Agama, Kisah Hidup

TUHAN YESUS DAN TIM FUTSAL

 

1479398568666.jpg
Bola Futsal (Foto:Search)

Ada seorang anak bernama Vincent yang begitu menyukai olahraga futsal. Ia sangat rutin bermain futsal sehingga waktu ke gerejanya pun terkadang ia korbankan untuk berlatih futsal.

Suatu hari setelah berlatih futsal, ia begitu kelelahan hingga akhirnya tertidur lelap. Dalam tidurnya, ia bermimpi sedang menonton pertandingan futsal antara tim Heaven FC dan Hell FC. Pertandingan berjalan ketat namun pada akhirnya berhasil dimenangkan oleh Heaven FC.

Seusai pertandingan, Vincent bergegas menghampiri ruang istirahat pemain Heaven FC karena sebelumnya ia tidak pernah melihat tim sehebat itu di kompetisi futsal manapun. Disana ia mengobrol dengan Sang Pelatih dari klub tersebut.

“Tim Anda sungguh hebat, belum pernah aku melihat tim seluar biasa ini. Sudikah Anda memperkenalkan para pemain di tim yang Anda latih ini?” Tanya Vincent. “Tentu saja. Aku akan memperkenalkan para pemain andalanKu ini kepadamu hai anak muda.” Jawab Si Pelatih

“Yang pertama adalah Kasih Sayang. Dia adalah penyerang di tim futsal-Ku. Ia adalah penyerang hebat yang mampu menaklukan pemain bertahan tim Hell FC, yaitu si Keras Hati. Kasih Sayang berkali-kali mengalahkan si Keras Hati dan mencetak banyak gol untuk tim Ku.” Terang Sang Pelatih

“Sedangkan barisan tengah tim ini dihuni oleh dua pemain hebat yaitu Syukur dan Sukacita. Peran mereka dalam tim ini adalah untuk mengontrol jalannya pertandingan.” Jelas Sang Pelatih. “Kehadiran Syukur dan Sukacita mampu membuat pertandingan, yang tak lain adalah hidup kita, menjadi lebih positif, walaupun itu dalam situasi yang sulit” tambah-Nya.

“Untuk posisi pemain bertahan, Aku mengandalkan Sabar. Ia adalah pemain yg begitu tekun dan ulet dalam menghalau serangan lawan yang dipimpin oleh Kebimbangan. Berkali-kali Kebimbangan berusaha menyerang namun berhasil dipatahkan oleh Sabar.”

“Wow hebat sekali tim Anda. Namun tadi aku melihat tim lawan hampir mencetak gol namun gagal karena penjaga gawang tim Anda sangat tangguh. Siapakah dia?” Tanya Vincent penasaran.

“Nama penjaga gawang-Ku adalah Iman. Ia adalah benteng pertahanan terakhir tim ini. Kamu bisa melihat bahwa dalam pertandingan tadi, beberapa kali penyerang tim lawan yaitu Kekecewaan hampir mencetak gol. Namun semua tembakan dari Kekecewaan takkan mampu menembus gawang Iman, karena Iman adalah benteng pertahanan terakhir yang begitu luar biasa di tim ini.” Kata Sang Pelatih.

Vincent begitu kagum dengan penjelasan Sang Pelatih. Ia tidak pernah bertemu dengan Pelatih yang begitu luar biasa seperti ini. Ia pun kembali bertanya “Bolehkah aku menjadi bagian dari tim ini? Dan siapakah nama Anda? Karena aku melihat Anda begitu luar biasa.”

Sambil tersenyum, Sang Pelatih berkata, “tentu saja kau boleh menjadi bagian dari Kami, datanglah setiap hari Minggu ke tempat latihan kami yang bernama Gereja, dan carilah Aku di tempat itu. Nama-Ku adalah Yesus Kristus.”

Seketika itu juga Vincent bangun dari tidurnya. Dilihatnya waktu menunjukkan pukul 3 sore, masih ada waktu untuk mengikuti ibadah sore di gereja. Ia pun segera bersiap-siap dan bergegas untuk menemui “Sang Pelatih Futsal” yang begitu dikagumi dan dihormatinya, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Tuhan Yesus memberkati..

Advertisements
Agama, Pemerintah, Politik

Dewan Gereja-gereja Pasifik: Rakyat Papua berhak merdeka

FB_IMG_1479381883413.jpg
Pemimpin-pemimpin gereja pasifik selatan(foto:search ggl)

Jayapura, LBRM– Kelompok gereja-gereja di wilayah Pasifik menuntut keadilan atas berbagai isu HAM rakyat yang telah lama diabaikan di kawasan itu. Isu West Papua, perubahan iklim dan dampak ujicoba nuklir serta militerirasi Pasifik adalah isu-isu yang ditekankan dalam konferensi gereja-gereja Pasifik yang baru berlangsung beberapa waktu lalu di Auckland, Selandia Baru.

Sekretaris Jenderal Konferensi Gereja-gereja Pasifik, Francois Pihaatae, menekankan terkait semakin bertambahnya kelompok-kelompok gereja yang bersatu menekan para pemimpin politik untuk angkat baicara terkait West Papua.

“Untuk pertama kalinya sejak badan ini didirikan 20 tahun lalu, Dewan Gereja-gereja Papua Nugini bergabung untuk mendukung kampanye dekolonisasi West Papua,” ujarnya.

Pihaatae juga mengatakan anggota-anggota dewan ingin pemerintah Indonesia mengakhiri apa yang disebutnya sebagai genosida terhadap rakyat Papua.

“Kami serukan agar Indonesia hentikan pembunuhan orang-orang Papua. Itulah prioritas kami paling pertama kepada militer Indonesia atau polisi, atau apapun cara lain yang digunakan (negara) untuk membunuh rakyat di sana. Dan hal kedua yaitu mengangkat isu West Papua ke daftar dekolonisasi,” kata dia. “Agar mereka bisa menikmati kebebasan seperti orang-orang Pasifik Selatan lainnya yang merdeka, bebas,” lanjutnya lagi.

Sementara aktivis HAM dari Selandia Baru, Maire Leadbeater senada dengan itu menekankan peran gereja-gereja dalam perjuangan penentuan nasib sendiri West Papua.

“Saya pikir hanya satu hal yang memungkinkan tujuh negara Pasifik bersuara keras di Sidang Umum PBB lalu, yaitu akibat r akar rumput. Dan sebagian besar orang-orang akar rumput di Pasifik berasal dari gereja-gereja,” ujar Leadbeater.

Pihaatae, yang berasal dari Maohi Nui, French Polynesia, ini menegaskan bahwa dewan-dewan gereja memastikan West Papua tidak sendiri.

“Sekarang kami sudah punya dua anggota gereja di West Papua dan kami akan menyambut dua lagi tahun depan. Artinya melalui serangkaian kerja ini, kami sedang membawa rakyat West Papua kembali ke rumahnya.(*)

Sumber:http://tabloidjubi.com

Agama, Pemerintah

Indonesia Bukan Negara Islam, Jangan Paksakan Pemimpin Harus Islam

1st Image
Negara Indonesia adalah negeara demokrasi dengan ideologi pancasila dan beragam Sukku,Budaya,Agama dll (Foto:Ilustrasi)
JAKARTA,  – Karena Negara Indonesia adalah Negara Pancasila dan bukan Negara Islam serta menganut sistem demokrasi, tidaklah tepat bila ada pihak-pihak tertentu yang memaksakan bahwa yang menjadi pemimpin haruslah beragama Islam. Hal ini ditegaskan Pimpinan Khilafatul Muslimin Wilayah Lampung Timur, Provinsi Lampung Fathul Inam.
 
“Kalau di negara Islam, ya harus beragama Islam pemimpinya, tapi di negara dengan sistem pemerintahan bukan Islam ya tidak harus, siapa saja boleh memimpin,” ujar Fathul Inam, saat dimintai pendapatnya terkait polemik haruskah pemimpin di Indonesia beragama Islam, di Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, Minggu (23/10/2016).

Dia menambahkan, meskipun Islam menganjurkan pemimpin bagi umat Islam wajib beragama Islam, tapi di negara Indonesia yang menganut Pancasila dan adalah negara demokrasi, pemimpin tidak harus beragama Islam. Bila tidak maka diskriminatif terhadap agama lainnya.
 
“Tidaklah tepat Negara yang menganut sistem demokrasi dan bukan Negara Islam, tapi memaksakan hukum islam di dalamnya,” katanya serperti dilansir kantor berita Antara, Minggu (23/10/2016) silam.
 
Peraturan KPU No. 12 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 9 tentang Pencalonan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota  juga tidak menyaratkan  status keagamaan  seorang calon.
 
Persyaratan yang dituntut dari seorang calon antara lain: Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; Setia kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, cita- cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia; Berpendidikan paling rendah sekolah lanjutan tingkat atas atau sederajat;  Berusia paling rendah 30 (tiga puluh) tahun untuk Calon Gubernur dan Wakil Gubernur dan 25 (dua puluh lima) tahun  untuk Calon Bupati dan Wakil Bupati atau Calon Walikota dan Wakil Walikota; Mampu secara jasmani dan rohani berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari tim dokter.
Kisah Hidup, Motivasi, Pengetahuan Agama

MENGHADAPI TEKANAN HIDUP

crying1-500x333.jpg
Menghadapi tekanan hidup dengan tetap tegar dan percaya pada janji Tuhan Photo:Inspiration

Seorang nenek tega memarahi cucunya lantaran cucunya tak sengaja memecahkan kendi berisi air bersih. Alasan nenek itu memerahi cucunya adalah karena pada saat itu di desa sedang krisis air bersih dan keuangan nenek sangat kurang sehingga untuk membeli air sangat kesusahan.

Keuangan yang tidak mencukupi kebutuhan sangatlah membuat kehidupan menjadi penuh dengan tekanan. Dan ketika sedang tertekan, maka seseorang akan menjadi lebih mudah untuk emosi. Saat emosi tak lagi terkendali akan dapat melakuia perasaan orang lain.

Tuhan tidak akan pernah memberikan pencobaan yang melebihi kekuatan kita. Kasih Tuhan kekal dan selalu tersedia di dalam kehidupan kita. Jika kita mampu bersabar tanpa melukai perasaan orang lain, maka kita akan berbuah manis.

Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu.

                                Yakobus 5:8-9

Kisah Hidup, Motivasi, Puisi

Karena yang Menemanimu dari Nol adalah yang Patut Diperjuangkan

LBRm.com- Senja sore pun berlalu, berganti dengan gelapnya malam yang indah, suasana lirihan angin yang sedang menari, dan kicauan jangkrik yang menemaniku malam hari ini.
Hai kau yang disana, tak usah mencemaskanku berlebihan disini, tenanglah.. aku adalah gadis yang sudah terbiasa berteman sepi yang akan tetap selalu menunggu kehadiranmu ini.
Mencintaimu adalah salah satu tanggung jawab bagiku. Dengan umur yang dewasa ini aku tidak bisa menganggap cinta hanya soal romansa saja, namun pada hal yang membuat kita bisa membiakkan mimpi nantinya.
Menganggapmu remeh, memang! Namun itu dulu, seiring berjalannya waktu, engkau yang paling patut dipertahankan.
Aku menyesal, yah aku menyesal atas perlakuanku padamu dulu, yang selalu membuatmu kecewa, yang membuatmu merasa terbebani. Aku tidak tahu, entah apa yang membuatku seperti itu, aku adalah anak kelas 1 SMA yang masih tidak tau apa-apa. Apalagi soal cinta.
Pacaran pun belum pernah. Namun aku sadar, di balik perlakuanmu yang tak kunjung-kunjung menyerah terhadap sifatku, yang suka marah, dan nangis seenaknya. Tapi kau tetap bertahan mempertahankanku. Kau tetap merayuku, membujukku seperti anak kecil, mengalah, padahal aku sudah tahu bahwa itu semua adalah salahku.
“Kenapa?”
“Kenapa kau seperti itu padaku?”
Cinta ini mungkin membuat dirimu seperti orang yang akan tetap selalu menerima cobaan, meskipun kamu tau bagaimana resikonya. Melihat perjuanganmu membuatku luluh, membuatku mengerti dan menyadari bahwa saat kita ditimpa masalah dan bisa menyikapinya dengan baik justru saat itu pula kita menjadi dewasa.
Saat aku berusaha untuk mencoba menghindar darimu, justru kau malah selalu ada buatku. Saat itu pula ku tahu akan ketulusan cintamu, maafkan aku yang membuatmu sakit atas perlakuanku.
“Namun orang seperi inilah yang patut diperjuangkan dan dipertahankan hingga kapanpun.”
Aku tidak gombal. Ini memang serius, aku menyesal atas tingkah lakuku dulu kepadamu. Maafkan aku.
Berubahnya dirimu dengan drastis, salah satunya hanya karena aku sebagai alasan yang menjadi penyemangat dalam hidupmu.
Berubah di sini bukan berarti berubah atas sesuai keinginan pasangan, aku juga tidak berlebihan menuntutmu apa-apa. Hanya karena semangatmu yang berkobar dalam mencapai impian dan untuk memenangkan hati kedua orangtuaku serta meyakinkannya.
Itulah dirimu yang membuatku merasa semakin kagum padamu. Sedikit demi sedikit kau bisa menunjukkan padanya. Asal kamu tahu, semakin lama aku semakin menyayangimu, yang saat kau mengatakan bahwa aku adalah salah satu penyemangat dan inspirasi dalam hidupmu. Hatiku seperti menari-nari waktu itu. Rasanya aku ingin berteriak dan mengatakan:
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa’’
“Apakah ini benar?”
Terserah kamu menganggap aku alay atau bagaimana, tapi aku bangga senggaknya aku bisa berguna padamu. Kau jarang sekali menujukkan sikap romantismu dengan perkataan. Tapi kau langsung menunjukkan dengan perbuatan-perbuatanmu.
Semakin hari kau semakin buatku jatuh cinta. Kau adalah cinta pertamaku. Yang entah apa alasannya tapi yang pasti kau sudah hebat bisa memenangkan hati kedua orangtuaku.
Aku adalah gadis yang sedang jungkir balik berjuang memantaskan diri untukmu.
Saat ini kau sedang sibuk memperjuangkan apa yang menjadi tujuan dari impian-impianmu itu. Akan ada hal di mana aku harus bisa menerima risiko atas tindakanmu itu, bahkan kita sudah tidak saling bisa bertemu dan bertelepon atau sms sesering dulu.
Tapi tak perlu kau mencemaskanku sayang, aku gadis yang sudah terbiasa berteman sepi, yang mungkin pada kenyataanya aku juga ingin bertemuu denganmu. Aku harus bisa menyingkirkan egoku. Keinginan itu harus kulerai dulu. Bukan berarti aku hanya setia menunggumu, namun aku juga berjuang disini untuk cinta yang berkualitas nanti.
Mencemaskanmu memang salah satu hal yang selalu aku rasakan. Namun aku yakin padamu, bahwa kecemasan itu tidak akan terbuang sia-sia. Kesibukanmu yang membuat kita tidak sering bertemu memberikan waktu luang yang banyak untukku untuk belajar.
Yah, belajar bagaimana aku bisa memenangkan hati kedua orang tuamu. Yah kita berganti, saat kau bisa.. mengapa aku tidak bisa? Karena dalam menjalin hubungan bukan hanya kita saja yang menjalankan, namun dukungan orang lain juga perlu. Aku tahu sayang, ini masih butuh proses panjang. Tapi percayalah padaku, aku berusaha menjadi calon istri yang bisa diterima keluargamu nanti.
Sampai tiba saatnya nanti, kita di persatukan dan menjalankan kehidupan baru menjadi tidak canggung lagi. 
Setelah penantian panjang kita lalui, impian harapan masa depan kita rencanakan sedari dulu. Sampai itu semua sudah terpenuhi, disitulah aku sudah tidak canggung lagi kepadamu sayaang, saat aku sudah sering terbiasa melihat mukamu saat bangun tidur dengan rambut yang berantakan.
Saat itulah kebahagian yang kita nanti-nantikan, aku tau dalam menjalankan hubungan ini tidak melulu kita bahagia. Bertengkar, berbeda pendapat sudah menjadi hal yang tabu bagi kita. Saat kita bak besi yang sudah bisa melebur jadi satu disitulah kita bisa menjalankan ritme hidup ini bersama. Bahkan tujuanku dari dulu adalah aku bisa membahagiakanmu duhai calon suamiku.
Ketika aku sudah memutuskan untuk bersanding denganmu, di situ kamu harus percaya bahwa aku memilihmu karena aku nyaman denganmu. Semoga Kau Kan Tetap Menjadi Cinta Pertama dan Terakhirku.
Semoga kau bisa memahami apa yang aku tuliskan untukmu ini. “My First Love”.
Sumber:gelombang.org
Agama, Kepemimpinan, Masyarakat, Pemerintah

Jika Ahok Menang, Apa Kerugian Umat Islam? Jika Ahok Kalah, Keuntungan Apa yang Dinikmati Umat Islam?

images (27).jpg
Basuki Tjahaja Purnama-Gubernur Jakarta

 

LimbarUPm.com – Semua yang sedang dilakukan oleh sekelompok umat Islam, termasuk Buni Yani yang mengupload potongan video pidato Ahok di Pulau Seribu, dan gencarnya penjelasan tentang “haramnya” memilih pemimpin kafir, tak dapat dipungkiri hanyalah upaya untuk mencegah Ahok terpilih sebagai gubernur. Walaupun sering kali juga pura-pura dibantah.Sekarang, bagaimana seandainya pada bulan Februari nanti, atau pada pemilihan putaran kedua, Ahok ternyata menang. Kerugian apakah yang akan diderita umat Islam?
Jawabnya adalah : Tidak ada! Jika Ahok jadi Gubernur lagi, tidak akan ada kerugian yang akan terjadi bagi umat Islam. Semua ketakutan dan kengerian yang digembar-gemborkan selama ini tidak akan pernah terjadi. Semua akan berjalan biasa-biasa saja.
Tidak akan terjadi misalnya, pengangkatan besar-besaran pejabat non Islam. Atau pelarangan jilbab di kantor dan sekolah. Atau pelarangan ceramah. Atau mengganti pelajaran agama Islam dengan agama kristen. Atau atau atau yang selama ini digembar-gemborkan.
Mungkin reklamasi tetap jalan, penggusuran juga. Tapi kalau Ahok kalah pun, reklamasi dan penggusuran pasti lanjut juga. Hanya soal waktu.
Sebaliknya, jika bukan Ahok yang menang, keuntungan apakah yang akan dinikmati umat Islam. Jawabnya juga sama : Tidak ada. Kehidupan akan berjalan seperti biasa saja.

Yang akan terjadi adalah, partai-partai kembali leluasa berebutan anggaran DKI yang besar luar biasa itu, setelah hampir 5 tahun puasa di era Ahok ini. Umat akan segera dilupakan dan ditinggalkan. Al Quran tak akan lagi dipakai, tidak Al Maidah 51, tidak juga ayat yang lain.

Ulama-ulama juga juga tidak akan didengar suaranya, karena kepentingan mereka dengan ulama sudah selesai.
Jadi, apa masalahnya? Memang masalahnya bukan Ahok, bukan juga ada urusannya dengan Ahok. Masalahnya adalah kita sendiri, umat Islam ini sendiri. Yang meninggalkan Al Quran, meninggalkan Islam, cinta dunia, takut mati, sehingga menjadi lemah (wahn).
Bukan Ahok yang kuat, bukan Ahok yang hebat, Ahok bukan siapa-siapa, Ahok is Nobody.

Ahok tidak cerdas, tidak kuat, bukan pemberani, tidak punya pendukung sejati. Kita lah yang lemah, kitalah yang bodoh, kitalah yang tak bersatu. Jadi kuncinya kembali pada kita, kepada para pemimpin kita, kepada mereka yang mengaku ulama. Untuk bekerja keras membangun kekuatan umat, meningkatkan iman dan taqwa umat, mencerdaskan umat, mensejahterakan umat.

Bukan hanya duduk manis di menara gading, asyik menata-nata serban dan jubah, asyik dengan pujian dan status sosial yang tinggi, bayaran yang besar, fasilitas yang mewah, dari bank-bank yang berlabel syariah, dari lembaga-lembaga zakat, dari sekolah-sekolah dan pesantren yang memungut bayaran mencekik.

Umat menanti, Allah dan RasulNya beserta para malaikat akan melihat dan menjadi saksi, siapa yang benar-benar bersungguh-sungguh berjuang, dan siapa yang tidak. Wallahu a’lam.

(Tulisan lanjutan dari sahabat, untuk direnungkan, sebagai pelajaran ummat Islam ‘wallaahu a’lam)
Sumber: AGUS SALIM  via heronesia.com

 

Kisah Hidup, Motivasi

Tong A Fie – Orang Terkaya Asal Medan

img_20161014_140651

Bila di Jawa kita mengenal Oei tiong ham. maka di sumatra juga punya kisah tragis yang lebih menyentuh bak telenovela namun ini adalah kisah nyata.

Tahun 2010 ini, rencananya kisan tjong a fie akan menjadi buku seri biografi sejarah saya yang ke dua setelah oei hui lan. sebelum membaca kisahnya lebih lengkap, ada baiknya anda membaca sedikit kisah ini. Sebuah pelajaran penting memaknai arti sebuah kekayaan yang bernilai tentang berbagi namun takdir bisa mengubah segalanya.

Tahun 1981, Queeny Chang, Putri Tjong A Fie, menerbitkan buku riwayat hidupnya. Tentu saja ia banyak bercerita perihal ayahnya, seorang hartawan yang masih diingat masyarakat luas di Sumatera Utara dan Semenanjung Tanah Melayu sampai kini. Menurut H. Yunus Jahja, semasa kanak-kanak di Medan ustad kenamaan K.H. Yunan Helmy Nasution belajar mengaji di salah satu mesjid sumbangan Tjong A Fie yang juga mendirikan berbagai kuil, gereja dan sekolah.

Pada tahun baru Imlek 1902, ayah mengadakan resepsi tahun baru di rumah kami. Saat itu saya berumur 6 tahun. Ibu memakaikan saya sarung kebaya. Rambut saya yang botak di beberapa tempat akibat baru sembuh dari tifus, disanggul dan diberi beberapa tusuk sanggul berhiaskan intan. Berlainan dengan ibu, saya tidak cantik. Wajah saya pucat dan persegi. Mata saya sayu, bulu mata saya jarang dan alis mata saya tipis berantakan.

Ibu saya mengenakan kebaya dan songket. Rambut ibu yang hitam berkilat dihiasi sederet tusuk sanggul intan dan sekuntum bunga dari intan pula. Pada kebayanya disematkan kerongsang, yaitu bros yang terdiri atas tiga bagian. Yang paling atas berbentuk merak sedang mengembangkan ekornya. Dua yang lebih kecil bentuknya bulat. Perhiasan bertatah intan itu sedang mode di kalangan perempuan di Penang dan Medan.

Dalam resepsi itu, ibu berdiri di sampin ayah. Sikapnya sangat anggun di antara tamu-tamunya yang terdiri atas orang orang terkemuka pelbagai bangsa. Ia sadar akan kedudukan ayah sebagai pemuka golongan cina dan bertekad tidak akan memalukannya. Kalau bercakap-cakap dengan orang asing, ibu berbahasa Melayu dengan fasihnya.

Ayah memegang sebelah tangan saya saat mengucapkan terima kasih kepada para tamu yang memberi selamat. Residen Belanda yang mengangkat saya tinggi-tinggi dan mencium kedua belah pipi saya. Permaisuri Sultan menggendong saya. Mereka tahu ayah sangat mencintai saya dan akan membatalkan resepsi ini kalau saya belum sembuh.

Walaupun ayah memangku jabatan sebagai Luitenant der Chinezen, tetapi sebenarnya ia tidak pernah mendapat pendidikan formal. Begitu juga paman saya, Tjong Yong Hian, yang menjadi kapitein der Chinezen.

 

Kulit Coklat Membawa Rezeki

Ayah saya meninggalkan toko kelontong ayahnya di daratan Cina, ketika ia berusia 18 tahun. Ia menyusul kakaknya, Yong Hian, ke Sumatra. Bekalnya Cuma 10 dolar perak uang Manchu yang dijahitkan ke ikat pinggangnya. Tahun 1880 setelah berlayar berbulan bulan dengan Jung, ia tiba di Labuhan, kota kecil di pantai timur Sumatra. Didapatinya kakaknya sudah menjadi pemuka golongan cina dengan pangkat Luitenant.

Paman mencarikan pekerjaan bagi ayah. Ayah bekerja di toko kelontong Tjong Sui Fo. Pemilik toko itu tertarik pada ayah memberi kesan jujur dan berani. Apalagi karena ia percaya bahwa orang yang kulitnya kecoklatan seperti ayah saya memiliki rezeki besar.

Ayah bekerja serabutan mengurusi pembukuan, melayani para pelanggan di toko, menagih rekening dan melakukan tugas tugas lain. Majikannya puas, karena uangnya tidak tekor sesen pun. Lagipula para pelanggan yang biasanya sulit membayar, bisa dibujuk ayah untuk melunasi utang-utangnya.

Ayah saya pandai bergaul, dengan orang Melayu, Arab, India maupun dengan orang Belanda yang menjajah negeri ini. Ia belajar berbahasa Melayu, yaitu bahasa yang dipakai dalam pergaulan masyarakat pelbagai bangsa di kawasan ini.

Tjong Sui Fo merupakan pemasok barang untuk penjara setempat. Ayah sering mengantarkan barang ke sana dan sempat mendengarkan keluhan para tahanan. Banyak orang Cina ditahan bukan karena melakukan kejahatan, tetapi karena bergabung dalam Serikat Rahasia (Triad). Ayah bersimpati kepada mereka, tetapi ia mencoba menjelaskan bahwa keanggotaan dalam perserikatan itu dilarang oleh hukum.

Lama kelamaan ia mendapat kepercayaan dari berbagai pihak dan disegani di Labuhan. Masyarakat Cina meminta kepada penguasa Belanda agar mengangkat ayah menjadi Wijkmeester (bek, kepala distrik) bagi orang orang Cina. Permintaan ini dikabulkan. Ayah pun berhenti dari Tjong Sui Fo, tetapi tidak pernah melupakan budi mantan majikannya.

Ayah berkantor di Medan. Kantornya ini sebuah bangunan kayu beratap rumbia. Masa itu ayah sudah menikah dengan putri keluarga Chew, suatu keluarga yang terkemuka di Penang dan merupakan pionir pula seperti ayah. Ketika mereka sudah mempunyai tiga orang anak, isterinya yang baru berumur 32 tahun meninggal. Sebagai duda berumur 35 tahun, ayah menikah lagi. Sekali ini dengan seorang gadis berumur 16 tahun, ibu saya.

Terkenal Galak

Ibu saya, Lim Koei Yap, dilahirkan tahun 1880 di Binjai dan tidak pernah bersekolah. Ia tinggal di perkebunan tembakau karena ayahnya kepala manddor di Sungai Mencirim, salah sebuah perkebunan di Deli. Kakek saya memimpin ratusan kuli kontrak, kebanyakan Cina perantauan.

Nenek saya keras dan kolot. Ia menganggap seorang gadis hanya perlu belajar memasak dan mebuat kue, sebab tempat perempuan katanya di dapur. Ibu saya berjiwa pemberontak. Ia sering merasa dirinya lebih pandai daripada saudara saudarnya yang laki-laki Kalau sedang bertengkar, ia sering berkata ,“Lihat saja nanti, saya pasti akan melebihi kalian semua!“ Saudara-saudaranya biasa menjawab ,“ Kamu kira siapa sih kamu ? Istri Tjong A Fie?“ Tidak seorang pun menyangka hal itu akan menjadi kenyataan.

Ibu mencapai umur untuk menikah tanpa pernah dilamar orang. Namun suatu hari kakek didatangi salah seorang comblang dari Medan. Ibu saya dilamar Tjong A Fie.

Kakek merasa sungguh-sungguh mendapat kehormatan, tetapi ia was-was. Perbedaan umur antara Tjong A Fie dan putrinya terlalu besar. Namun di Pihak lain ia ingin cepat-cepat menikahkan putrinya yang terkenal galak ini. Ia sangsi kesempatan baik ini akan terulang.

Ayah mengaku mempunyai seorang istri di daratan Cina, isteri pilihan orangtuanya yang tdiak bisa ia ceraikan, dan yang kini merawat ibunya yang sudah tua, sehingga tidak bisa menyertainya ke Sumatra. Ayah juga mengaku baru kematian istrinya yang lain, yang meninggalkan tiga orang anak, yang seorang anak laki laki berumur 15 tahun dan dua anak perempuan berumur 12 dan 11 tahun. Ibu menghargai kejujuran ayah dan mau menerima lamaran ayah, asal ayah berjanji tidak akan beristri lain. Ayah menerima syarat itu.

Beberapa bulan setelah mereka menikah, ayah naik pangkat sehingga ibu dianggap membawa rezeki. Saya lahir dua belas bulan setelah mereka menikah dan mendapat nama Fuk Yin. Kemudian saya ditinggalkan bersama seorang pengasuh karena ayah membawa ibu ke daratan Cina untuk dipertemukan dengan nenek di Desa Sungkow.

Menurut ibu, ia dimanjakan mertuanya, yang menyebutnya menantu saya yang di perantauan. Dengan sebutan ini nenek ingin menjelaskan bahwa tempat ibu saya adalah di samping ayah saya, sedangkan ibu Lee, yaitu isteri ayah yang di Sungkow, bertugas merawat rumah ayah di sanan dan mengawasi sawah. Nenek yang autokratik tahu bagaimana cara membuat dua menantu berdamai di bawah satu atap. Masing-masing diberi penjelasan bahwa tugas mereka sama pentingnya. Ibu Lee bangga dan puas karena dipercaya mengurus harta suaminya.

Ibu yang Galak dan Memeh yang Manis.

Setelah saya mempunyai seorang adik laki-laik, Fa Liong kami pindah ke rumah baru (kini rumah no. 105 di Jl. Jenderal A. Yani, Medan). Di mata saya rumah itu rasanya besar dan bagus sekali. Dalam upacara pindah rumah, ibu menggendong Fa Liong sedangkan saya dibimbing seorang perempuan jangkung berpakaian gaya Cina. Saya tidak tahu siapa dia.

Karena saya tidak bisa diam, ibu melotot dan menjewer saya. Sebaliknya perempuan berpakaian cina itu manis sekali terhadap saya. Ibu menyuruh saya memanggilnya Memeh (Ibu). Saya juga disuruh memanggil kakak kepada seorang pemuda berusia 19 tahun yang baik sekali kepada saya dan kepada dua orang gadis.

Perempuan dan ketiga orang yang saya panggil kakak itu tinggal di rumah kami. Saya pikir, mereka kerabat kami yang baru datang dari Cina dan belum mempunyai rumah sendiri. Kami biasa makan bersama sama. Memeh selalu memilih daging ayam yang paling empuk untuk ditaruh di mangkuk nasi saya. Kadang-kadang saya tidru dengannya dan mendengarkan dongengannya. Memeh dan ibu selalu tampak bercakap-cakap dengan gembira. Saya berharap Memeh dan ketiga kaka tinggal selamanya dengan kami, karena saya merasa berbahagia bersama mereka.

Saya tidak tahu berapa lama saya hidup berbahagia seperti itu. Mungkin setahun,mungkin beberapa bulan. Tahu-tahu suatu malam saya terbangun karena mendengar ibu dan Memeh berteriak-teriak marah. Saya dengar ibu mengancam Memeh,“Kalau kamu berani mendekat, kamu akan berkenalan dengan pisauku.“

Kemudian ibu masuk ke kamar saya. Ia memakaikan mantel pada saya, lalu diangkatnya adik dari tempat tidur. Diseretnya saya ke luar dari pintu belakang, menuju jalan yang sudah sepi. Ketika saya menangis, ibu menampar saya. Kebetulan di muka rumah kami lewat kereta yang dihela oleh kuda. Dengan kendaraan itu kami pergi ke tengah perkebunan tembakau. Kereta dihentikan di sebuah rumah kayu beratap rumbia yang diterangi lampu minyak. Ternyata itu rumah kakek dan nenek. Ibu minggat dari rumah !

Ibu tidak mau menjumpai ayah dan tidak mau pulang, sehingga kakek dan nenek kewalahan. Kakek meminta ayah membiarkan ibu sampai marahnya reda. Beberapa bulan kemudian, kami dijemput ayah dengan kereta terbuka yang dihela kuda putih. Saat menjemput kami itu ayah mengenakan seragam upacara Luitenant der Chinezen, seperti yang biasa dipakainya kalau diundang ke tempat residen atau sultan. Tiba di rumah, saya tidak menemukan Memeh maupun ketiga kakak. Mereka sudah pergi. Ibu menuntut mereka dipulangkan ke Sungkow. Saya baru tahu bahwa Memeh adalah ibu Lee, istri ayah dari daratan Cina, sedangkan ketiga kakak adalah anak-anak almarhumah Ibu Chew. Saya tidak pernah lagi melihat memeh dan kakak saya yang laki-laki tetapi kedua kakak perempuan saya kemudian kembali dalam kehidupan saya.

Ibu Belajar menulis dan membaca.

Ketika umur saya tujuh tahun, saya mendapat izin khusus dari residen untuk belajar di seklah anak-anak belanda. Sebelumnya ibu meminta saran dan kenalannya, isteri seorang hakim Belanda, perihal pakaian apa yang sepatutnya saya kenakan ke sekolah. Saya mendapat celana dalam sepanjang lutut yang dihiasi renda. Rok dalam katun yang dihiasi pula dan rok terusan sepanjang lutut dan berlengan pendek. Rasanya aneh sekali, karena sangat berbeda dengan pakaian anak cina dan anak pribumi, yang selam ini biasa saya kenakan.

Hari pertama, saya diantar ayah ke sekolah. Saya tidak bisa berbahasa Belanda sepatah pun, tetapi karena umur saya sudah tujuh tahun, saya diterima langsung ke kelas dua. Supaya bisa mengikuti pelajaran, saya disarankan mendapat pelajaran tambahan. Saat saya les di rumah, ibu selalu mengawasi saya dengan cermat dan galak, sambil mengunyah sirih.

Ibu selalu menjaga agar dandanan saya rapi setiap pergi ke sekolah. Pita di rambut saya selalu rapi disetrika. Kalau ada pesta, pakaian saya selalu yang paling indah. Ibu ingin saya merasa tidak lebih rendah daripada gadis-gadis Belanda. Ia tidak perlu kuatir, sebab saya mudah bergaul dan segera dianggap sebagai salah seorang dari mereka.

Ibu bukan cuma memaksa saya belajar, tetapi ia sendiri juga belajar bercakap cakap dalam bahasa Belanda dari seorang guru perempuan. Ia bahkan belajar menulis. Mula-mula bacaannya cuma dongeng-dongeng, tetapi kemudian ia giat membaca tulisan tulisan yang lebih rumit, seperti etiket pergaulan. Ia ingin bisa berbicara dan bersikap seanggun wanita-wanita asing.

Rupanya ia berbakat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Ia pantas bersarung kebaya yang menyempatkan ia mengenakan perhiasan-perhiasannya, tetapi dalam pertemuan-pertemuan yang dihadiri wanita-wanita Eropa, ia mengenakan rok. Seleranya baik. Ia tidak pernah tampak terlalu mencolok. Tidak ada yang menyangka tadinya ia gadis dusun.

Ketika saya belajar bermain piano dari Maestro Paci, ia belajar menyanyi dari Ny. Paci, seorang penyanyi profesional. Dalam pertemuan-pertemuan akrab di rumah kami, kadang-kadang ibu bernyanyi. Sayang ia berhenti belajar ketika suami isteri Paci meninggalkan Mean.

Ketika saya berumur 10 tahun kami mendapat kabar kalau Memeh meninggal. Seminggu setelah itu kakak saya yang laki-laki pun meninggal karena TBC. Padahal ia baru setahun menikah dan meninggalkan seorang bayi laki-laki. Ibu menyuruh saya dan Fa Liong berkabung untuk Memeh. Setahun lamanya saya hanya mengenakan pakaian putih dan biru. Rambut saya diberi pita biru dan kuncir adik saya diikat dengan benang biru.

Tidak lama setelah kematian kakak, ibu melahirkan seorang bayi laki-laki lagi, Kian Liong yang diterima ayah dengan linangan air mata. Hadiah-hadiah mengalir dari para pedagang Cina, berupa perhiasan emas berbentuk naga, singa, unicorn, kalung, gelang kaki yang digantungi bel bel kecil. Sulthan menghadiahkan model miniatur istananya yang ditaruh di kotak kaca. Kursi, meja, pepohonan dan bunga-bunga miniatur pada model itu dihiasi intan kasar. Sementara orang-orang Eropa memberi perlengkapan piring mangkuk perak dengan sendok garpunya, sedangkan orang-orang Arab dan India memberi perhiasan emas gaya mereka sendiri.

Bertemu Belanda “Butut”

Mobil kami yang pertama adalah sebuah Fiat convertible. Kami menyebutnya motor kuning karena warnanya kuning. Saya tidak tahu betapa kayanya ayah, sampai suatu hari ia memberitahu ibu bahwa ia membeli perkebunan karet Si Bulan. Administraturnya seorang Belanda, Meneer Kamerlingh Onnes. Tadinya pria Belanda itu pembuat onar dalam keluarganya, yaitu keluarga terkemuka dan terhormat di negerinya. Ia dikirim ke Hindia Belanda untuk bekerja di perkebunan, tetapi berkali-kali dipecat.

Ayah menemukannya sedang duduk melamun menghadapi gelas kosong di hotel Medan. Belum pernah ayah melihat seorang kulit putih berpakaian compang camping dan bersepatu butut seperti itu, sehingga ayah ingin tahu siapa dia dan mengapa bisa sampai begitu. Setelah mendengar ceritanya, ayah terkesan oleh kejujurannya dan menawarkan pekerjaan sebagai administratur perkebunan. Tidak pernah kedua orang itu merasa menyesal.

Ketika usaha ayah di bidang perkebunan maju, Meneer Kammerlingh Onnes diserahi menjadi kepala pengawas semua perkebunan itu: Perkebunan karet, kelapa , teh. Ayah merupakan orang Cina pertama yang memiliki perkebunan-perkebunan karet di daerah ini dan yang pertama pula memperkerjakan orang-orang Eropa.

Keturunan Pesilat dan Bajak Laut

Paman saya Tjong Yong Hian dan ayah mendirikan sekolah dan rumah sakit tempat orang-orang yang kurang mampu bisa mendapatkan perawatan gratis. Mereka menyumbang kelenteng-kelenteng, gereja-gereja, mesjid-mesjid, maupun kuil-kuil Hindu. Mereka pun mengirimkan sumbangan ke daratan Cina untuk korban paceklik dan banjir. Mereka mendirikan sekolah-sekolah untuk anak-anak petani di desa kelahiran mereka. Mereka membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan dan bahkan membuka perusahaan kereta api Chao Chow dan Swatow dekat tepat kelahiran mereka, sehingga paman yang lebih ambisius mendapat gelar kehormatan Menteri Perkeretaapian dari pemerintah Mancu dan diterima beraudiensi oleh Kaisar Janda Cixi. Kalau ia naik tandu ke desanya, di depan tandunya selalu ada pembuka jalan yang menabuh gong dan pendudukpun berlutut di tepi jalan.

Namun paman meninggal tidak lama kemudian. Ayah menggantikannya menjadi Kapitein der Chinezen. Ketika itu saya sudah lulus SD dan mendapat tambahan adik laki-laki lagi, Kwet Liong. Ayah mengusahakan agar kakek saya dari pihak ibu menjadi Luitenant der Chinezen di kota minyak Pangkalan Brandan. Pengangkatan ini pasti dipergunjingkan orang, tetapi ayah merasa ia mempunya alasan. Untuk menguasai orang-orang Cina di tempat itu diperlukan orang kuat. Mereka kebanyakan Hai Lok Hong yaitu keturunan para pesilat dan bajak laut, sedangkan kakek saya sendiri seorang Hai Lok Hong. Akhirnya, semua orang puas dengan pilihan ayah.

Dijodohkan

Ayah saya menyediakan tanah untuk sekolah Metodis di Medan, yang diurus keluarga Pykerts. Keluarga ini sendiri tinggal di Penang. Kalau sedang berada di Medan, mereka tinggal di rumah peristirahatan milik ayah di Pulu Branyan. Di Tempat ini ayah mempunyai kebun binatang. Kami bukan hanya memelihara burung seperti kakaktua atau kasuari, tetapi juga ular, jerapah, zebra, kangguru dan keledai kelabu.

Kemudian keluarga Pyketts mengundang kami ke Penang. Ibu memenuhi undangan itu dengan mengajak Fa Liong, Jambul (Kian Liong) dan saya.

Dalam salah satu perjamuan yang diadakan keluarga Pyketts di Penang ini , kami berjumpa dengan seorang wanita cantik yang sangat fasih berbahasa Inggris. Ternyata ia Ny. Sun Yat Sen yang singgah dalam perjalanan ke Cina. Sun Yat Sen adalah presiden pertama Republik Cina. Ia dipuja oleh Cina Komunis maupun Nasionalis.

Pernah orangtua saya berniat menyekolahkan saya ke Belanda. Namun setelah saya lulus dari SD, hal itu tidak pernah disebut sebut lagi. Saya malah disuruh belajar memasak dan menjahit, dua hal yang tidak mampu saya lakukan dengan baik sehingga saya terus menerus dimarahi ibu.

Suatu malam, kakak saya berlainan ibu, Song Yin memberitahu saya bahwa saya sudah dipertunangkan dengan seorang pria dari daratan Cina.

“Apa? Dipertunangkan?” tanya saya. “Ibu tidak memberitahu saya. Saya akan dinikahkan dan pergi ke Cina?” Malam itu Song Yin mengajak saya ke kamar ayah kami. Dari lemari ia mengeluarkan sehelai foto yang memperlihatkan seorang pemuda Cina dalam pakaian tradisional dan berkopiah. Wajahnya tampan, tetapi pakaian itu membuat ia tampak tidak menarik bagi saya. Song Yin membuka lipatan sebuah saputangan sutra merah dan didalamnya terlihat sepasang gelang emas berukuir aksara Cina.

Ini calon suamimu dan gelang emas ini tanda pertunangan. Paman kita yang mengatur pernikahan ini tiga tahun yang lalu, ketika kamu baru berusia 13 tahun,” katanya, ayah kami harus menurut kata-kata kakaknya dan janji yang sudah dibuat tidak boleh diingkari.

“Mengapa bukan kakak Fo Yin saja yang dijodohkan dengannya?” tanya saya. Fo Yin adalah anak angkat paman. “Fo Yin lebih tua,”jawab Song Yin. Ia membujuk saya,”Jangan sedih, Dik. Kamu akan menjadi menantu orang yang sangat kaya dan sangat dihormati.

Lebih Suka Main boneka daripada Menjadi Pengantin.

Saya mulai belajar bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dari Mrs. Smith, seorang perempuan Australia dan melanjutkan belajar memainkan piano. Ternyata keluarga calon suami saya, keluarga Lim, ingin pernikahan kami tidak ditunda-tunda lagi. Menurut peramal tanggal tiga bulan sepuluh pada tahun tikus (1912) merupakan tanggal dan tahun baik.

Teman saya, Minnie rahder, putri residen, terpesona melihat kamar pengantin yang dipersiapkan untuk saya. “ Kau gadis yang bahagia,” katanya. Padahal saya lebih menghargai kiriman boneka dari Sinterklas yang matanya bisa dipejam dan terbuka.

Orangtua saya menyediakan bekal pernikahan yang berharga, sebab anak perempuan yang tidak dibekali secukupnya akan dhina oleh keluarga suaminya.

Calon pengantin pria tiba diiringi 12 pengantar yang terdiri atas pamannya, seorang governess (guru pribadi)Amerika, seorang sekretaris berkebangsaan Eropa, seorang sekretaris Cina, empat pelayan, seorang koki dan seorang budak perempuan untuk melayani governess. Mereka ditempatakan di Pulu Branyan yang akan menjadi kediaman sementara kami sebelum berangkat ke Cina.

Fa Liong yang saat itu berumur dua belas, ikut ayah menjemput mereka. Ketika kembali, ia berkata kepada saya,“Kak, calon suami kakak sama tingginya dengan saya. Pasti ia cuma sepundak kakak.“

“Bohong! Dia kan sudah berumur dua puluh,” kata saya.

“Masa bodoh kalau tidak percaya. Pokoknya, dia pendek,” saya jadi kuatir. Ganjil betul kalau pengantin perempuan jauh lebih tinggi daripada suaminya.

Saya dengar ibu bercerita kepada bibi bahwa paman calon pengantin pria mengatakan: pelayan pelayan yang dibawa oleh pengantin perempuan langsung dianggap selir pengantin pria. Tentu saja ibu saya protes. Anak saya dilahirkan di negara yang diperintah oleh seorang ratu dan kami disini hanya boleh punya satu istri !” Konon paman pengantin pria tidak tersenyum mendengar protes ibu. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, ibu tidak jadi membawakan dua pelayan perempuan bagi saya, padahal mereka sudah didatangkan dari desa ayah.

Terakhir Kali main Kuda-kudaan.

Malam sebelum hari pernikahan saya, Fa Liong mengajak saya bermain kuda kudaan, seperti sering kami lakukan kalau ibu sedang tidak berada di rumah. Saya memasang tali kendali di bahu Fa Liong, lalu ia berlari dan saya mengikutinya sambil memegang kendali dan cambuk mainan. Sementara itu kami berteriak-teriak sambil saya mengejarnya di kebun dan di dalam rumah.

Pesta pernikahan saya dihadiri antara lain oleh Sulthan dan residen. Lalu tibalah saatnya saya dibiarkan berduaan saja dengan suami saya. Saya merasa canggung. Saya hanya bisa berbahasa Hakka bercampur melayu. Suami saya hanya bisa berbahasa Hokkian. Berkat Mrs. Grey, governess suami saya, bahasa Inggris saya maju pesat selama kami berada di P. Branyan. Sebenarnya suami saya lebih suka kalau saya belajar berbahasa Hokkian,sebab ibunya hanya paham bahasa itu.

Sebulan kemudian kami melakukan kunjungan perpisahan, antara lain pada Sulthan Deli yang memanggil saya,”Putriku”, Permaisuri mendekap saya, seakan-akan saya mash gadis kecil yang dulu sering bermain ke istananya. Sultan dan permaisurinya menjamu kami. Sejak kecil saya sering datang ke istanan, sehingga saya tidak merasa asing di sana. Tidak demikian dengan Mrs. Grey, governess suami saya yang terkesan sekali melihat perhiasan yang dikenakan sultan dan keluarganya. Akhirnya, tibalah saatnya untuk meninggalkan ayah, ibu , adik-adik dan semua yang saya kenal.

Saya tidak memiliki pakaian Cina. Jadi saya berkunjung ke rumah sanak

keluarga dengan mengenakan pakaian gaya Eropa. “Kamu cantik dengan

pakaian seperti itu,” kata ibu mertua saya. “Jangan perdulikan apa kata

orang lain. Orang-orang di Amoy ini kolot-“

menantu barbar

Ketika kami turun dari kapal di Amoy, banyak sekali orang menyambut. Bunyi petasan memekakkan telinga. Saya diapit oleh empat penyambut perempuan yang berpakaian indah. Dalam Congafie1_1perjalanan berulang-ulang mereka mengucapkan sesuatu yang tidak dipahami. Ternyata saya diminta berjalan perlahan-lahan. Akhirnya saya sadar bahwa kaki mreka kecil karena diikat, sehingga tidak bisa berjalan dengan leluasa.

Saat akan naik ke dalam tandu kepala saya terantuk atapnya. Maklum saya belum pernah naik benda yang diusung manusia itu. Saya dibawa ke sebuah bangunan bergaya Barat untuk menghadap mertua saya. Mertua perempuan saya cantik. Sesudah upacara penghormatan selesai, mertua laki-laki saya bangkit diikuti mertua perempuan dan kami. Kami mesti menurun tangga. Karena melihat kaki ibu mertua saya kecil, saya khawatir ia terjatuh. Secara spontan saya bimbing lengannya Terdengarlah suara terkejut dari kaum perempuan yang menyaksikan adegan ini. Saya tidak mengerti apa yang mereka katakan jadi saya tetap saja membimbing lengan ibu mertua saya. Ternyata tindakan saya itu dianggap menyalahi tatacara. Mestinya mertua yang menuntun menantu, bukan menantu yang menuntun mertua. Akibatnya, saya disebut barbar.

Ternyata mertua laki laki saya sangat kaya. Ia memiliki enam selir yang melayani pelbagai kebutuhannya.

Perempuan yang Mencurigakan

Pada saat suami saya masih orang asing bagi saya, saya harus hidup dalam lingkungan yang bahasa, kebiasaan dan orang-orangnya tidak saya kenal. Untunglah ibu mertua saya termasuk salah seorang yang paling manis dan paling agung yang pernah saya jumpai dalam hidup ini.

Suatu hari kakak perempuannya datang dari desa. “Menantumu jauh dari cantik, “Kakinya menyeramkan besarnya. Apa betul ia seorang putri barbar ?” Konsepsinya mengenai kecantikan ialah kerempeng seperti pohon Yangliu (Willow), kaki Cuma 7,5 cm panjangnya dan bentuk wajah eperti kuaci. Saya tidak memiliki semuanya.

Mertua saya menanggapi, “Tidak perduli bagaimanapun rupanya dan siapa da, dialah perempuan yang kuhendaki menjadi isteri putraku.”

Saya tidak memiliki pakaian Cina. Jadi saya berkunjung ke rumah sanak keluarga dengan mengenakan pakaian gaya Eropa. “Kamu cantik dengan pakaian seperti itu,” kata ibu mertua saya. “Jangan perdulikan apa kata orang lain. Orang-orang di Amoy ini kolot-“

Pada hari tahun baru, saya satu-satunya orang yang mengenakan pakaian gaya Eropa. Saya merasa canggung, tetapi Mrs. Grey memuji saya dan berkata saya seperti ratu. Sejak hari itu ia memanggil saya Queeny, yang sepadan dengan nama suami saya , King Jin yang selalu dipanggil King.

Pada tahun baru kedua di tempat yang jauh dari orangtua saya ini, saya melihat seorang perempuan muda di antara kami, yang melirik kepada saya seakan akan mengejek. Ia cantik dan kelihatannya tidak asing di rumah itu. Setelah menemui ibu mertua saya, ia masuk ke ruang tempat suami saya main mahyong dengan adiknya dan adik ibu mertua saya. Saya melihat perempuan itu berdiri di belakang kursi suami saya dengan tangan diletakkan di pundah suami saya.

Saya bertanya kepada seorang pelayan tua,”Mui-ah , siapa sih perempuan muda berpakaian sutera biru itu ?”

“Oh, itu !” jawah Mui-ah dengan sikap jijik. “Tadinya dia pelayan Nyonya besar.” Kata Mui-ah yang polos itu, perempuan itu pernah mempunyai hubungan asmara dengan suami saya sebelum pernikahan kami. Ia ingin dijadikan selir, tetapi ibu mertua saya memulangkannya ke desa.

Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya harus mengendalikan diri. Saya merasa seperti ada sesuatu yang patah di dalam diri saya. Sakit seperti itu belum pernah saya rasakan. Padahal saya tidak mempunyai seorang pun untuk mencurahkan isi hati. Ketika itu saya sedang mengandung.

Ketika hal itu saya tanyakan kepada suami saya, ia menjawab acuh tak acuh,“Semuanya kann sudah lewat. Sekarang ia sudah menikah,“ Luka itu meninggalkan bekas yang tidak bisa hilang dari hati saya.

Saya melahirkan seorang bayi laki-laki, Tong tahun 1914. Ayah mertua saya bangga karena pada hari ulangtahunnya yang ke-40 ia sudah mempunyai cucu.

Bertemu calon Raja Karet.

Di Masa yang lalu, anak perempuan yang sudah menikah tidak boleh berkunjung ke rumah orangtuanya, kecuali kalau diundang. Setelah kelahiran Tong, ayah menulis surat kepada besannya, untuk mengundang suami saya dan saya serta bayi kami ke rumahnya di Medan. Mertua saya memberi izin dengan syarat Tong ditinggalkan pada mereka.

Kami pun berlayar ke selatan. Di Pelabuhan, kami dijemput dengan gerbong kereta api milik sultan pribadi. Kendaraan itu pula yang mengantarkan kami pergi dua tahun sebelumnya. Di Medan, masyarakat Hakka dan Hokkian bersama sama menjemput kami, karena ayah mertua saya adalah tokoh masyarakat Hokkian di Cina.

Ketika saya berangkat ke Amoy, tubuh saya termasuk montok Kini saya kembali ke Medan dalam keadaan langsing. Satu setengah bulan berlalu dengan cepat dan saya pun harus kembali ke rumah mertua.

Menjelang musim gugur, kesehatan suami saya mundur. Diperkirakan iklim tropis baik baginya. Jadi kami diperbolehkan pergi ke Medan lagi, asal Tong ditinggalkan di Amoy. Tentu saja ayah senang menerima kami.

Di Kapal, kami berkenalan dengan seseorang bernama Lee Kong Chian yang kami undang untuk berkunjung ke tempat ayah. Suami saya mengajaknya berkeliling meninjau perusahaan-perusahaan ayah, di antaranya ke perkebunan dan ke Deli Bank yang bersaing dengan bank-bank barat. Tampaknya seluruh Medan ini milik ayah mertuamu,“Komentarnya kepada suami saya.“ Kalau melihat semua ini, tidak sulit buat kamu memulai usaha sendiri.“

Suami saya dengan penuh keyakinan berkata,“ Kalau ayah mertua saya bisa, mengapa saya tidak?“ Lee menjawab,“ Mertuamu mulai dari bawah. Ia tahu apa artinya kegigihan, sedangkan kamu lahir sebagai anak orang kaya.“

Ayah menawarkan beasiswa kepada Lee, tetapi ia menolak. Ia lebih suka bekerja di sebuah perusahaan sepatu karet yang besar di Singapura, milik Tan Kak Kee. Ketika suatu hari kami mengunjungin ya di Singapura, ternyata ia tinggal di sebuah kamar sempit yang lembab dan berbau karet. Pulang dari sana, suami saya menghela nafas. “Ah, teman kita yang malang,” katanya. Kami tidak pernah menyangka bahwa kelak Lee Kok Chian akan menjadi raja karet yang termasyhur.

Dianggap membawa rezeki

Kami merayakan tahun baru Imlek di Amoy, kemudian ayah saya genap berdinas 30 tahun pada pemerintah Hindia Belanda dan peristiwa itu akan dirayakan besar-besran. Ketika itu ibu saya baru melahirkan seorang anak laki laki lagi, lee Liong. Artinya adik saya ini lebih muda daripada putera saya.

Tidak lama setelah itu ayah menandatangani kontrak pendirian Batavia bank di Batavia dengan Majoor der Chinezen Khouw Kim An dan Kapitein Lie Tjian Tjoen serta beberapa orang lain. Dari 600 saham, ayah memegang 200 di antaranya. Suami saya dijadikan manajer Deli Bank di Medan dan kami mendapat rumah di daerah elite di Medan. Di rumah baru ini kami bisa berbuat sekehendak hati karena lepas dari pengawasan ibu.

Ketika kami pergi ke Amoy untuk merayakan tahun baru Imlek,suami saya membawa hadiah kerongsang (bros bertatah intan) untuk ibunya. Ibu mertua saya sangat senang. Suami saya kini dipandang tinggi, sebagai seorang yang sudah berpenghasilan. Orang-orang yang dulu menganggap saya barbar, kini berpendapat bahwa saya isteri pembawa rezeki. Walaupun demikian, kami tetap tidak boleh membawa Tong ke Medan.

Bulan November tahun 1919 itu, ibu melahirkan anak ketujuh. Seorang anak laki-laki lagi, Tseong liong, yang biasa kami panggil adek.

Bank Baru Pembawa Petaka

Atas saran beberapa orang suami saya mendirikan bank baru, Kong Siong Bank, saya menganggap tindakan ini tidak sehat, sebab bank baru ini bisa saja mempunyai kepentingan yang berlawanan dengan Deli Bank milik ayah, tempat ia menjadi manajer pelaksana.“Tidak , kedua bank ini akan bekerja sama,“dalih suami saya. Katanya, ia mempunyai orang kepercayaan untuk mengelolanya. Ternyata Kong Siong Bank merosot dari hari ke hari dan tidak bisa melaksanakan kewajiban-kewajibannya.

Bukan cuma keluarga kami yang menghadapi masalah-masalah dengan generasi mudanya. Putra sulung paman Yong Hian, memang menjadi konsul Republik cina di Mean, tetapi adik-adiknya yang laki-laki seperti Kung We, Kung Lip dan Kung Tat sering membuat heboh dengan cara hidup mereka yang berlebihan. Isteri mereka saling bersaing dalam perhiasan dan pakaian. Sementara mobil-mobil mewah mereka yang selalu baru, memamerkan diri sepanjang jalan jalan kota Medan. Ayah risau dan bahkan sempat sakit karena para kemenakannya ini ada yang mengalami ketekoran dana di Deli Bank. Selain itu mereka membuat orang iri dan menimbulkan celaan serta pergunjingan. Para orang kaya baru ini betul-betul tidak menghormati jerih payah orang tuanya dalam mencari uang dan tidak menghargai warisan.

Bibi Hsi, ibu mereka yang terbiasa tinggal di desa di daratan Cina, sebaliknya hidup hemat dan sederhana sekali di Medan. Ia tidak pernah iri pada kemewahan orang lain, sehingga luput dari celaan.

Kaum muda ini rupanya tidak menginsafi dampak PD I di Eropa terhadap ekonomi dunia. Pada masa itu juga para penjudi profesional dari Penang memperkenalkan judi pei-bin di Medan. Banyak orang tergila-gila pada judi dengan akibat usaha mereka rusak tanpa bisa diperbaiki lagi.

Ayah merasa sudah Tua.

Tahun 1920 yang penuh gejolak itu ayah dan ibu merayakan pernikahan perak mereka. Ayah tidak mau orang-orang menghamburkan uang untuk hadiah baginya, sehingga perayaan hanya diadakan di antara keluarga. Walaupun sederhana, semua orang gembira. Saya terkenang kembali masa saya masih kecil.

Ayah merasa ia sudah tua. Ia sudah menyiapkan 12 rumah atas nama ibu yang diharapkan akan memberikan penghasilan yang cukup bagi ibu di masa yang akan datang. Walaupun ibu galak, ia tidak serakah. Ia menolak hadiah ini, seperti ia menolak membeli perhiasan seperti yang dipakai isteri rekan rekan ayah dari Jawa.

Ayah memberi sepuluh ruko untuk saya, yang memberi penghasilan hampir seribu gulden sebulan. Dua diantaranya dipakai untuk Kong Siong bank.

Suatu sore awal tahun 1921 ayah memberi tahu ia sudah menerima cetak biru kapal 6000 ton yang dipesannya dari Jepang. Kapal ini bisa dipakai mengangkut penumpang maupun barang. Rencananya ia akan membawa kami ke Eropa dalam perjalanan perdana dan untuk keperluan itu ia sudah belajar berbahasa Inggris.

Hari itu kami berpisah pukul 22.00. Malamnya tiba-tiba saya dibangunkan pesuruh ayah saya.”Non, dipanggil Nyonya besar. Tuan besar tidak enak badan,“kata Amat. Saya gemetar dan segera ikut ke rumah ayah saya. Ayah saya terengah engah di ranjang. Dr. Van Hengel yang memeriksanya berkata,“Anda tidak apa apa, Majoor, cuma terlalu keras bekerja.“Ia meminta ayah untuk beristirahat dan memang ayah tenang kembali.

Keesokan harinya ibu menyuruh saya pergi ke Pangkalan Brandan, untuk berdoa di makam kakek dan nenek saya dari pihak ibu. Tahu tahu saya disusul ke sana dan diminta segera kembali ke Medan. Saya sangat risau sebab merasa keadaan ayah memburuk. Tiba di depan ruamh, saya sudah melihat kesibukan yang tidak biasanya. Jambul (Kian Liong) berlari menyongsong saya.“ Ayah meninggal, katanya.

Saya bengong memandang Jambul tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun. Seseorang membimbing saya masuk ke ruang besar tempat pemujaan arwah nenek moyang. Ayah berbaring mengenakan jubah panjang biru dan jas pendek hitam. Matanya tertutup rapat, tetapi bibirnya terbuka sedikit seperti ingin mengucapkan sesuatu. Hanya saja tidak ada suara yang keluar.

Saya membenamkan wajah saya ke lipatan lengan jubahnya yang lebar dan menangis.“Bawa dia pergi,“seru seseorang.“Jangan biarkan air mata menetes ke jenazah. Nanti almarhum lebih berat lagi meninggalkan dunia fana ini.“ Ketika saya dibawa pergi, saya mendengar seseorang berkata,”Dia anak kesayangannya.”

Saat itu adik bungsu saya, Tseong Liong, belum mengerti apa-apa. Saya melihat ia membakar kertas perak dengan kakak-kakaknya. Orang-orang terlalu sibuk untuk menghapuskan jelaga dari wajahnya. Kertas perak itu dibakar untuk memberi bekal kepada ayah kami dalam perjalanannya ke alam baka. Ayah meninggal karena pendarahan otak 8 Februari 1921 atau tanggal 27 bulan 12 tahun monyet menurut penanggalan Cina.

(Catatan Redaksi: Menurut sumber-sumber lain, diantaranya Leo Suryadinata dalam Prominent Chinese Indonesia, Tjong A Fie bunuh diri akibat resesi, perusahaan perusahaannya mundur dan ia tidak bisa membayar cek sebesar 300.000 gulden yang dikeluarkan oleh Deli Bank. Ketika berita itu tersebar, nasabah Deli Bank berlomba-lomba menarik simpanan mereka. Tjong A Fie tidak bisa melihat kenyataan ini, sehingga ia mengakhiri hidupnya sendiri).

Pembagian Warisan

Notaris Fouquain de Grave bersama wakilnya dan juru tulisnya datang membacakan surat wasiat ayah. Semua keturunan ayah , baik laki laki maupun perempuan mendapat warisan tanpa kecuali. Begitu pula putra angkatnya (anak angkat Ibu Lee) dan cucu dari putra angkatnya itu. Ayah menunjuk isterinya sebagai satu satunya executive testamentaire dan wali bagi anak anaknya yang masih di bawah umur. Semua harta peninggalannya, yang bergerak maupun yang tidak bergerak, sesudah dikurangi dengan yang diberikannya kepada anak-anak perempuannya sebagai bekal pernikahan, dimasukkan ke dalam Yayasan Toen Moek Tong, yang harus didirikan saat ia meninggal, di Medan dan di SungKow

Keturunannya yang pria menjadi ahli waris yang sah dari yayasan itu, yang tidak bisa dibagi, dibubarkan ataupun dijual. Mereka akan menerima persentase dar hasil yayasan itu selama hidup. Selain itu ada persentase untuk mengurus rumah keluarga dan untuk amal. Mereka masing-masing akan menerima 150.000 gulden pada saat menikah. Jika salah seorang ahli waris menjadi invalid karena sakit, cacad sejak lahir, atau mengalami gangguan jiwa, yayasan akan menyokongnya selama hidup.

Orang-orang berdatangan dari tempat-tempat jauh seperti Jawa untuk menunjukkan rasa hormat kepada ayah. Sementara itu para pengemis berbaris di jalan, menunggu makanan dibagikan setiap kali suatu upacara selesai dijalankan.

Enam Puluh Tahun Terakhir

Enam puluh tahun telah lewat. Saat itu keluarga Kwet Liong, Lee Liong dan Tseong Liong serta saya sendiri masih tinggal di rumah besar yang didirikan ayah. Umur saya sekarang (Ketika buku ini ditulis 1981,Red) 84 tahun. Bagaimana caranya menceritakan peristiwa-peristiwa selama kurun waktu 60 dalam sebuah bab yang pendek?

Suami saya tidak berbakat menjadi pengusaha seperti yang diinginkannya. Tahun 1926 ketika kami pulang ke Amoy, kedua mertua saya dalam keadaan tidak sehat sehingga dianjurkan berobat ke Swiss. Ayah mertua saya beserta sejumlah pengiringnya dan kami berangkat tanpa ibu mertua saya. Ia diharapkan menyusul setahun kemudian, tetapi keburu meninggal. Enam tahun lamanya kami tinggal di Eropa. Saya mendapat kesempatan belajar bahasa Jerman dan Prancis. Sebagai satu-satunya orang yang memahami sejumlah bahasa Eropa modern dalam rombongan kami, saya bertindak sebagai penerjemah.

Tahun 1931 kami kembali ke Cina. Selama tiga tahun berikutnya saya menjadi Liaison Offiser menteri luar negeri di Nanking. Di sini saya bertemu dengan Prof. Duivendak, seorang sinolog Belanda yang merasa senang bisa bercakap-cakap dalam bahasanya dengan saya di tempat asing.

Kemudian saya diminta ibu menjadi manajer pelaksana perusahaan kereta api yang didirikan ayah bersama Paman Yong Hian di Swatow. Ketika pecah peang, pemerintah mengharuskan jaringan kereta api dibongkar. Dalam perang itu suami saya dan teman temannya pergi ke Manchuria sedangkan saya mengungsi ke Hongkong lalu Medan. Saya tidak pernah melihat suami saya lagi. Ia meninggal di Manchuria karena kanker paru-paru. Saya bahkan tidak bisa menghadiri pemakamannya.

(Catatan Redaksi: Myra Sidharta, seorang psikolog Lulusan Rijksunivesiteit Leiden, Belanda yang mantan dosen di jurusan sinolog Fakultas sastra Universitas Indonesia, pernah mewawancarai Queeny, suaminya mempunyai seorang kekasih seorang perempuan Swiss yang dibawa ke Cina tahun 1931, setiba di Amoy, Queeny juga mendapatkan seorang anak perempuan di rumah mertuanya, yang ternyata anak suaminya dengan seorang perempuan Jepang pada saat mereka belum berangkat ke Eropa. Karena tidak bisa menerima kehadiran selir suaminya, Queeny pamit kepada ayah mertuanya untuk meninggalkan Amoy. Saat itu putra Queeny, Tong berada di Eropa dengan Ny. Tjong A. Fie)

Dalam PD II, Jepang menduduki Indonesia selama tiga setengah tahun. Seusai perang, ibu mengirim saya ke Swatow kembali untuk mengurus kereta api. Ternyata perusahaan kereta api tidak bisa didirikan lagi. Di bekas jalan kereta api itu dibangun jalan raya. Jadi, kami mengusahakan armada bus di sana. Usaha itu berjalan dengan baik. Tampaknya keluarga Tjong akan bangkit kembali, tetapi pemerintah komunis berhasil menguasai Cina. Saya melarikan diri ke Medan sedangkan keluarga suami mengungsi ke Taiwan bersama pemerintah Kuomintang.

Selama dua puluh tahun sesudah itu, saya bepergian ke seluruh Indonesia. Kadang-kadang saya menjenguk keluarga mertua saya di Taiwan. Putra saya Tong menjadi warga negara Singapura. Tahun 1970 ia meninggal akibat kanker mulut.

(Menurut Queeny Chang kepada Myra Sidharta, ia memiliki lima cucu dan beberapa buyut. Ia berhubungan baik dengan anak-anak tirinya, terutama dengan anak tiri yang beribu Jepang, yang kini menjadi pelukis terkemuka di Taipei.)

Ibu berumur panjang. Ketika ibu meninggal tahun 1972, umurnya 93 tahun. Adik saya Sze Yin (Nonie), bersama janda Lee Liong dan saya merawatnya sampai ibu dijemput ajal. Betapa terharunya kami ketika masyarakat Medan ternyata menaruh banyak perhatian pada pemakamannya.

Tahun 1974 saya berkunjung ke Eropa lagi dan kenang-kengangan lama kembali lagi pada saat saya melihat tempat-tempat yang saya kenal baik. Sekarang, selain tinggal di Medan, saya melewatkan sebagian besar waktu saya di Brastagi, di sebuah tempat peristirahatan milik Lee Rubber (perusahaan milik Raja Karet Lee Kong Chian – Red).

Desember 1976 saya terbang dari Jakarta ke Penang untuk menghadiri ulang tahun ke 70 Kian Liong. Ia mengajak saya dan sanak keluarga kami berziarah ke Kek Lok Si, sebuah kuil Buddha di Ayer Itam. Kami menyampaikan persembahan pada ayah kami yang patungnya ada di sana bersama patung para penyumbang pertama pendirian kuil itu di akhir abad XIX lalu.

Alangkah terharunya saya mengetahui orang tua kami masih diingat dengan rasa hormat. Ziarah itu menggugah saya untuk menulis buku ini, sebagai peringatan akan ayah saya yang memberi say masa masa paling bahagia dalam hidup saya. Seperti kata penyair word sworth:

“Walaupun tidak ada yang bisa mengembalikan kemegahan rerumputan

Dan semarak bunga-bungaan. Kami tidak akan bersedih hati melainkan akan menemukan kekuatan dari yang tertinggal.“

(Memories of a Nonya, Eastern Universities Press. Sdn. Bhd.)

Catatan Redaksi: Setelah tulisan ini dimuat dalam Majalah Intisari Mei 1982 (Ketika itu Queeny Chang masih hidup), seorang pembaca bernama Amir Hamzah, mantan Kepala Polisi Kota Medan dan sekitarnya, menanggapinya demikian:

Pikulan Tidak Dilupakan Walaupun Sudah Kaya Raya

Pada Masa Kanak-kanak, saya tinggal di Medan, di daerah yang bernama Gudang Es. Tempat itu tidak jauh dari Istana Sultan Deli, Sultan Ma’mun Al Rasjid Perkasa Alamsjah.

Di tempat itu ada Gang Mantri yang dihuni ayah Sutan Sjahrir yaitu Mangkuto Sutan, Hoffd Djaksa Gubernemen di Medan. Gang Mantri adalah tempat tinggal orang-orang berpangkat tinggi masa itu.

Selain itu, tempat tinggal saya berdekatan dengan rumah Tjong A Fie, hartawan dan sosiawan. Di antara sekian banyak orang yang dibantunya mendirikan surau, ternyata seorang ulama besar dari Bukit tinggi, Sjekh Mohamad Djamil Djambek dan paman saya yang mendirikan surau bertingkat di Matur, Bukittinggi.

Tjong A Fie mempunya cara menolong orang-orang yang akan pindah. Biasanya mereka melelang perabot rumah tangganya. Tjong A Fie akan menyuruh anak buahnya membeli perabot satu ruang penuh dengan harga mahal sekali. Sesudah dibayar perabot itu ditinggalkan begitu saja sehingga bisa dilelang sekali lagi.

Pada suatu hari di tahun 1921, ketika saya berumur 6 tahun, teman teman sepermainan berteriak:teriak:”Tjong A Fie mati! Tjong A Fie mati!” Kamis segera pergi ke rumah Tjong A Fie yang besar itu di Kesawan. Di muka rumah kami lihat bendera pelbagai ragam dan kertas-kertas perak bertaburan, sementara beratus ratus orang datang.

Di Muka rumah Tjong A Fie itu, kalau tidak salah pada sebuah toko, terpampang lukisannya dalam ukuran besar sekali. Kami melihat berpuluh puluh orang Cina miskin berjongkok di seberang rumah sosiawan itu, menantikan sedekah.

Kami anak-anak kecil menerobos saja masuk. Kalau saya tidak ingat, dekat peti jenazah ditaruh sebuah pikulan dagang. Konon itu pikulan yang dipakainya menjajakan barang ke sana kemari sebelum ia kaya raya

Ketika sampai 1953 saya menjadi Kepala Polisi Kota Medan dan sekitarnya, saya bergaul dengan keluarga Tjong A Fie. Salah seorang diantaranya biasa disebut Zus A Foek. Ia sangat fasih berbahasa Hakka, Hokkian, Belanda , Inggris, Jerman , Prancis maupun Indonesia. Ia tidak lain daripada Queeny Chang penulis buku Memories of a Nonya.

Suatu hari, ketika kami diundang ke rumah mreka, di sana kami mendengarkan dr. Djulham dari Binjai memainkan biola. Putri dr. Djulham adalah Trisuri Juliati Kamal yang sekarang menjadi pemain piano terkenal dan tinggal di jakarta. Itulah kenang-kenangan yang saya peroleh dengan keluarga Tjong A. Fie.

Kisah Hidup, Motivasi

Memang Ayah Tak Menyusuimu, Tapi Setiap Tetesan Keringat Ayah Menjadi Air Susu Yang Membesarkanmu

472047392
Foto:Ayah menangis (LBR)
LimbarUPm.com,- Pembaca yang budiman, terkadang kita menyangka ayah kita adalah sosok tegar dan tak pernah menangis. Sosok yang tidak pernah bersedih bahkan tak mungkin bersedih. Tapi apakah memang benar seperti itu?. Pembaca sholihah yang budiman, mari simak sebuah tulisan renungan yang akan membuat kita segera ingin memeluk ayah kita. Redaksi sholihah kutip dari 8intisari.blogspot.com

Mungkin ibu lebih kerap menelpon untuk menanyakan keadaanku setiap hari, tapi apakah aku tahu, bahwa sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneleponku?
Semasa kecil, ibukulah yang lebih sering menggendongku. Tapi apakah aku tau bahwa ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian, walau beliau tak bertanya langsung kepadaku karena saking letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku.
Saat aku sakit demam, ayah membentakku “Sudah diberitahu, Jangan minum es!” Lantas aku merengut menjauhi ayahku dan menangis didepan ibu.
Tapi apakah aku tahu bahwa ayahlah yang risau dengan keadaanku, sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku.
Ketika aku remaja, aku meminta izin untuk keluar malam. Ayah dengan tegas berkata “Tidak boleh! ”Sadarkah aku, bahwa ayahku hanya ingin menjaga aku, beliau lebih tahu dunia luar, dibandingkan aku bahkan ibuku?
Karena bagi ayah, aku adalah sesuatu yang sangat berharga. Saat aku sudah dipercayai olehnya, ayah pun melonggarkan peraturannya.
Maka kadang aku melanggar kepercayaannya. Ayahlah yang setia menunggu aku diruang tamu dengan rasa sangat risau, bahkan sampai menyuruh ibu untuk mengontak beberapa temannya untuk menanyakan keadaanku, ”dimana, dan sedang apa aku diluar sana.”
Setelah aku dewasa, walau ibu yang mengantar aku ke sekolah untuk belajar, tapi tahukah aku, bahwa ayahlah yang berkata: Ibu, temanilah anakmu, aku pergi mencari nafkah dulu buat kita bersama.
Disaat aku merengek memerlukan ini – itu, untuk keperluan kuliahku, ayah hanya mengerutkan dahi, tanpa menolak, beliau memenuhinya, dan cuma berpikir, kemana aku harus mencari uang tambahan, padahal gajiku pas-pasan dan sudah tidak ada lagi tempat untuk meminjam.
Saat aku berjaya. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukku. Ayahlah yang mengabari sanak saudara, ”anakku sekarang sukses.” Walau kadang aku cuma bisa membelikan baju koko itu pun cuma setahun sekali. Ayah akan tersenyum dengan bangga.
Dalam sujudnya ayah juga tidak kalah dengan doanya ibu, cuma bedanya ayah simpan doa itu dalam hatinya. Sampai ketika nanti aku menemukan jodohku, ayahku akan sangat berhati – hati mengizinkannya.
Dan akhirnya, saat ayah melihatku duduk diatas pelaminan bersama pasanganku, ayahpun tersenyum bahagia. Lantas pernahkah aku memergoki, bahwa ayah sempat pergi ke belakang dan menangis? Ayah menangis karena ayah sangat bahagia. Dan beliau pun berdoa, “Ya Alloh, tugasku telah selesai dengan baik. Bahagiakanlah putra putri kecilku yang manis bersama pasangannya.
”Pesan ibu ke anak untuk seorang Ayah”
Anakku..
Memang ayah tidak mengandungmu,
tapi darahnya mengalir di darahmu, namanya melekat dinamamu …
Memang ayah tak melahirkanmu,
Memang ayah tak menyusuimu,
tapi dari keringatnyalah setiap tetesan yang menjadi air susumu …
Nak..
Ayah memang tak menjagaimu setiap saat,
tapi tahukah kau dalam do’anya selalu ada namamu disebutnya …
Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman…
Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda, karena kecintaanya dia takut tak sanggup melepaskanmu…
Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri..
Bunda hanya ingin kau tahu nak..
bahwa…
Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda..
Anakku…
Jadi didirinya juga terdapat surga bagimu… Maka hormati dan sayangi ayahmu.
Kisah Hidup, Motivasi, Puisi, Umum

Perempuan Papua dan Bahaya Seksisme

Hasil gambar untuk 3 gadis cerita

Malam itu langit bertaburan bintang terangi bumi. Tepat di bawahnya, tampak tiga insan saling beradu argument. Angin sepoi-poi memberikan kesejukan tersendiri buat tiga hati yang gersang, hampa, rindu akan pembebasan. Pembebasan yang selalu diimpikan, yakni keadilan bagi kaum hawa. Keadilan tuk dapatkan hidup setara sebagai seorang manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa di dunia.

Diskusi !!

Mereka adalah Lina, Cinta dan Mia, tentu saja bukan nama sebenarnya.

Lina baru turun dari atas motor, diantar seorang sahabat sebelum bertemu dengan dua orang perempuan yang sudah dianggap sebagai teman atau konco, dalam bahasa jawa. Walaupun usia mereka sudah dua dan tujuh tahun melebihi Lina. Namun kecocokan yang dirasakan melalui kenyamanan dalam berpendapat membuatnya nyaman tuk saling berikan argument tentang berbagai hal.

“Bebz, sudah lama ka?”, begitu sapa Lina ketika melihat seorang gadis berkulit hitam, berbadan besar dan berambut keriting ombak itu. Cinta namanya. Perempuan Papua asal bibir danau sentani, Jayapura, yang sedang berkuliah di UGM.
Seperti biasa, dia membalas dengan nada tinggi tapi berisi. “Iyoo… kebiasaan, terlambat lagi, urus keluarga kecil dulu too, Lina?”.
Seperti biasa juga, Lina menjawab dgn gelak tawa.
Mia cuma menambahkan dengan nasehatnya agar tidak terulang, “lainkali kalau mau ikut diskusi itu nyalakan alarm nona”, katanya datar menasehati. Mia adalah perempuan Tambrau yang telah selesai dari salah satu kampus, jurusan sastra inggris.
Mendengar kata-katanya, Lina langsung mangut-mangut. Perbincangan mereka pun bermula ketika Cinta melemparkan satu pertanyaan kepada Mia, yang menurutnya adalah ahli seksisme.
“Kaka Mia, kaka kan ahli seksisme too, kaka tolong jelaskan seksisme itu seperti apa dulu, supaya sa dan Lina tahu”.
Mia adalah salah satu perempuan Papua yang juga sering mengikuti Komunitas Perjuangan Perempuan (KPP) yogyakarta, yang banyak mempelajari tentang seksisme. Menurut Mia, seksisme biasa disebut dengan ketidakadilan gender, yaitu perlakuan tidak adil pada seseorang, terutama perempuan karena jenis kelaminnya.
“Seksisme itu adalah perilaku dimana laki-laki memperlakukan dan memberi bahasa pada perempuan secara kurang baik, atau sebaliknya,” jelas Mia, sambil menambahkan, umumnya dari laki-laki terhadap perempuan.
“Ada berbagai kategori seksisme atau ketidakadilan gender tersebut, diantaranya adalah stereotip bahasa yang diberikan oleh kaum laki-laki ataupun perempuan,” tambah Mia.
“Berarti saat laki-laki kasi keluar kata-kata rayuan pada seorang perempuan, sampe memohon-mohon karna tahu bahwa perempuan adalah makhluk perasa. Itu seksisme too, kaka?,” tanya Lina.
“Iyo, itu adalah bagian dari seksisme yang diturunkan dalam bentuk bahasa yang mendiskriminasikan perempuan secara gender. Padahal kalau dilihat, pilihan menerima dan menolak itu kembali pada pribadi perempuan sendiri. Tapi kalau perempuan menerima walaupun tahu bahwa laki-laki itu sudah pernah merayu dan meninggalkan beberapa cewek sebelumnya, berarti itu namanya cinta ambisi atau nafsu,” jelas Mia.
“Baru pemaksaan, kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan itu bagaimana kaka?”, tanya Cinta. “Oh… itu namanya kriminalitas dalam seksisme. Kebanyakan laki-laki yang melakukan itu karna masih berada dalam kungkungan budaya patrarki yang kuat. Mereka menganggap bahwa itu adalah hal yang wajar,” jawab Mia.
Jika ada laki-laki atau perempuan yang melakukan perilaku kasar terhadap pasangan maka itu adalah tanda-tanda ia psikopat cinta. Psikopat tidak sama dengan gila, karena seorang psikopat tidak hilang ingatan tapi bisa membuat seolah-olah orang lain yang gila. Orang-orang seperti itu ciri-cirinya adalah berposesif berlebihan, melarang bergaul, menjauhkan pasangan dari keluarganya, pandai berbohong, merasa selalu benar, senang membuat dan menceritakan masa lalu, tidak punya empati dan melakukan kekerasan verbal dan fisik.
Semua hening sejenak mencerna kata-kata yang barusan dikeluarkan masing-masing. Entah terekam dalam memori otak atau keluar lagi melalui telinga sebelah, masing-masing yang mengerti. Saat itu yang mereka tahu dan rasa adalah ‘pemberontakan kampung tengah’ alias lapar yang semakin menjadi-jadi.
“Lapar!”
…dan ketiganya saling berpandangan! Tersenyum.
“Siapa yang akan pergi beli roti bakar?”
Saling memandang dan kali ini pun, sepi. Saling senyum, dan kemudian saling menunjuk.
Akhirnya Lina dan Cinta yang jadi pergi beli makan.
Singkat cerita, mereka sudah berada di depan tempat penjualan roti bakar di perempatan rel kereta api. Cinta pun menawarkan diri tuk memesan dua roti bakar.
“Pak, roti bakar keju-coklatnya satu sama yang rasa coklat satu ya.”
“Iya Mba, ditunggu aja yaa.”
Sambil menunggu roti bakarnya jadi, mereka mencari tempat di sekitar itu tuk melanjutkan perbincangan hangat mereka. Lagi-lagi Cinta memecah kebisungan yang ada dengan memberikan contoh kasus tentang psikopat cinta.
“Ada sa pu teman perempuan satu, de dilarang bergaul dengan orang lain, apalagi dengan laki-laki. Perempuan ini tidak biasa diikutsertakan dalam kegiatan-kegiatan, seminar dan pelatihan begitu”, jelas Cinta.
Cinta menjelaskan, dalam gerakan-gerakan keadilan dan gerakan revolusioner besar sekalipun banyak yang masih memperlakukan perempuan secara tidak adil. Di banyak tempat, misalnya di Papua, masih ada saja praktek-praktek budaya patriarki dalam kehidupan gerakan mereka. Perempuan hanya ditugaskan untuk menyiapkan dan memberi makan-minum. Sementara laki-laki berwenang tuk menyampaikan argument dan memutuskan sesuatu di atas podium dan publik. Padahal dalam sebuah gerakan, peran perempuan sangatlah penting, dalam melakukan sebuah perlawanan yang sejati, karena penindasan yang sejati itu sedang ditanggung oleh perempuan-perempuan Papua.
Tiga perempuan itu masih duduk hingga kentong dibunyikan tanda pintu-pintu gang sebentar lagi akan ditutup.
Setelah sepakat bahwa seksisme yang ditururunkan melalui stereotip bahasa itu harus mulai diperbaiki oleh perempuan dan laki-laki, mereka mulai bergegas meninggalkan tempat diskusi.
Namun karena steorotip bahasa yang ditujukan kepada perempuan yang lebih mendominasi dibandingkan laki-laki karena dilegitimasi dengan berbagai aspek lain, ketiga perempuan Papua ini mulai memantapkan tekad untuk mulai melawannya dari diri mereka sendiri, sambil terus menyadarkan perempuan-perempuan lainnya.
Budaya, Kisah Hidup, Motivasi, Pengetahuan Agama

SEIRING BERJALANNYA WAKTU USIA TERUS BERTAMBAH NAMUN TETAP SENDIRI

Bertambahnya Usia Namun Tetap Sendiri

Ada banyak hal yang memang tidak bisa diulangi. Salah satunya adalah waktu yang sudah berlalu. Waktu-waktu yang sudah berlalu dalam hidup Anda tidak mungkin diulang kembali.

Begitu berharganya waktu yang sudah berlalu membuat banyak orang berharap jika saja mereka bisa memutar kembali roda sang waktu. Hanya saja memang tidak mungkin. Waktu yang sudah berlalu sudah tidak akan kembali.

Bagaimana jika ternyata pada suatu hari Anda menyadari bahwa usia Anda semakin bertambah dan pada saat itu ternyata Anda masih sendiri? Pada saat itu juga, Anda semakin menyadari bahwa teman-teman Anda seluruhnya sudah menikah, memiliki anak-anak, dan memiliki keluarganya sendiri.

Ingat bahwa waktu yang telah berlalu memang tidak bisa kembali. Hanya saja jika memang usia Anda sudah matang dan memang Anda masih sendiri, itu bukan sesuatu yang memalukan.

Memang dalam masyarakat terdapat suatu pandangan yang menyiratkan bahwa kalau seseorang dengan usia yang matang belum menikah, hal tersebut merupakan hal yang dipandang kurang baik. Bahkan ada panggilan-panggilan tertentu untuk menyebutkan pria atau wanita yang belum menikah pada usia matang tersebut.

Hal itu memang bisa membuat tertekan jika dipikirkan terus-menerus. Apalagi jika orang-orang terdekat Anda (entah orang tua, keluarga, atau teman-teman Anda) juga mengingatkan kepada Anda mengenai hal tersebut, seakan-akan Anda tidak cukup menyadari hal itu.

Hanya saja yang perlu Anda ingat adalah Andalah yang menjalani hidup tersebut. Bukan orang tua, keluarga, atau teman-teman Anda, apalagi masyarakat umum, ini hidup Anda. Jadi jangan biarkan pandangan orang lain membuat Anda tertekan.

Jika Anda membiarkan semua pandangan orang mempengaruhi kita dan membuat Anda tertekan, maka hidup yang Anda jalani akan sungguh-sungguh memusingkan. Setiap orang memiliki pandangannya masing-masing. Kalau semua itu Anda pikirkan, Anda akan menjadi tidak berdaya untuk melangkah.

Lebih baik Anda berfokus pada yang Tuhan pikirkan. Dalam kitab yang ditulis oleh Nabi Yeremia disebutkan bahwa Tuhan mengetahui rancangan-rancangan yang ada pada-Nya mengenai Anda, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada Anda hari depan yang penuh harapan.

Itulah yang perlu Anda pikirkan dan senantiasa tanamkan dalam pikiran Anda. Hal yang Anda tanamkan dalam pikiran Anda itu juga yang akan mempengaruhi perasaan Anda. Jadi alih-alih merasa tertekan karena usia yang semakin bertambah namun tetap sendiri, Anda tetap dapat optimis dan bersukacita menjalani hidup Anda.

Rancangan Tuhan itu sempurna dan indah dalam kehidupan Anda. Ia tidak pernah memberikan batu pada anak-Nya yang minta roti. Tetap jaga iman percaya Anda kepada Tuhan. Tahun-tahun yang berlalu dalam kesendirian itu merupakan suatu berkat tersendiri yang Tuhan berikan kepada Anda. Bayangkan jika Anda sudah menikah, Anda tidak akan memiliki keleluasaan waktu untuk diri Anda sendiri. Anda akan disibukkan dengan mengurus keluarga Anda. Jadi, kalaupun usia Anda semakin bertambah namun tetap sendiri, asalkan Anda dapat melihatnya dalam perspektif Tuhan, maka Anda dapat tetap bersyukur.

Saat Anda dapat bersyukur dan senantiasa bersuka cita, maka hari-hari serta tahun-tahun yang Anda lewati merupakan hari-hari yang penuh berkat. Hari-hari itulah hari-hari yang dapat Anda gunakan secara produktif: untuk melakukan segala sesuatu yang dapat memuliakan Tuhan.

Jangan kecil hati melihat teman-teman sebaya Anda yang sudah memiliki keluarga masing-masing. Ingatlah bahwa Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktuNya. Tetap lakukan bagian Anda dengan setia: bergaul, bekerja, memperbaiki dan meningkatkan karakter dan kemampuan diri, dan melakukan segala sesuatu yang perlu Anda lakukan untuk dapat memuliakan Tuhan.

Ingatlah bahwa dengan melajang pun Anda dapat memenuhi kehendak Tuhan. Jadi jangan sampai terintimidasi apalagi sampai ‘mengejar setoran’ demi cepat menikah dengan melakukan hal-hal yang dapat merugikan diri Anda sendiri. Tuhan Yesus memberkati.

(Sumber : Angela)Editor:Melqy s w