kapal, kata dia, mencapai Rp15 miliar. 

Sejumlah fasilitas dari perusahaan pun, menurut Kharol, telah disediakan bagi warga. Mulai dari sekolah, mes karyawan, kantor pos, pasar, bank, hingga rumah sakit. Namun sejak perusahaan merugi, seluruh bangunan kosong. Perusahaan tak mampu lagi membayar biaya untuk kegiatan fasilitas tersebut.

Fasilitas Kesehatan

Kharol juga mengajak CNNIndonesia.com melongok bangunan rumah sakit yang menjadi fasilitas di Desa Wanam. Rumah sakit ini menjadi satu-satunya fasilitas kesehatan dari perusahaan bagi warga. Letaknya tak terlalu jauh dari dermaga. 

Alih-alih disebut rumah sakit, bangunan itu lebih terkesan menyerupai puskesmas. 

Seorang perempuan paruh baya terlihat duduk di bangku panjang dekat pintu. Badannya gempal dengan rambut digulung rapi. Ada senyuman yang hangat di wajahnya.

“Mari silakan,” ucap perempuan itu.

Perempuan itu adalah Gemma Walewowan. Seorang bidan yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Hampir seluruh warga desa mengenal Gemma karena dia satu-satunya tenaga medis yang masih bekerja di rumah sakit. 

Gemma menyempatkan berbincang dengan CNNIndonesia.com sambil menunjukkan pelbagai ruangan yang ada di rumah sakit. Tak ada pasien yang berobat, apalagi pasien rawat inap. Ruangan minim cahaya, hanya lampu di ruang pemeriksaan dan ruang tunggu yang dinyalakan.

“Sejak perusahaan tutup, rumah sakit juga berhenti beroperasi,” kata Gemma sambil menunjukkan ruang bersalin. Ada dua tempat tidur dan meja berisi sejumlah peralatan medis di dalamnya. Semua masih terlihat rapi dan terawat.

Gemma menceritakan sebelum perusahaan tutup, aktivitas di rumah sakit selalu ramai. Terdapat satu dokter umum, delapan perawat, tiga bidan, satu tenaga analis laboratorium, dan satu tenaga apotek yang melayani warga. 

Dalam satu bulan, rumah sakit bisa melayani hingga 800 pasien yang terdiri dari karyawan maupun warga sekitar. Mayoritas warga menderita penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). “Warga sekitar yang berobat di sini tidak ditarik biaya,” tuturnya. 

Statusnya sebagai PNS membuat Gemma menerima gaji dari pemerintah dan perusahaan. Namun sejak perusahaan tak lagi beroperasi, Gemma hanya menerima gaji dari pemerintah. 

“Sekarang tinggal saya saja di sini. Mengobati iya, membantu orang melahirkan juga iya,” imbuhnya.

Rumah sakit yang tak lagi beroperasi maksimal di Desa Wanam setelah perusahaan pengolah ikan dihentikan operasinya. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Kami menyusuri lorong rumah sakit. Gemma menuturkan, saat hujan deras dia harus menyiapkan ember untuk menampung air yang merembes dari atap yang tak tertutup rapat. Dinding rumah sakit itu mulai terlihat mengelupas.

Sayangnya Gemma tak bisa berlama-lama menemani. Dia mesti berkunjung ke rumah salah satu warga yang baru saja menghubunginya. “Kalau ditelepon saya juga mesti datang memeriksa ke rumahnya,” ucap Gemma. 

Dia berpamitan sambil mengunci pintu-pintu yang ada di rumah sakit. 

Berdua dengan Kharol, kami berjalan meninggalkan rumah sakit. Kharol tak banyak bicara setelahnya. Sesekali, dia menyapa warga yang baru saja pulang dari acara penyambutan bupati Merauke pada hari itu. 

Kharol berharap ada kebijakan yang jelas dari KKP untuk mengarahkan perusahaan agar dapat beroperasi kembali.  “Sekarang perusahaan kami tak jelas. Hidup segan, mati tak mau” katanya.

Di Distrik Ilwayab, perubahan terjadi dalam hampir setahun terakhir. 

Mungkin, ini pula yang menyebabkan nelayan macam Lambertus Mahose, memutar otaknya lebih keras.

Sumber:CNN Indonesia

Kekayaan Alam, Referensi, Umum

10 Fakta yang Perlu Diketahui Mengenai Papua

PAPUAAlam Papua yang indah dengan segala keunikannya, telah termasyhur sampai ke mancanegara. Stasiun TV SBS dari Korea pernah menayangkan acara yang menampilkan Suku Korowai dari Papua yang hidup di dalam hutan, menjalani hidup semi nomaden dan membangun rumah di atas pohon. Namun, bagi kita orang Indonesia sendiri, belum banyak yang mengenal Papua, selain dari informasi terbatas yang itupun jarang dibahas di media.

Oleh karena itu, mari kita simak 10 fakta yang perlu anda ketahui mengenai Papua!

1. Terbentuknya Papua

Gambar: rajawalinews.com

Gambar: rajawalinews.com

Menurut sebuah sumber, pada mulanya Pulau Papua merupakan dasar Lautan Pasifik yang paling dalam dan juga merupakan Lempeng Australia (Lempeng Sahul) yang berada di bawah dasar Lautan Pasifik. Tetapi akibat adanya pertemuan/tumbukkan lempeng antara lempeng benua Australia (Lempeng Sahul) dan lempeng Samudera Pasifik sehingga terangkatnya lempeng Australia menjadi pulau di bagian Utara Australia. Pertemuan/tumbukkan lempeng ini menyebabkan terbentuknya gugusan Pegunungan Tengah dan gugusan pegunungan di wilayah Kepala Burung. (Hamilton, 1979; Dow et al., 1988). Yang menarik, tanah Papua tergolong masih “muda” sehingga proses tektonik pun masih terjadi yang akan menyebabkan terjadinya gempa tektonik hingga saat ini.

2. Papua adalah “Laboratorium Bahasa”

Gambar: maharrhanni.wordpress.com

Gambar: maharrhanni.wordpress.com

The Crowd Voice menyebutkan di Papua terdapat 268 bahasa daerah selain Bahasa Indonesia yang digunakan dan dikembangkan oleh berbagai suku di sana. Hal inilah yang membuat para peneliti di Amerika dan Eropa menyebut tanah Papua sebagai laboratorium bahasa.

3. Orang Papua menyebut tanah kelahiran mereka sebagai “Nuu Waar”

Gambar: indonesiad.com

Gambar: indonesiad.com

Tidak banyak yang tahu, bahwa sebenarnya kata “PAPUA” dan “IRIAN” tidak disukai oleh penduduk aslinya karena kedua kata tersebut mempunyai arti yang kurang bagus. Mereka lebih suka disebut dengan sebutan NUU WAAR.

Nuu Waar adalah dua kata dari Bahasa Irarutu di kerajaan Nama Tota Kaimana, yakni Nuu Eva. Nuu bermakna sinar, pancaran atau cahaya. Sementara Waar dari kata Eva, yang makna pertamanya adalah ‘mengaku’ atau diterjemahkan dengan makna lebih dalam yang artinya ‘menyimpan rahasia’. Dari bahasa Onim (Patipi) Nuu juga adalah cahaya. Waar artinya perut besar yang keluar dari perut Ibu. Maka nama Nuu Waar artinya negeri yang mengaku menyimpan atau memikul rahasia.

4. Sebagian besar orang Papua adalah pendatang

Gambar: merdeka.com/centineladelsendero.com

Gambar: merdeka.com/centineladelsendero.com


Meski wilayah Papua sangat luas, namun hanya 52% saja penduduknya yang merupakan suku asli Papua, sisanya 48% dihuni oleh non-Papua yang didominasi oleh suku dari Jawa dan Sulawesi. Papua Cloud menyebut Papua memiliki lebih dari 250 suku yang memiliki keunikan tersendiri yang membedakan mereka dari suku-suku lain yang ada di bagian lain wilayah Indonesia. Suku-suku di Papua umumnya memiliki struktur fisik yang kekar, berkulit gelap dan rambut keriting seperti suku-suku yang ada di Benua Afrika. Diperkirakan mereka berasal dari daratan Afrika sejak zaman es, ketika daratan Asia masih menyatu dengan kepulauan-kepulauan di Asia.

Uniknya, ada suku asli Papua yang merupakan suku kanibal, misalnya Suku Korowai. Seperti yang kita lihat di gambar, inilah pria dari Suku Korowai yang membawa tengkorak manusia yang mereka makan.

5. Papua adalah satu-satunya wilayah Indonesia yang bersalju

Gambar: humanandnatural.com

Gambar: humanandnatural.com

Puncak Jaya merupakan salah satu puncak gunung bersalju yang ada di perlintasan garis khatulistiwa, selain pegunungan di Afrika dan Amerika Latin. Jika dilihat dari udara, Puncak Jaya nampak seperti permadani hitam yang diselimuti oleh tudung putih. Jika matahari sedang cerah, maka hamparan salju tersebut akan memantulkan cahaya mentari yang menyilaukan. Kandungan es di pegunungan ini diperkirakan mencapai 5 persen dari cadangan es dunia yang berada di luar Benua Antartika.

Selain dikenal dengan nama Puncak Jaya, puncak tertinggi ini juga terkenal dengan sebutan Carstensz Pyramide, atau Puncak Carstensz. Nama tersebut diambil dari seorang petualang dari negeri Belanda, yakni Jan Carstensz, yang pertama kali melihat adanya puncak gunung bersalju di daerah tropis, tepatnya di Pulau Papua. Pengamatan tersebut dilakukan oleh Jan Carstensz melalui sebuah kapal laut pada tahun 1623. Karena belum bisa dibuktikan dengan pengamatan langsung, laporan itu dianggap mengada-ada. Sebab, bagi orang Eropa, menemukan pegunungan bersalju di tanah tropis adalah sesuatu yang hampir mustahil.

6. Orang Papua senang mengunyah pinang

Gambar: Kompasiana/ Joko Martono

Gambar: Kompasiana/ Joko Martono

Kesan kali pertama “menggauli” lingkungan sosial-budaya di Papua, seperti diceritakan seorang traveller, hampir ditemui di setiap tempat terlihat orang mengunyah pinang, baik usia tua, muda, bahkan anak-anak pun melakukan hal sama. Mengunyah pinang, konon sebagai kebiasaan yang turun-temurun, bisa juga sebagai ajang kebersamaan, saling memberi dan bisa merasakan sensasi tersendiri.

7. Jayapura sudah beberapa kali berganti nama

Gambar: ceriffeta.blogspot.com

Gambar: ceriffeta.blogspot.com

Jayapura, ibukota Papua, adalah ibukota propinsi yang terletak paling timur Indonesia. Kota ini telah mengalami beberapa kali perubahan nama, bahkan pernah diberitakan berganti nama menjadi Port Numbay. Sebelumnya nama kota ini adalah Numbai, Hollandia, Kotabaru dan Soekarnopura.

8. Papua adalah tanah bagi beragam fauna endemik yang tidak ditemukan di tempat manapun di dunia.

Gambar: http://www.tanya.papua.us

Gambar: http://www.tanya.papua.us

Selain fauna identitasnya yaitu Cenderawasih mati-kawat, Papua menjadi jadi habitat bagi beragam fauna endemik termasuk kura-kura reimani, kasuari kerdil, nuri sayap hitam, dan kanguru pohon mantel emas sebagaimana yang kita lihat di gambar.

9. Kekayaan sumber daya alam Papua sangat luar biasa

Gambar:www.energitoday.com

Gambar:www.energitoday.com

Provinsi ini sangat kaya dengan berbagai potensi sumber daya alam. Sektor pertambangannya sudah mampu memberikan kontribusi lebih dari 50% perekonomian Papua, dengan tembaga, emas, minyak dan gas menempati posisi dapat memberikan kontribusi ekonomi itu. Di bidang pertambangan, provinsi ini memiliki potensi 2,5 miliar ton batuan biji emas dan tembaga, semuanya terdapat di wilayah konsesi Freeport. Di samping itu, masih terdapat beberapa potensi tambang lain seperti batu bara berjumlah 6,3 juta ton, barn gamping di atas areal seluas 190.000 ha, pasir kuarsa seluas 75 ha dengan potensi hasil 21,5 juta ton, lempung sebanyak 1,2 jura ton, marmer sebanyak 350 juta ton, granit sebanyak 125 juta ton dan hasil tambang lainnya seperti pasir besi, nikel dan krom.

10. Hotel Bintang Empat Pertama di Papua adalah Swiss-Belhotel Papua

Gambar: http://www.swiss-belhotel.com/

Gambar: http://www.swiss-belhotel.com/

Swiss-Belhotel Papua terletak hanya 45 menit dari Bandara Sentani dan terletak di pusat kota Jayapura. Hotel ini telah menjadi pilihan bagi di antara traveller yang berkunjung ke Papua.

Gambar: http://www.swiss-belhotel.com

Gambar: http://www.swiss-belhotel.com

Hotel ini berhadapan dengan Teluk Jotefa yang merupakan salah satu tempat wisata terindah di Papua. Fasilitas Swiss-Belhotel meliputi pusat bisnis, 4 meeting room, 1 ballroom, kolam renang, tempat fitness, restoran utama “Cartenz Swiss Café” dan Matoa Lounge Bar yang berhadapan dengan teluk Jotefa tersebut.

Gambar: http://www.swiss-belhotel.com/

Gambar: http://www.swiss-belhotel.com/

Para tamu dapat memilih dari 96 kamar yang semuanya dilengkapi dengan atmosfir damai dan harmonis. Hotel ini menawarkan fasilitas rekreasi yang menyenangkan seperti gym/fasilitas kebugaran, spa, olahraga air (bermotor), kolam renang (luar ruangan), pijat untuk menjadikan penginapan Anda tak terlupakan.

Destinasi Wisata, Kekayaan Alam

Menikmati Cantiknya Pulau Nau di Waropen

LimbarUPm.com– Ada anggapan bahwa pergi ke Waropen belum lengkap rasanya jika tak mengunjungi Pulau Nau, sebuah pulau di lepas pantai ke arah barat dari kabupaten

yang merupakan pecahan Kabupaten Yapen Waropen itu.

Pulau Nau memang sempat diperebutkan Kabupaten Yapen dan Kabupaten Waropen sejak keduanya berpisah di sekitar tahun 2003 lalu, namun akhirnya pulau cantik ini menjadi milik Kabupaten Waropen.

Dengan kekayaan alam bawah laut yang luar biasa, lokasi wisata Pulau Nau masih termasuk daerah yang alami dan belum terlalu banyak dikunjungi keramaian. Meski sebenarnya di pulau itu sendiri ada berdiam masyarakat asli setempat.

Jika Papua diibaratkan Surga Kecil yang jatuh ke Bumi, mungkin Pulau Nau satu dari sejumlah kepingan surga itu, indah dan mempesona.

Beberapa keunggulan Pulau Nau yaitu seluruh garis pantainya dianugerahi pasir putih, biota laut seperti terumbu karang yang masih sangat alami dan tempat yang strategis untuk melakukan aktivitas bawah laut mulai dari snorkling hingga menyelam.

Jika sedang beruntung, pengunjung Pulau Nau berkesempatan melihat ikan lumba-lumba yang kerap berenang hingga ke dekat bibir-bibir pantai.

Keberadaan Pulau Yapen dan Biak di utara pulau membuat ombak di sepanjang garis pantai Pulau Nau tidak begitu besar sehingga juga memungkinkan untuk berenang di sana bagi para wisatawan.

Di pulau ini juga terdapat wisata rohani Patung Tuhan Yesus setinggi kurang lebih 25 meter yang berdiri megah. Banyak pengunjung selalu menyempatkan diri untuk berpose bersama di sekitaran patung tersebut ketika sedang berada di Pulau Nau. Untuk wisata rohani ini, pengunjung hanya dikenakan biaya sukarela yang diberikan kepada pengelola wisata tersebut.

Sedangkan untuk mencapai Pulau Nau sendiri, satu-satunya akses transportasi kesana hanya menggunakan jalur laut dari Waropen dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam, tergantung jenis perahu motor yang digunakan.

Meski begitu, pulau ini juga dapat ditempuh dari Serui (ibukota Kabupaten Yapen) menggunakan cara yang sama, hanya saja akan memakan waktu yang lebih lama karena jarak dari Serui ke Pulau Nau lumayan jauh.

Destinasi Wisata, Dunia arsitektur, Karya, Referensi

Ubud Hanging Gardens in Bali by William Warren and John Pettigrew

Location: Desa Buahan, Payangan, Bali, Indonesia

Photo courtesy: Orient-Express
Description:

With 38 luxury villas designed by Anglo/French architect Gordon Shaw, each with a private infinity plunge pool overlooking the Ayung river, feel your stress ebb away as you relax into your private sanctuary and enjoy sensational views of the surrounding verdant gardens of this tropical resort.

Ubud-Hanging-Gardens-00-1

The resort is situated in the steep rice terraces of Ubud and offers with sweeping views across the Ayung River valley.  Each luxury Balinese style private villa provides the perfect location to escape, relax and unwind.  A private funicular provides easy access to the resorts facilities.

Ubud-Hanging-Gardens-00-2

Our large infinity pool emphasizes the natural curves of the hillside. Created on two levels it is surrounded by stylish and comfortable sunbeds for ultimate relaxation. In addition to the main pool each room and suite has its own individual infinity pool, which can be access from the terrace for extra exclusivity and seclusion.

Ubud-Hanging-Gardens-00-3

The grand gardens surrounding the resort were conceived by the landscape architect William Warren together with John Pettigrew.  Nature is a spectacle here with exotic trees and essences of the tropics including cocoa, coffee, durian and a variety of bamboos, flame trees and orchids creating a symbiosis of tropical life.

Ubud-Hanging-Gardens-00

The resort’s Bukit Becik bar near the main pool down by the river offers an excellent setting for a relaxing long drink at sunset and our beautiful Balinese boutique sells local crafts and clothing from all over the Indonesian archipelago.

Ubud-Hanging-Gardens-01

At the geographical epicenter and emotional heart of the property is Hanging Gardens’ world-famous swimming pool. It is without a doubt one of the most photogenic and photographed pools around the globe, and has the unique distinction of coming top of both travel bible Condé Nast Traveller’s list of ‘the best swimming pools in the world’ and number one on Trip Advisor’s list of ’10 jaw-dropping hotel pools’.

Ubud-Hanging-Gardens-02

This stunning split-level infinity pool, lined with Batu Chandi stone and featuring a vast geometric wall of solidified volcanic ash, suspended high over the surrounding jungle, appears to float in its setting, giving swimmers the unique, immersive feeling of literally swimming above the treetops and the valley.

Ubud-Hanging-Gardens-03-0

The organic, free form design, with its undulating curves, was designed to echo the lines of the steep, terraced rice paddies that are such an iconic feature of the Ubud landscape. This is very much in keeping with the vision of the owners, who designed the entire hotel to follow the contours of the land and work with the existing natural habitat as much as possible.

Ubud-Hanging-Gardens-03

The upper level has an expansive deck, which flows out from the hotel’s bar, while the lower level’s decking is almost hidden from sight for ultimate privacy, with only the sounds of nature as a backdrop. Both levels have steps down into the water for graceful access, with the bottom pool additionally featuring a stone bench for swimmers to bask in the exhilarating spray of the waterfall from the level above.

Ubud-Hanging-Gardens-05-0

Our staff are always happy to serve both food and drinks beside the pool during the day, and most of the treatments from the hotel’s spa can be taken poolside, for the ultimate immersive sensory experience. Honeymooners and the romantically-inclined can book Hanging Gardens’ signature Romance Under the Stars gourmet dining experience, where we float an antique wooden deck on the lower pool, decorated with beautiful, colorful drapes for a mesmerizing and delicious evening, surrounded by suspended frangipani candles with inspiring views of the ancient holy temple and the smooth, rhythmic jungle sounds at dusk.

Ubud-Hanging-Gardens-05-1

This same floating deck may also be used as the ultimate, breathtaking wedding ceremony location, with a small number of guests able to be seated on the deck, although many couples opt to enjoy this uniquely romantic moment with just each other, before journeying through the jungle for a blessing at our temple. For those wishing to stay dry but still absorb the beauty of this special pool, the hotel’s restaurant has expansive views over the upper pool level to the jungle, temple and valley beyond.

Ubud-Hanging-Gardens-05Ubud-Hanging-Gardens-07Ubud-Hanging-Gardens-10-0Ubud-Hanging-Gardens-10