Pemerintah, Pendidikan

Empat Negara MSG Ikut Media Workshop Di Yogyakarta

 

Ilustrasi - ISTJayapura, – Empat negara Melanesia Spearhead Group (MSG) masing-masing Papua Nugini, Fiji, Vanuatu dan Kepulauan Solomon mengikuti media workshop di Yogyakarta. Keempat negara MSG ini termasuk dalam 20 pengelola media, penerbit dan wartawan dari Asia, Pasifik dan negara-negara Afrika mengikuti pelatihan ini selama dua minggu di Yogyakarta.
Hal ini dikatakan Mathias Avla Loji, Direktur Island Sun sebagaimana dilansir Post Courier, Kamis (28/7/2016).

“Alfred Sasako dari Kepulauan Solomon juga ikut,” katanya.

Dia menambahkan para peserta media dari Afghanistan , Nepal , Ethiopia , Nigeria , Indonesia , Timor Leste , Fiji , Vanuatu , Kepulauan Solomon dan Papua New Guinea .
“Lokakarya ini adalah untuk belajar tentang politik , multi -media , dan mengetahui informasi tentang Indonesia dan bertukar pikiran , penelitian dan media manajemen,” katanya.

Sementara itu Ipda Sosra Anthoni salah satu peserta dari Papua yang mengikuti pelatihan multimedia Asia Pasifik dan Afrika mengaku bangga mengikuti pelatihan tersebut Anthoni yang juga salah satu anggota polisi yang ditugaskan dari Humas Polda Papua itu di Yogyakarta, Rabu (27/7/2016), mengaku senang dan bangga mengikuti kegiatan pelatihan ini.

“Saya senang mengikuti kegiatan ini,” katanya.

Menurut dia, dengan adanya kegiatan ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang Multi media.

“Kegiatan ini sangat mendukung tugas saya khususnya di bidang kehumasan Polda Papua,” ujarnya sebagaimana dilansir Antara.

Ia berharap, dengan terselenggaranya pelatihan ini, dapat memudahkan anggota Polri dalam mempublikasikan berita, baik melalui media cetak maupun media elektronik dan media online.
Sementara itu, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Esti Andayani di Yogyakarta mengemukakan perbandingan penggunaan internet di Negara maju jika dibandingkan dengan negara Indonesia yang juga termasuk salah satu negara berkembang, penggunaan internetnya selain untuk Humas atau istilahnya piardnya itu lebih besar dari pada negara berkembang lainnya.

“Bukan karena teknologi dan kapasitasnya, tapi termasuk kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM)-nya, meskipun semua anak-anak muda rata-rata sudah menggunakan internet dan gadget semuanya tetapi masih lebih kepada bermain, belum dimanfaatkan untuk promosi publik relation,” ujarnya.

Penggunaan internet yang digunakan oleh kalangan anak-anak muda juga bukan dipakai untuk mempromosikan relation publik.

“Bahkan, yang terjadi kita mau ambil sumber-sumber dari negara-negara maju itu,” ujarnya.

Dia mengatakan, dengan adanya pelatihan itu, peserta diharapkan dapat membangun kerja sama dengan para peserta dari negara lain.

Tujuan dari pelatihan ini adalah selain menambah ilmu, bisa saling bertukar pikiran tapi juga bisa bertukar berita secara langsung.

Pelatihan tersebut diikuti 14 peserta dari delapan negara yakni Fiji, Papua Nugini, Solomon Islands, Vanuatu, Afghanistan, Nepal, Timor Leste, Ethiopia dan empat peserta dari Maluku, Papua, dan Papua Barat.

Kegiatan itu difokuskan di Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” Yogyakarta, 25 Juli – 4 Agustus 2016.(*)

Advertisements
Pemerintah, Pendidikan

Asrama Senilai Rp 15 Miliar Tak Ada Penghuni

Bupati Intan Jaya Befa Jigibalom saat meresmikan Asrama Mahasiswa Lanny Jaya beberapa waktu lalu - Jubi/Abeth You

Bupati Intan Jaya Befa Jigibalom saat meresmikan Asrama Mahasiswa Lanny Jaya beberapa waktu lalu – Jubi/Abeth You

Jayapura, – Asrama mahasiswa Kabupaten Lanny Jaya yang berlokasi di perbukitan belakang PLTD Waena, Kota Jayapura dengan biaya senilai Rp 15 miliar lebih belum ditempati mahasiswa sejak diresmikan Maret lalu.

Tampak hanya para tukang di sekitar asrama sedang mengerjakan pekerjaan mereka.

Asrama dengan 250 kamar itu dilengkapi ruang belajar, ruang pertemuan dan ruang makan.

Koordinator pekerja bangunan tersebut, Rahmat, ketika ditemui Jubi, Kamis (28/7/2016) mengatakan air bersih, instalasi lampu dan dapur sedang bermasalah.

“Pemerintah masih mengusahakan,” katanya.

Menurutnya penampungan air berukuran kecil dan meteran listrik yang sudah dipasang sangat kecil. “Sudah diminta ganti. Pagar sedang saya tangani,” katanya.

Ia mengatakan pemerintah masih menyeleksi siapa yang bisa tinggal di asrama tersebut sebab itu berhubungan dengan tender.

“Kalau semua itu beres pemerintah akan mempersilakan mahasiswa masuk,” katanya.

Ketua panitia peresmian asrama itu, Christian Sohilait, 19 Maret 2016 mengatakan asrama seluas 2.100 meter persegi, yang berada pada lahan seluas 3,5 hetare itu menghabiskan dana Rp 15 miliar lebih.

Asrama ini bersumber dari tiga tahun anggaran, yaitu Rp 6, 4 miliar tahun 2013, Rp 1,5 miliar tahun 2014 dan Rp 2,9 miliar tahun 2015 ditambah pembuatan talud Rp 4 miliar.

“Karena di daerah ini tanah yang tidak terlalu rata sehingga kita harus amankan. Jadi, total pembiayaannya Rp 15.348.000.000,” katanya.

Tokoh pemuda Kabupaten Pegunungan Bintang Yulianus Uropmabin mengatakan sebagian besar asrama mahasiswa asal pegunungan tengah di Jayapura bermasalah.

“Asramanya mewah. Bagus lihat dari luar, tetapi manajemen di dalam belum ada,” katanya.

Menurut Yulianus pemerintah yang membangun asrama mesti memperhatikan seluruh proses di asrama.

“Pendidikan itu harus mendapat perhatian khusus dan serius karena mahasiswa yang menempuh pendidikan, yang tinggal di asrama-asrama ini masa depan daerah,” katanya. (*)

Pemerintah, Politik, Umum

Selamatkan Anak Cucu Bangsa Papua Dengan Tidak Menjual Tanah Di Tujuh Wilayah Adat Di Tanah Papua

Puji dan syukur bagi-Mu Sang Pemberi Tanah Papua”

Tanah Papua adalah Tanah yang subur dan kaya yang selalu mengalirkan sumber kehidupan bagi Anak Negeri di tujuh wilayah adat, Tanah Papua adalah Mama bagi seluruh Anak Negeri di tujuh wilayah adat. Tanah Papua adalah taman kehidupan, Tanah Papua adalah rumah kehidupan, Tanah Papua adalah alam kehidupan dan Tanah Papua adalah Bidadari yang selalu membawa banyak pijakan ekologis bagi Anak Negeri Tanah Papua di tujuh wilayah adat.

Tanah Papua selalu bersama Anak Negeri, Tanah Papua selalu menyiapkan rotan dan kayu untuk memagari dan untuk melilit setiap Anak Negeri diatas Tanah Papua dengan pagar-pagar yang kuat di tujuh suku wilayah adat. Tanah Papua telah membawa datang sumber-sumber kehidupan  dan telah hadir untuk melengkapi kehidupan ditengah Anak Negeri disebelah timur, barat, utara dan selatan Tanah Papua, sambil melimpahkan beraneka, tanaman, pohon, burung dan kuskus dan mengalirkan aneka jenis makan yang daunnya hijau, ubi, talas, tebu, pisang, sagu, buah-buahan yang segar sehingga Anak Negeri di tujuh wilayah adat itupun selalu terkagun-kagum dan gembira untuk mengkonsumsi secukupnya serta melihat dan menatapnya maka tugas dan tanggungjawab kita sebagai Anak Negeri di Tanah Papua adalah jaga, jaga dan jaga alam Papua dari Merauke hingga Sorong di tujuh wilayah adat.

Kemudian tanpa segaja maupun tak sengaja apabila Anak Negeri memandang segala jenis tumbuhan unik di Tanah Papua, disana tumbuhan unik itupun selalu melambai-lambaikan daun yang hijau dalam menyambut dan memberikan kehidupan yang segar kepada kami setiap insan Anak Negeri di tujuh wilaya adat, lagipula pohon-pohon tertentupun telah Tanah Papua tanami diatas Tanah untuk memberi warna-warni dalam kehidupan setiap insan Anak Negeri di Tanah Papua.

 

Di petak yang lain Tanah Papua kagetkan Anak Negeri di tujuh wilayah adat oleh suara aneka burung seperti burung Nuri, Cendrawasi, Kasuari, Mambruk dll.

Lagipula di petak lain salju dari setiap puncak, gunung-gemunung Tanah Papua selalu turun bersahabat bersama awan dan angin sepoi-sepoi memberi nafas kehidupan dan mengingatkan bahwa Tanah Papua itu selalu berdiri kokoh bersama setiap Anak Negeri di tujuh wilayah adat disetiap saat untuk memberi semangat perjuangan sambil meneteskan saljunya di setiap dada Anak Negeri dalam memberi kekuatan dalam proses perjuangan itu sendiri sebab itu pekerjaan istimewa setiap Anak Negeri di tujuh wilayah adat yang ada di Tanah Papua adalah Jaga Alam Papua, jangan kawinkan Alam Papua dengan orang-orang di seberang lautan yang lebih jauh dan terpisah dari Tanah Papua tetapi kawinkan Tanah Papua dengan Anak Negeri di tujuh wilayah adat itu sendiri, maka disisi lain iapun akan melahirkan lebih banyak dari yang sekarang kepada setiap Anak Negeri di tujuh wilayah adat itu sendiri sebab Tanah Papua adalah  Tanah leluhurnya (Orang Asli Papua), maka itu jangan jual Tanah Papua kepada para kapitalisme, imperialisme, militerisme dan Pendatang.

Kita menjual Tanah Papua sama artinya dengan kita menjual Anak cucu kita sendiri. Karena apabila kita menjual Tanah Papua saat ini kepada orang-orang transmigran, kapitalisme dan imperialisme maka generasi penerus dari tujuh wilayah adat di Tanah Papua hidupnya akan terdampar, terhancam hancur dan genoside diatas tanah leluhurnya (Tanah Papua) sama seperti kondisi sekarang yang sedang dialami oleh suku Aborigin (orang kulit hitam) di Australia yang mana sekarang  sudah mau hampir punah/genoside dari tanah leluhurnya karena dulunya merekapun menyerahkan tanah mereka kepada (orang kulit putih) maupun kepada para kapitalisme, imperialisme dan kepada orang-orang transmigran dari negara lain ke Australia sehingga dampaknya mereka sendiri menderita, hidupnya hancur dan terdampar sedikit lagi punah/genoside diatas Tanah leluhur orang kulit hitam di Australia karena orang-orang yang datang masuk ke Australia mereka membawa datang berbagai jenis penyakit yang cepat menyular oleh sebab itu Tanah/lahan  yang masih kosong di tujuh wilayah adat di Tanah Papua kita Orang Asli Papua jangan jual dan serahkn kepada para kapitalisme, imperialisme dan orang-orang transmigran tetapi kita harus bersahabat dengan tujuh wilayah adat itu demi keselamatan anak cucu kita di Tanah  Papua agar masa mendatang anak cucu kita juga bisa merasakan kehidupan dari Alam langsung seperti kehidupan dulu saat tete nene moyang dan para leluhur Tanah Papua yang kehidupannya sangat beradap dengan lingkungan sekitarnya di tujuh wilayah adat di Tanah Papua. Sebelum orang-orang kulit putih atau para perampas, pencuri sumber kehidupan masuk ke Tanah Papua.

Tanah Papua telah memberi Tanah yang sangat subur dan kaya, Ia memproduksi makanan yang segar dan sehat dan Ia melimpahkan untuk dinikmati oleh seluruh Anak Negeri Tanah Papua di tujuh wilayah adat termasuk keindahan alamnya sampai pada saat ini. Semua Tanah Papua itu ditaburkan untuk dilindungi, dirawat dan tentu untuk di konsumsi secukupnya oleh Anak Negeri di tujuh wilayah adat di Tanah Papua itu sendiri sehingga tak perluh jual tanah kepada orang-orang pendatang, imperialisme, kapitalisme dan para perampas kekayaan alam dan seisinyapun tidak perluh di eksport dan di inport ke wilayah lain yang keluar dari Tanah Papua cukup antar Anak Negeri dan masyarakat adat dalam Negerinya yaitu Tanah Papua.

Tanah Papua saat ini apabila dipandang oleh Anak Negeri dari tujuh wilayah adat dari sebelah timur, barat, utara dan selatan itu ia selalu memberikan senyuman yang sangat menawan dan indah kepada setiap insan Anak Negeri sendiri maka itu kita sebagai Anak Negeri Tanah Papua kita juga harus perluh memberikan dan membalas senyuman Tanah Papua melalui pelestarian alam Papua.

Di sisi lain saat ini Tanah Papua sedang menegur kepada setiap Anak Negeri melalui hujan, kilat, guntur, gempah dan matahari untuk menggenggam, bersahabat dan memeluk ia secara rapat oleh setiap Anak Negeri yang ada di tujuh wilayat adat sebab dari kaum para perampas, para pendatang, para klonialisme dan imperialisme terus mencoba cabik, rusak menjadi Tanah yang tak bernilai dan tak sempurna.

Sekarang Tanah Papua dipadati orang-orang yang tak di kenal oleh Tanah Papua dan Orang Asli Papua yaitu mereka yang dari negeri mata biru, negeri kaum ala, negeri kapitalisme, negeri imperialime, negeri militerisme, negeri rambut lurus, negeri muka dua , pendatang dan negeri para perampas dengan niat dan tujuan utama mereka yaitu merampas, menindas, membunuh, meneror, menyiksa, mengejar-ngejar, memperkosa, menjajah, memenderitahkan Tanah Papua dan Anak Negeri pemilik Tanah Papua. Kita menjual dan memberikan tanah kepada mereka tetapi di balik itu mereka membunuh, menindas, menjajah kita secara tersistematis dan terstruktur seperti dulu Belanda pernah menjajah, merampas, menindas dan menyiksa terhadap negara indonesia selama 350 tahun sekarang praktek-praktek itu yang negara indonesia sedang menerapkan dan  mempraktekkan terhadap Tanah Papua dan kita Orang Asli Papua (OAP) jadi jangan jual tanah, jangan memberikan tanah yang ada dari Sorong sampai Merauke yang terdiri dari tujuh wilayah adat itu kepada orang-orang melayu, para pendatang, para klonialisme, para imperialisme karena di balik itu mereka punya niat jahat kepada kita Orang Asli Papua dan kitong pu Tanah Papua.

Tanah Papua sendiri sedang mengamatinya mereka datang hanya untuk merampas pohon-pohon yang daunnya hijau yang selalu membawa hawa di dalam kehidupan Anak Negeri di tujuh wilayah adat saja mereka tumbang dan tebang dengan sistem sapu dan liar untuk merusak Alam yang subur. Binatang-binatang kesayangan seperti kuskus pohon, kuskus tanah juga mereka memburuh dengan sistem liar. Burung-burung yang sangat dilarang untuk membunuh seperti burung nuri, cendrawasi, mambruk, dan kasuari oleh Anak Negeri sendiri di habisi dan dikonsumsi dengan brutal tanpa mengenal batas.

Di setiap saat Tanah Papua menyaksikan mereka yang datang dari negeri mata biru, negeri kaum ala, negeri kapitalisme, negeri imperialime, militerisme, negeri rambut lurus, negeri muka dua dan negeri para perampas itu datang dengan sikap yang buta, tuli dan tidak peduli dengan apa yang disampaikan oleh Anak Negeri di tujuh wilayah adat di Tanah Papua ini karena mereka tak peduli sama kami Orang Asli Papua tetapi mereka peduli itu Tanah Papua dan semua sumber daya alam yang diciptakan oleh-Nya diatas Tanah leluhur kita ini maka jangan jual Tanah Papua dan jangan kasih Tanah Papua kepada orang-orang negeri mata biru, negeri kaum ala, negeri kapitalisme, negeri imperialime, negeri militerisme, negeri rambut lurus, negeri muka dua dan negeri para perampas. Memelihara kehidupan serta kebebasan Anak cucu kita di masa mendatang dengan tidak menjual Tanah Papua pada saat ini.

Perintah dan teguran serta tangisan dari Tanah Papua itu sendiri kepada kita setiap Anak Negeri di tujuh wilayah adat ini sangat terdengar oleh sebab itu kita sebagai Anak Negeri Tanah Papua maka kita dituntut lakukan sesuatu untuk Tanah Papua sesuai kemampuan yang sudah anda dan saya miliki dalam itu tidak baku memaksa tetapi membangun kesadaran diri kita sendiri yang mana kita sebagai pemilik Tanah Papua untuk memiliki Tanah Papua yang sedang di rampas, di curi, dicabik-cabik habisan oleh orang-orang negeri di seberang lautan dan orang-orang tidak bertanggungjawab.

Tanah Papua adalah Mama yang selalu memberi semangat kehidupan dan semangat perjuangan demi untuk memiliki seutuhnya lagipula Tanah Papua milik Anak Negeri Papua dan Anak Negeri Papua milik Tanah Papua tanpa tak mengenal batas sampai pada akhirat.

Sikap iklas apa adanya dan penuh cinta kasih terhadap Tanah ini, kobarkan sikap perjuangan tegas menjadi diri sendiri yang iklas dan tak terdona dengan sistem orang-orang seberang lautan, kapitalisme, imperialisme dan militerisme, wartakan karya penyelamatan demi perjuangan untuk membela kebenaran dan keadilan di tengah rakyat di tujuh wilayah adat dan atas seluruh ciptaan-Nya, Nyalakan lilin dan pelita perjuangan kehidupan dari dalam Dimii (logika), Douu (melihat), Gaii (berpikir), Ekowaii (Bekerja) atas Iboo Makii (Tanah yang luas), Iboo Bagoo (puncak serta gunung-gunung yang luas), Iboo Buguwaa (Hutan yang luas), Iboo Pekuu (Danau yang luas) Kouu Idima Poyamee Yaa Ugayawita (semuanya Sang Khalik yang Ciptakan) untuk Orang Asli Papua (OAP).

“Pekerjaan kita selama tujuh hari ini adalah Istimewa, tetapi yang paling Istimewa adalah menjaga dan melestarikan rumah kehidupan, alam kehidupan dan taman kehidupan kita sebab dari dalam rumah kehidupan, alam kehidupan dan taman kehidupan kita, kita akan bangkit dan  melangkah untuk memulai pekerjaan selama tujuh hari yang kita akan lalui, maka itu bersahabatlah dengan alam dan seisinya jagaa”.

Sang Khalik Lindungi Pejuang Hidup di Tanah ini  

Penulis: FX Amoye Douw 

Pendidikan

Peran Orang Tua Mendukung Anak-Anak di Sekolah Sangat Penting

 

WAMENA, SUARAPAPUA.com — Murjono Murib, Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Jayawijaya kecewa atas kurangnya keterlibatan orang tua dalam mendukung anak-anaknya dalam mengikuti proses belajar mengajar di sekolah. Mestinya, orang tua berperan penting dalam mendukung setiap aktivitas anak-anak sehingga ada dampak positif bagi anak-anak.

Hal itu disampaikan Murjono Murib dalam sambutannya ketika mengikuti ibadah syukuran kelulusan siswa-siswi SMP Kristen Wamena, Kamis (16/6/2016) siang tadi.

Murjono mengatakan, ini bukti bahwa orang tua hanya bisa melahirkan anak, tetapi tidak bisa bertanggungjawab atas apa yang harus dimiliki oleh anak tersebut.

“Contoh kondisi ril di sekolah. Orang tua ketika diberikan undangan pembagian raport anak-anaknya, mereka tidak hadir, malah menyuruh pembantunya untuk menerima raport dengan alasan sibuk. Ini bukti bahwa orang tua tidak peduli dengan anak. Ini juga bukti orang tua tahu mencetak anak, tetapi tidak tahu bertanggungjawab,” tegas Murjono murib yang adalah mantan guru SMAN 1 Wamena.

Dengan cara seperti ini, kata Murjono, anak-anak disekolah akan sendirinya terlantar. Mereka merasa tidak ada yang mengontrol, sehingga apa saja akan mereka lakukan bisa dilakukan.

“Kita tidak bisa berharap hanya pada guru-guru, tetapi keterlibatan orang itu sangat penting. Maka itu mulai dari sekarang kita peduli sama mereka dengan terus terlibat mendukung anak-anak di sekolah,” tukasnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Kepala Sekolah SMP Kristen Wamena beserta dewan guru yang bekerja keras sehingga telah meluluskan anak-anak yang berjumlah 114 siswa. Dan ia juga berharap supaya guru-guru terus bekerja keras untuk menghasilkan SDM yang baik.

Selain itu, ia meminta kepada Kepala sekolah SMP untuk menyiapkan siswa-siswi yang sudah lulus untuk mengikuti tes masuk SMA Buper Jayapura pada tanggal 20 Juni 2016 di dinas P dan P Jayawijaya.

Nius Jigibalom, Kepala Sekolah SMP Kristen Wamena mengatakan, anak-anak yang telah diluluskan ini secara resmi sekolah kembalikan kepada orang tua untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Tetapi saya kecewa karena banyak orang yang menyalahkan guru dan dinas pendidikan serta aparat kampung yang tidak jalankan tugas untuk mendidikan anak-anak. Sebenarnya, peran orang tua dalam mendukung anak-anak dalam proses belajar itu sangat penting, bukan hanya guru dan orang lain. Sehingga bukan saling menyalahkan, tetapi kita berjuang bersama untuk anak-anak ini,” ungkap Nius dalam sambutannya.

Ia berpesan kepada siswa-siswi yang sudah lulus untuk tidak membawa kebiasaan buruk ke tingkat SMA, tetapi rubah itu dan tinggalkanlah semua itu di tempat ini. Bagian ini juga perlu peran orang tua yang besar dan terus melakukan kontrol terhadap anak.

“Karena kami bersama orang tua sudah menandatangani kesepakatan bahwa anak-anak SMP Kristen bebas Miras, Narkoba dan hal-hal terlarang lainnya. Jadi apa yang kita sudah buat ini dibawah ke SMA, karena mereka ini adalah generasi kita kedepan yang patut dijaga oleh orang tua,”  pungkasnya.

Pewarta: Elisa Sekenyap

Editor: Melqy s w

Pemerintah, Politik

5 Alasan Ini Yang Membuat Indonesia Takut Kehilangan Papua

Menulis untuk memperkenalkan tanah Papua
Selama 54 tahun kita ketahui negara ini mempertahankan Papua secara mati-matian dengan cara halus maupun brutal. Tindakan negara ini membuat ribuan Rakyat Papua yang tidak berdosa terbunuh sia-sia.
Pelanggaran Ham bukan lagi ukuran ketidak wajaran bagi negara ini untuk terus mempertahankan Papua. Misalnya, pada tahun 2011 lalu Munarmab yang pernah menjabat sebagai ketua YLBHI, meminta kepada pemerintah untuk tidak takut akan pelanggaran Ham dalam mempertahankan bumi cerderawasih dalam bingkai NKRI.
 

“Untuk mempertahankan tanah Papua dari pangkuan NKRI, pemerintah diminta untuk tidak takut melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). “Tidak perlu takut juga pada Pengadilan Kriminal Internasional (ICC)”, kata Mantan Ketua YLBHI, Munarman, di Kantor Kemenhan, Jakarta, Jumat (23/12/2011). (m.suara-islam.com)

Pelanggaran Ham tidak lagi bernilai bagi negara ini. Nyawa orang Papua dipandang nomor dua dari kekayaan alamnya. Watak terdahulu seperti Ali Murtopo terus hidup dalam watak para petinggi negara saat ini.
Selain itu, coba anda bertanya apakah masuk akal “sementara masalah internal negara yang menumpuk, utang terus bertambah, rakyatnya masih mengemis untuk sesuap nasi, dan untuk mengatasinya negara membutuhkan dua ribu rupiah. Eeehh, malah negara berani mengeluarkan lima ribu rupiah untuk berdiplomasi menghadang lajunya perjuangan Papua. Terlebih khususnya di wilayah Pasifik.

“Semua alasan ini mengajari kita bahwa negara ini memiliki rancangan yang besar untuk mengatur kekayaan alam dan manusia Papua sesuka hatinya”

Dari alasan di atas, berikut ini  dihaimoma.com merangkum 5 poin musabab, mengapa Indonesia mati-matian mempertahankan Papua dalam NKRI.
Pertama di tangan Indonesia Papua menjadi dapur dunia . Bagaimana tidak, sampai saat ini Papua menjadi sarang kapitalis.
Perusahaan skala internasional milik negara asing seperti PT. Freeport Indonesia, perusahaan minyak BP Indonesia, perusahaan kelapa sawit yang jumlahnya 54 perusahaan di seluruh tanah Papua yang masih  gencar  beropersai. Bukan hanya itu, masih banyak lagi perusahaan mini lainya yang masih eksis di bumi cenderawasih tetapi sampai saat ini belum terkuak ke publik.
Jika anda tertarik untuk mengetahui jumlah perusahaan kelapa sawit yang peroperasi di Papua download daftar perusahaan kelapa sawit di papua yang di keluarkan docplayer.info (Download di sini)
Hasil dari ini pula Papua merupakan salah satu daerah penyumbang terbesar pendapatan negara. Dengan demikian perekonomian Indonesia sangat bergantung kepada Papua dan Papua menjadi aset paling bernilai untuk negara ini.


Tambang Grasberg di Timika, Papua merupakan salah satu tambang yang menyimpan cadangan emas dan tembaga melimpah bagi Freeport. Bahkan, cadangan emas di Papua yang mencapai 29,8 juta ons merupakan cadangan terbesar atau mencakup 95 persen dari total cadangan emas Freeport di dunia. Sedangkan, cadangan tembaga mencakup sekitar 27 persen dari total cadangan Freeport atau cadangan terbesar ketiga di dunia. (katadata.co.id) 


Kedua Papua lepas dari NKRI berarti sudah pasti Indonesia akan mengalami masalah disintegrasi dan masalah perekonomian yang sangat rumit untuk di atasi. Dampaknya, tempat mencari makan dari negara ini akan berpindah ke daerah lain yang masih utuh seperti, Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan daerah lainya. Pasalnya, di pulau Jawa hanya ada gedung pencakar langit, kemacetan, serta perusahaan besar yang sangat tidak mungkin dikonsumsi manusia.
Selain itu jika Papua lepas dari negara ini otomatis akan berdampak pula pada pulau-pulau lain di Indonesia, yang juga akan menuntut hal serupa. Misalnya, Gerakan Aceh Merdek (GAM), Republik Maluku Selatan (RMS),  Bali, dan beberapa daerah lainya.
Ketiga Semua kekayaan alam yang terdapat di Papua merupakan milik negara dan akan terus menjadi aset yang siap diambil kapan saja dan apa saja yang negara inginkan. Melepaskan Papua berarti  juga lepaskan masa depan negara ini. Mempertahankan Papua berarti, mempertahankan masa depan negara ini.
Keempat melepaskan Papua berarti menciptakan Persaingan baru. Bukan hal yang mustahil jika Papua lepas dari negara ini, maka Papua akan lebih baik dan lebih maju. Papua memiliki kekayaan alam yang sekurang-kurangnya mampu menjamin kebutuhan puluhan negara. Jika kemerdekaan itu di manfaatkan secara tepat sasaran, Papua bisa bersaing dengan New Zeland dan Australia di wilayah Pasifik.
Kemajuan ini bisa kita lihat dari perbandingan antara Indonesia dan Malaysia. Dulu orang Malaysia yang belajar di Indonesia. Sekarang terbalik, orang Indonesia yang belajar ke Malaysia.  Banyak TKI serta artis Indonesia yang diperlakukan tidak manusiawi oleh Negeri Jiran. Anehnya lagi, Indonesia pernah keluar dari anggota PBB hanya karena PBB menerima negara itu sebagai anggota tetap PBB.
Hal ini pun bisa terjadi dengan konteks Papua. Papua itu kaya. Setelah merdeka  mungkin hanya membutuhkan pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang tepat  sasaran dan Sumber Daya Manusia (SDM)  yang memadai. Beda dengan Indonesia, jika Papua lepas dari negara ini mereka membutuhkan SDA untuk membangun negaranya.
Kelima melepaskan Papua berarti melepaskan 466 lebih suku di Indonesia. Ini artinya, keaneka ragaman, suku, budaya, dan bahasa yang menjadi aset negara ini akan berkurang.
Sampai di sini dapat kita ketahui bahwa Indonesia takut kehilangan Papua karena SDAnya. Bukan takut kehilangan manusia Papuanya.
Pemerintah, Politik

Amp dan Fmn menyelenggarakan (Konferensi Pers)-Lawan Pembungkaman Ruang Demokrasi,Kriminilisasi dan Kekerasan terhadap Rakyat

13880413_878336132294541_4843113831066763386_n
Konferensi pers/Amp,Fmn/Kamis 28,07/2016 dini hari

LAWAN PEMBUNGKAMAN DEMOKRASI, KRIMINALISASI, DAN KEKERASAN TERHADAP RAKYAT
( ALIANSI MAHASISWA PAPUA, FRONT MAHASISWA NASIONAL )

Persoalan mengenai pembungkaman demokrasi semakin menunjukkan derajat keterpurukkan pada prakteknya di Indonesia. Pembungkaman ini mewujud ke dalam beberapa hal seperti kasus kekerasan; pelarangan hak berpendapat, berekspresi, dan berorganisasi; kriminalisasi; bahkan tak jarang berbuntut pada kematian.
Beragam bukti pun terpapar. Kasus yang terakhir terjadi di tanah kraton Jogja pada tanggal 14 Juli 2016 saat Aliansi Mahasiswa Papua hendak melakukan aksi damai. Pelarangan aksi termanifestasikan melalui olok-olok beraroma rasis, penahanan, hingga pemblokiran jalan di area Asrama Papua yang berada di jalan Kusuma Negara Jogjakarta, sehingga banyak dari mereka kelaparan akibat tidak bisa melakukan aktivitas apapun. Tidak hanya itu, kriminalisasi juga terjadi di luar sektor mahasiswa, bahkan puluhan hingga ratusan aktivis jamak dilakukan pihak aparat sebagai alat represifitas Negara.
Kondisi darurat demokrasi melalui serentetan pembungkaman kebebasan berserikat, berekspresi dan mengemukakan pendapat dialami pula oleh banyak aktivis. Kasus lain yang mengalami hal serupa adalah tragedi penangkapan 11 orang warga Rumpin Bogor setelah melakukan aksi protes pada tanggal 19 Juli 2016 terkait kerusakan jalan yang tak kunjung mendapatkan perhatian dari pihak pemerintah. Hasilnya 1 orang dinyatakan sebagai tersangka, dan hingga saat ini masih ditahan.
Tragedi anti demokrasi lainnya juga terjadi di pulau Kalimantan, tepatnya di Desa Olak-olak Kubu, Kalimantan Barat saat demonstran yang berencana melakukan aksi damai di depan kantor wilayah PT. Sintang Raya harus dihadapkan dengan kekerasan dan kriminalisasi. Akibatnya sekitar 11 orang kaum tani harus mengalami luka-luka dan penanganan medis, sementara 1 orang harus ditahan. Sebelumnya pada tanggal 22 Juli 2016 juga telah terjadi penangkapan 4 orang aktivis dan ditetapkan sebagai tersangka.
Darurat demokrsi pun terjadi di bumi papua, semua gerakan/aktivitas Pembukaman ruang demokrasi dan penangkapan aktivis LSM, dan aktivis mahasiswa, dan semua gerakan sipil yang mau melakukan Protes terhadap ketidakadilan demokrasi di papua. sangat kental terjadi yang di praktekan oleh Negara Republik Indonesia terhdap orang papua .
Praktek kekerasan dan pembungkaman ruang demokrasi yang terjadi belakangan ini di Papua sangat kompleks. Sebagai contoh adanya oenangkapan aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB), dengan jumlah massa aksi yang kisaranya mencapaii 1000 lebih Massa di seluruh papua pada 13 Juli 2016 sekarang tanpa bukti dan alasan yang jelas.
Pembungkaman ruang demokrasi dan penangkapan aktivis juga di Alami oleh Aliansi Mahasiswa papua (AMP) di jawa dan Bali pada tanggal 15 juli 2015 di Malang, dalam Aksi tersebut 32 Aktivis dan Masa aksi papua di Tangkap Oleh Kaki tangan resim Negara Indonesia, dengan Alasan Tidak Ada surat izin Aksi.
Sebelumnya, pada tanggal 1 juli 2016 juga sempat terjadi pembungkaman di kota malang. Pembungkaman terwujud dari adanya pembubaran paksa terhadap massa aksi oleh ORMAS FKPPI dan Pemuda Pancasila. Beberapa hari kemudian juga pembungkaman kembali terjadi di Surabaya pada tanggal 14 jui 2016. Aksi damai yang dilakukan kembali di bubarkan dengan alasan tidak dikeluarkannya STTP (surat tanda terima pemberitahuan), dengan situasi yang makin represif oleh Negara terhadap gerakan rakyat, di butuhkan gerakan masif dari rakyat karena musuh yang kita lawan adalah usuh bersama yaitu sistem yang menindas serta menghisap rakyat oleh karena itu Solidaritas Untuk Papua (SUP) menyatakan sikap:
1. Hentikan tindakan represivitas terhadap gerakan rakyat
2. Hentikan kriminalisasi dan bebaskan aktivis gerakan rakyat
3. Hentikan kekerasan terhadap aktivis gerakan rakyat
4. Hentikan diskriminasi rasial terhadap gerakan rakyat
5. Tangkap, hukum dan adili pelaku kekerasan terhadap aktivis
6. Hentikan pembungkaman terhadap ruang demokrasi di indonesia
7. Buka ruang demokrasi seluas-luas nya di Indonesia

SURABAYA 28 JULI 2016
KONFRENSI PRES DI ASRAMA ALIANSI MAHASISWA PAPUA JL KALASAN 10 SURABAYA.
Konfrensi pers (press conference) dilakukan pada hari kamis jam 16.00 oleh AMP dan FMN di asrama mahasiswa papua Jalan Kalasan No 10 Surabaya. Konferensi pers yang dilakukan, terus dipantau oleh pihak kepolisian di area luar asrama. Kegiatan konferensi pers di akhiri dengan pembacaan press release oleh kawan Hendrik dari AMP (Aliansi Mahasiswa Papua).

Pengetahuan Agama, Umum

Tuhan Menciptakan segala sesuatu tidak ada yang Cuma-cuma

Pada suatu hari seekor anak anjing berjalan-jalan mengelilingi peternakan tuannya. Ketika ia berjalan mendekati kandang kuda, terdengar suara kuda memanggilnya. “Apakah kamu penghuni baru di sini? Kamu perlu tahu bahwa tuanmu sangat mencintai aku, karena aku menarik muatan baginya. Binatang seukuran kamu sama sekali tidak berguna baginya.”

Anjing ke

cil menundukkan kepalanya dan pergi menjauh. Ia mendekati kandang sapi. Sapi berkata, “Aku mempunyai kedudukan terhormat di peternakan ini karena para ibu membuat mentega dan keju dari susuku. Kamu tidak menghasilkan apa-apa bagi keluarga ini.”

“Hai, lembu. Posisimu tidak lebih tinggi daripadaku,” tukas seekor biri-biri. “Aku menghasilkan kain wol untuk pakaian. Aku memberikan kehangatan bagi seluruh keluarga. Memang benar tentang kamu, hai anjing kecil. Kamu tidak memberikan apa-apa kepada tuanmu.”

Satu demi satu, semua binatang bercerita tentang kehebatan mereka. Ayam bercerita bagaimana ia memberikan telur. Kucing memberantas tikus. Namun demikian, semua binatang menyetujui satu hal bahwa si anjing kecil sungguh tidak berharga dan tidak berguna bagi tuan mereka.

Karena celaan dari aneka binatang itu Popi, nama anjing kecil itu, menyembunyikan diri dan menangis meratapi dirinya. Kebetulan ada seekor anjing tua yang mendengar tangisannya. Si Popi bercerita lalu berkata, “Mereka semua benar, memang saya tidak berguna.”

Anjing tua angkat bicara, “Ya, benar. Engkau terlalu kecil untuk menarik kereta. Engkau tidak mungkin memberikan telur, susu, atau wol. Tapi engkau bodoh kalau kau menangis dan tidak berbuat apa-apa. Engkau harus menggunakan kemampuan yang telah Tuhan berikan untuk membawa keriangan dan kebahagiaan.”

Sore hari, Tuan rumah pulang dengan sangat letih karena perjalanan panjang yang melelahkan. Popi yang kecil berlari-lari kecil di hadapan tuannya, melompat ke sana ke mari, dan menjilat-jilat kaki tuannya.

Sang tuan merasa senang sekali. Kemudian, sambil membopong dan mengelus-elus kepala Popi, sang tuan rumah berkata, “Halo, anjing manisku. Betapa lelahnya ketika aku pulang tapi saat ini aku merasa gembira setelah melihatmu menyambutku. Aku tidak mungkin menukarkan kamu dengan binatang lain.”

Janganlah berkecil hati. Kita semua berguna bagi orang lain sesuai dengan kelebihan dan kekurangan yang telah Tuhan berikan bagi kita.

Umum

Siapa yang Teman Sejati

Ada sebuah pohon yang sedang berbuah lebat, buahnya terlihat kuning keemasan sangat menggiurkan.
Seekor burung jalak terbang ke pohon tersebut, dengan suara keras berteriak memuji pohon tersebut.
“Pohon yang subur, engkau terlihat indah dengan buah-buah pohon ini.”
Pohon setelah mendengar pujian tersebut berkata kepada burung jalak, “Teman, tinggallah ditempat saya!.”

Kemudian, seekor burung kenari terbang ke pohon ini, menghadap pohon ini sambil bernyanyi, “Pohon ini sangat hijau, buahnya sangat wangi, sangat bagus”
Pohon berkata kepada burung kenari ini, “Jika engkau ingin memakan buah, silahkan ambil saja!”

Seekor burung pelatuk terbang ke pohon ini, dia mematuk-matuk disana sini di badan pohon buah, membuat pohon buah sangat kesakitan, sambil menjerit kesakitan berteriak kepada burung pelatuk, burung pelatuk berkata, “Saya melihat di dalam tubuh anda ada seekor ulat, saya ingin mematuknya keluar, jika tidak, maka anda akan sakit dimakan ulat…”

Si pohon dengan marah berkata, “Omong kosong, engkau mematuk saya, sengaja ingin membunuh saya, cepat pergi dari sini!”, burung pelatuk akhirnya terbang pergi.

Tidak berapa lama kemudian, pohon menderita sakit, daunnya berubah kuning kemudian gugur.

Akhirnya dahannya juga layu, tidak bisa berbuah lagi.

Burung jalak terbang meninggalkannya.., burung kenari juga tidak datang bernyanyi lagi..

Pada saat ini burung pelatuk datang lagi, walau bagaimanapun pohon menjerit kesakitan dia tidak peduli, mematuk terus sampai seluruh ulat ditubuh pohon terpatuk habis.

Beberapa waktu kemudian, pohon ini tumbuh kembali, daun-daun hijau mulai terlihat, kemudian berbuah lagi.

Pada saat ini, pohon dengan perasaan terharu berkata, “Yang bernyanyi dan memuji anda belum tentu adalah seorang teman, tetapi yang bersedia menunjukkan kekurangan Anda, juga bisa membantu Anda, inilah teman sejati.”

Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah. Ams 27:6

Kisah Hidup, Pengetahuan Agama

JANGAN MEMANDANG ORANG KERANA STATUS

Bacaan Alkitab : Yakobus 4:1-10


Banyak orang yang mengambil hati orang dermawan, setiap orang bersahabat dengan si pemberi. Orang miskin dibenci oleh semua saudaranya, apalagi sahabat-sahabatnya, mereka menjauhi dia. Ia mengejar mereka, memanggil mereka tetapi mereka tidak ada lagi. (Amsal 19:6-7).

 

Bagi kita yang bekerja di sebuah perusahaan, tentu mengenal rekan-rekan kerja kita. Dan biasanya kita akan sangat dekat dan akrab dengan rekan-rekan kerja yang satu divisi/departemen dengan kita. Tentunya kita juga mengetahui nama dari rekan-rekan kerja kita.

Di sebuah perusahaan advertising, ada seorang pemuda bernama Anto. Dia bertugas mendistribusikan surat untuk para staf di perusahaan itu. Pekerjaannya terlihat sangat sederhana. Apa lagi jika dibandingkan dengan copywriter, art design, marketing yang dianggap penting karena memberi kontribusi lebih nyata pada perusahaan.

Mungkin karena itu, keberadaannya sering diabaikan. Tak banyak yang tahu namanya. Mereka hanya mengenalnya sebagai si pembawa dokumen. Hingga suatu kali, Anto tidak masuk selama beberapa hari. Tak urung, kantor jadi kacau karena surat tidak dapat terdistribusikan dengan baik.

Dalam keadaan seperti itu, barulah orang merasakan betapa pentingnya kehadiran seorang Anto.

Tanpa disadari, kita seringkali kurang memperhatikan rekan kerja yang bagiannya lebih rendah. Mungkin, karena kita menganggap bergaul dengan mereka tidak banyak membawa keuntungan.

Manusia seringkali menghargai seseorang karena statusnya. Padahal status itu hanyalah buatan manusia dan tidak kekal. Sedangkan di hadapan Tuhan status kita adalah sama, yaitu anak-anak-Nya yang berhak menerima keselamtan karena cinta dan belas kasihan Allah.

Jadi, rasanya tidak layak jika kita tidak menghargai orang lain hanya karena statusnya lebih rendah dari kita. Tuhan senang dengan orang yang rendah hati. Marilah kita mengasihi dan memperhatikan sesama kita, tanpa memandang statusnya.

JANGAN MEMANDANG ORANG LAIN HANYA SEBATAS KULIT LUARNYA SAJA,

KARENA ITU ADALAH KEBODOHAN YANG SANGAT MEMALUKAN.

Kisah Hidup, Pengetahuan Agama

“Apa yang kamu tabur, itulah yang akan kamu tuai.” (Gal. 6:7)

Seorang CEO hendak mewariskan perusahaan besar kepada karyawan terbaiknya.

Untuk itu Ia memanggil seluruh karyawannya, memberikan masing2 sebutir BENIH di tangannya dan berkata
“Sirami dg teratur, rawat & kembalilah setahun dari sekarang dg membawa tanaman yg tumbuh dari benih ini. Yg TERBAIK, pemiliknya akan menjadi penggantiku sebagai CEO perusahaan ini.”

Seorang karyawan, Toni plg kerumah. Setiap hari benih itu ia siram dg air dan diberinya pupuk. Stlh 6 bulan, di kantor semua saling membicarakan tanaman mereka, sedangkan Toni melihat “TIDAK ADA PERUBAHAN” yg terjadi pada benih miliknya
IA MERASA GAGAL

Setelah 1 thn, seluruh eksekutif menghadap CEO memperlihatkan hasil benih tersebut.
Toni berkata pd istrinya bahwa ia tidak akan membawa pot yg kosong,
Namun istrinya mendorong untuk menyatakan yg sebenarnya.
Toni menyadari bahwa istrinya menyarankan HAL YANG BENAR

Masuk ruang meeting , Toni membawa pot kosong
Seluruh mata memandangnya kasihan
Ketika CEO masuk ruangan Ia memandang keindahan seluruh tanaman itu , hingga akhirnya berhenti didepan Toni yg tertunduk malu
Sang CEO memintanya ke depan & menceritakan kronologisnya

Ketika ia selesai cerita, CEO berkata
“beri tepuk tangan untuk Toni , CEO yg baru”

Ia berkata
“Aku memberi benih itu , yg sebelumnya telah KUREBUS DI AIR PANAS hingga mati & tidak mungkin tumbuh lg. Karena benih itu tdk tumbuh berarti kalian menukarnya & berbohong padaku. Lain dg Toni dia mau berkata dg sejujurnya”

Jika Anda menanamkan kejujuran, Anda akan menuai kepercayaan.
Jika Anda menanam kebaikan, Anda akan menuai sahabat-sahabat.
Jika Anda menanam kerendahan hati, Anda akan menuai kebesaran.
Jika Anda menanam ketekunan, Anda akan menuai kepuasan.
Jika Anda menanam pertimbangan, Anda akan menuai perspektif.
Jika Anda menanam kerja keras, Anda akan menuai kesuksesan.
Jika Anda menanam pengampunan, Anda akan menuai perdamaian.
Jika Anda menanam iman di dalam Kristus, Anda akan menuai tuaian.
Jadi berhati-hatilah dengan apa yang Anda tanam sekarang; hal itu akan menentukan apa yang akan Anda tuai kemudian nanti. Dua ribu tahun yang lalu, Paulus menulis kepada jemaat di Galatia kisah yang sama tetapi dengan kata-kata yang lebih singkat, “Apa yang kamu tanam, itulah yang akan kamu tuai.” (Gal. 6.7)

Silahkan dibagikan, Tuhan Yesus mengasihi dan memberkati Anda selalu..